List of feeds URL

Liverpool 1 – 1 Everton: Tampil Dominan Tidak Cukup Beri The Reds 3 Poin

Author: Daniel Tjirbon (twitter: @daniel_tjirbon)

The Reds Liverpool gagal menuai tiga poin yang sudah di depan mata kala menjamu Everton dalam derby Merseyside. Pelanggaran yang dilakukan oleh Dejan Lovren di akhir laga berujung hadiah penalti penyama skor untuk tim tamu.

Dominasi Bola Liverpool vs Dominasi Ruang Everton

Liverpool langsung tancap gas dari menit awal dan berinisiatif untuk menguasai ball possesion. Hal itu klasik dan lazim buat tuan rumah yang unggul dari sisi materi pemain. Sebaliknya Everton berencana untuk bertahan cukup dalam di area sendiri dengan formasi 4-4-2.

Tapi The Reds tidak segampang itu mengacak-acak pertahanan Everton. Tidak bisa tembus jalur tengah, Liverpool terpaksa gunakan jalur sayap untuk bisa melakukan penetrasi. Sisi kanan Liverpool menjadi favorit untuk menusuk pertahanan lawan dan di sana lebih banyak terjadi kombinasi dibanding dengan sisi kiri.

Everton terapkan mid-low blok dan zonal marking buat meredam agresifitas serangan tim tuan rumah. Everton Membiarkan Liverpool untuk menguasai bola, menunggu lawan melakukan kesalahan, lalu melakukan serangan balik. Ciri khas Sam Allardyce.

Ada beberapa yang mungkin menarik dari cara bertahan Everton.

1. Di posisi bek kiri, Everton memainkan Martina yang seorang bek kanan (berkaki kanan). Entah karena kehabisan stok bek kiri atau sengaja menempatkan bek kiri berkaki kanan agar lebih efektif untuk menjegal gerakan cut-inside (masuk ke dalam) dari Mohammad Salah.

2. Saat bek sayap harus mengamankan sektor sayap, bek tengah terdekat tidak melakukan cover. Dengan ini, area halfspace jadi terbuka. Tapi hal itu tidaklah masalah, gelandang sayap dan gelandang tengah terdekat sudah siap untuk meng-cover-nya.

 

Area halfspace yang terbuka, di-cover oleh gelandang sayap (dan gelandang tengah terdekat).

3. Satu striker, Niasse, turun menjaga area sayap, membentuk formasi 4-5-1. Situasi ini terjadi saat dua baris bek dan gelandang dipaksa untuk menyempit ke tengah ataupun tertarik ke salah satu sisi.

Terkait:  Catatan Laga Timnas U19 Lawan Laos U19

Singkatnya, organisasi bertahan tim tamu terbilang rapi dan tanpa cela. Sampai akhirnya di sekitaran tepi kotak penalti, Salah memecundangi Martina, lalu cepat-cepat lepaskan tembakan keras dengan kaki kirinya. Bola meluncur deras ke kanan gawang Everton. Skor berubah menjadi 1-0 dan Salah mencetak gol yang spektakuler.

Beberapa saat setelah gol, Liverpool mendapatkan lemparan ke dalam. Terjadi disorganisasi atau miskomunikasi. Salah satu bek tengah Everton naik ke depan untuk mencoba mengintersep, tapi gagal dan meninggalkan lubang yang telat di-cover oleh tiga bek lainnya. Disorganisasi ini berbuah peluang emas buat Sadio Mane, tapi sayang tidak jadi gol. Mane bisa dikatakan cukup egois, padahal ada tiga temannya yang bebas.

Cara menyerang Everton

Di momen transisi, secepatnya Everton mengirim umpan jauh ke striker yang berlari melebar di sekitar halfspace dan sayap. Transisi dari bertahan ke menyerang dengan menggunakan umpan jauh kepada 2 striker ini relatif berhasil mengeluarkan Everton dari tekanan dan tentunya sebagai senjata serangan balik.

Di momen posesion pun, Everton memainkan umpan panjang. Diarahkan kepada enam pemain di depan, yaitu empat gelandang yang bermain menyempit dan dua striker sebagai target.

Meski keenam pemain everton membentuk semacam heksagon, cara ini kurang berhasil karena pemain-pemain Liverpool masih bisa mengantisipasi dan memenangkan bola kedua atau bola liar. Tapi keuntungan dari bentuk heksagon ini adalah jika bola kedua atau bola liar tidak didapat, Everton bisa langsung lakukan counterpress untuk merebut bola lagi, karena jarak yg relatif berdekatan.

Keadaan masih 1-0 jelang rehat. Liverpool masih mendominasi penguasaan bola. Sedangkan Everton masih bisa memproteksi ruang-ruang strategis untuk menghambat Liverpool, tapi di saat yang bersamaan masih belum bisa melancarkan serangan balik secara efektif.

Terkait:  Catatan Laga Timnas U19 Lawan Vietnam U19

Angin yang sebenarnya tidak berembus kencang ke kubu Everton

Di paruh kedua Sam Allardyce melakukan dua pergantian pemain. Lennon menggantikan Niasse,  yang hal ini membuat Rooney didorong ke depan menjadi striker dan Lennon si pelari cepat tentu saja sekarang mengisi posisi wing kanan. Sedangkan Schneiderlin menggantikan Davies.

Everton lalu mengambil inisiatif untuk lebih agresif ketika bertahan. Mereka menaikkan blok pertahanan 4-4-2 yang dipakai. Dua striker ditugasi untuk mengisolasi Henderson dan membiarkan salah satu bek tengah bebas. Perubahan ini ternyata bisa membuat build up Liverpool jadi terganggu.

Klopp pun merespon situasi ini dengan menggunakan struktur build up 2-2 (Dua bek tengah bersama Henderson & Milner). Selain itu, untuk bisa mengakses pemain tengahnya, Liverpool juga memainkan up-back-through untuk bisa progres ke depan. Untuk memainkan up-back-through ini, Mane turun ke bawah untuk kemudian dipantulkan kepada Henderson, yang kini bebas dari cover shadow Rooney.

Sekalinya press lini pertama Everton bisa ditembus, Everton perlahan turun dan turun semakin dalam.

Rintik-rintik salju masih menghujani Anfield, skor masih 1-0 untuk Liverpool dan Everton belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk bisa bangkit. Angin dingin masih berembus kencang ke arah kubu Klopp.

Sampai akhirnya angin berubah haluan dengan cepatnya, sebuah pelanggaran tidak perlu oleh Lovren kepada Calvert-Lewin membuahkan penalti buat Everton. Rooney maju sebagai algojo dan menyamakan skor menjadi 1-1.

Klopp bergegas memasukkan Coutinho dan Ings, gantikan Ox Chamberlain dan si jangkung Solanke. Tak lama, Everton balik bereaksi, Jagielka masuk untuk menggantikan Rooney dan Everton pun mengubah formasinya menjadi 5-4-1. Kini Everton bermain sangat pasif dan turun sangat dalam.

Meski sudah ganti ke formasi 5-4-1, bek tengah terdekat Everton tidak meng-cover bek sayapnya yang melakukan pressing. Cover area halfspace lagi-lagi dilakukan oleh barisan gelandang. Empat gelandang Everton bekerja sangat keras untuk meng-cover zona-zona krusial, selain juga meng-cover pergerakan dari pemain second line Liverpool yang coba masuk ke dalam kotak penalti.

Terkait:  Belajar Taktik: High Pressing 4-3-3 Dengan Kontrol Ruang

Sementara tiga bek tengah Everton lebih fokus amankan kotak penalti dari bola-bola lambung tuan rumah. Banyak bola-bola liar di depan gawang Everton memang, tapi kesemuanya membuat gigit jari para Liverpudlian.

Kalau saja Mane tidak egois saat mendapatkan peluang di babak pertama tadi, skor bisa melebar menjadi 2-0, yang akan membuat The Reds sangat nyaman. Dan kalau saja Lovren tidak membuat pelanggaran konyol, Klopp tentu sudah bisa tidur nyenyak di malam dingin yang behujan rintik-rintik salju itu.

 

Apa Pendapatmu?