List of feeds URL

Kegamangan Garuda Muda Di Rumah Sendiri

Author: Nurgilang Agus Dejan (twitter: @gildeee)

Ada dua kemungkinan yang membuat antusiasme masyarakat Kota Delta, sebutan Kabupaten Sidoarjo, membludak tatkala menyaksikan Tim Nasional junior yang notabene tak ada nama-nama tenar berlaga di Gelora Delta Sidoarjo.

Pertama karena Delta Mania, pendukung dari Deltras Sidoarjo, merindukan atmosfer tertinggi sepakbola nasional, mengingat The Lobster musim ini harus terjerembab ke Liga 3. Kedua, karena ingin mengulang kenangan manis Evan Dimas cs saat menjuarai AFF U-19 pada tahun 2013 silam.

Apapun alasannya, euforia yang dihadirkan oleh pecinta sepakbola nasional di Jawa Timur ini patut diapresiasi. Khususnya bagi Delta Mania yang merupakan kelompok suporter terbesar di Sidoarjo. Mereka selalu welcome terhadap suporter manapun yang ingin menyaksikan Tim Nasional bertanding di kota mereka. Tak pelak jika kemudian Bonek Mania (Surabaya), LA Mania dan Curva Boys (Lamongan), Ultras Mania (Gresik), MP Mania (Mojokerto), hingga Aremania (Malang) bersatu menanggalkan atribut kecintaan terhadap klubnya masing-masing.

Terhitung sejak awal Juli lalu, intensitas nasionalisme di sana lebih tinggi. Kebetulan Asprov PSSI Jawa Timur mendapat mandat untuk menggelar AFF U-19 yang telah selesai pada 2-14 Juli lalu dan AFF U-16 yang kini tengah berlangsung, 22 Juli-11 Agustus 2018. Sebetulnya terdapat dua venue pertandingan AFF U-19 dan U-16 ini, namun pertandingan untuk tuan rumah digelar seluruhnya di Gelora Delta Sidoarjo.

Terlepas dari kenangan manis 2013 lalu dan membuat stadion ini dijuluki rumah bagi timnas junior, Gelora Delta Sidoarjo (GDS) memang memiliki kualitas di atas standar yang telah ditentukan. Sejak direnovasi pada tahun 2011 silam, fasilitas yang dimiliki GDS cukup baik. Rumput, pencahayaan, kapasitas (35.000 penonton), hingga saluran drainase yang baik.

Dari laporan panitia pelaksana (baca: Panpel) pertandingan, hingga match ke-2 AFF U-16 terhitung tak kurang dari 8.000 tiket ludes terjual. Sebelumnya animo masyarakat yang ingin menyaksikan langsung aset sepakbola Indonesia ini lebih gila lagi, 25.000 pasang mata lebih menyaksikan Todd Ferre cs. Artinya, stadion Gelora Delta tak pernah sepi penonton di dua gelaran AFF U-19 dan U-16 ini.

Namun ribuan pasang mata yang hadir di GDS tak datang begitu saja, mereka tentu saja membawa harapan: Ingin melihat bibit sepakbola Indonesia bermain cantik, tak ingin kecewa (kalah), bahkan mereka menuntut lebih. Tidak hanya ingin merayakan selebrasi gol, tetapi juga melakukan selebrasi juara.

Dukungan yang awalnya menjadi sorum penyuntik semangat, bisa saja berbalik menjadi beban bagi pemain yang masih hijau. Law of the game pertandingan tentang durasi waktu bermain (2×40 menit) agaknya bisa jadi penegas bahwa Sutan Zico dan kawan-kawan masih dalam lingkup pembinaan. Setiap kali menonton Timnas U-19 dan U-16 bertanding selalu muncul kegamangan dalam hati: Bagaimana beban mereka disaksikan ribuan pasang mata?

Karakter Buruk Sepakbola Indonesia

“Aku dibina dan dilatih di akademi La Masia bukan untuk menang dan juara. Tapi aku dibina dan dilatih untuk berkembang dan matang di setiap tahapan usiaku. Menang, kalah, seri, dan juara adalah bonus permainan. Biarkan anak-anak berproses merasakan pahit-manisnya pertandingan karena pertandingan itu sendiri sudah merupakan beban bagi mereka. Jangan bebani mereka harus menang dan juara”, Xavi Hernandez, gelandang legendaris Barcelona FC.

Terkait:  Evan Dimas: Skills, Positionings And Movements

Apa yang dikatakan sang maestro tiki-taka itu ada benarnya. Pembinaan pemain muda di Eropa dan Asia atau jelasnya Indonesia memang tak jauh berbeda secara garis besar. Ada tiga bagian: fun phase/fase bersenang-senang dengan bola (usia 6-12 tahun), formatif phase (usia 13-15 tahun), dan final phase (16-19 tahun). Perbedaannya mungkin hanya satu yakni soal target.

Jika di Eropa pembinaan pemain selalu berada dalam lajur “Bagaimana cara pemain berkembang?”, Sedangkan di Indonesia sendiri mayoritas masih primitif “Bagaimana cara menang?”. Ya, walaupun kita ketahui bersama setiap SSB/Akademi selalu dibungkus rapi oleh kata-kata “Pembinaan merupakan fondasi masa depan sepakbola Indonesia”. Sebagai stakeholder level Grassroots, penulis tahu betul bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan.

Kalau boleh berterus terang, pengalaman selama setahunan melatih di sebuah SSB mengajarkan bahwa proses, proses, dan progres hanya cara menyamarkan aib praktik pencurian umur yang masih marak terjadi disetiap turnamen demi melapangkan target juara. Mengapa demikian? Karena jika sebuah SSB berprestasi mereka akan lebih banyak diminati oleh anak-anak/orang tua siswa. Alasan lainnya adalah mengorbitkan pemain, jika mereka berhasil menelurkan/menyalurkan pemain ke klub besar (walaupun dengan malapraktik tersebut, red) SSB mereka akan punya nama.

Setiap terjadi praktik pencurian umur, hampir semua pelatih bungkam, seperti menutup mata dan tak mau ambil pusing. Alih-alih mengusut kasus, mereka malah kepanasan dengan dalil: mereka saja bisa melakukannya, kenapa saya tidak?

Jadi praktik hitam di akar rumput tidak pernah benar-benar hilang selama ini. Bak mafia bola yang kata kebanyakan orang seperti kentut, hanya terendus baunya tanpa bisa dilihat.

Kecurangan terus terjadi dan sulit dihentikan di mata rantai usia dini. Beberapa cara untuk menyikat kasus pencurian umur terus diupayakan. Adapun di even besar selalu ada pengecekan ketat. Salah satunya dengan tes MRI jelang turnamen. Namun tim dokter yang biasa ditugaskan men-screening kondisi pemain tidak sepenuhnya terintegritas, selalu ada cara untuk melakukan kecurangan. Sogok menyogok dan lain-lain.

Oleh sebab itu, tak heran jika kemudian tim usia dini kita selalu berprestasi di tingkat internasional. Toh pemain yang notabene umurnya sudah lewat 1-2 tahun dari batas yang telah ditentukan bertanding melawan pemain-pemain yang usianya dibawah mereka. Secara mental dan teknik jelas saja kita menang.

Dampaknya memang tidak langsung terasa, tapi di level berikutnya (senior, red), kita kerap nirprestasi dalam ajang apapun. Itu karena pemain yang jago di level junior tadi, kemampuannya stuck berkat pelatih yang menurunkan kualitas pemain tersebut dengan memanipulasi umurnya agar bisa bermain di level bawah.

Terkait:  Kedalaman Menyerang (Depth Attacking) Trio Gelandang Timnas PSSI U19

Karakter ingin menang dan juara sejak usia dini perlu kita ubah. Apapun alasannya, pencurian umur demi prestasi sebagai pemikat supaya lebih banyak lagi siswa yang masuk SSB atau karena ingin diakui sebagai SSB ternama. Hal tersebut tidak dapat dimaafkan karena selain mencoreng nilai-nilai sportivitas juga cukup mengganggu perkembangan sepakbola nasional.

Depresi Pada Remaja

Stress yang berkepanjangan merupakan salah satu penyebab depresi. Tuntutan orang tua menjadi salah satu alasan para remaja mengalami stress. Kita tentu pernah merasakan tekanan dari orang tua, salah satunya saat masih duduk di bangku sekolah. Mereka (orang tua) kerap meminta kita untuk lebih giat belajar supaya mendapatkan prestasi di sekolah.

Jika dipandang dari persepsi orang dewasa memang tak ada salahnya dengan tuntutan tersebut. Mengingat orang tua ingin anaknya beranjak lebih baik. Lebih-lebih prestasi belajar itu bisa dijadikan penopang untuk masa depan yang cemerlang. Namun, tidak semua anak-anak bisa berkembang dibawah tekanan orang tua. Karena karakteristik setiap anak itu berbeda. Ada yang berkembang di bawah tekanan, ada pula yang merasa terbebani dengan tekanan.

Menurut dr. Andri, SpKJ, FAPM, dari klinik Psikomatik RS Omni Alam Sutera, “Kalau orang tuanya bilang harus ada tekanan supaya berkembang, ini memang benar. Cuma kan harus tahu batasnya dimana, setiap orang mempunyai kemampuan mengatasi tekanan yang berbeda-beda. Kalau terus dipaksa ya anak akan stress dan depresi”, ungkapnya mengenai tekanan berlebihan terhadap anak.

Analogi stress di dunia pendidikan kiranya dapat sedikit dijadikan pembanding dengan apa yang saat ini tengah dirasakan penggawa Timnas muda kita. Boleh jadi mentalitas tim asuhan Fachri Husaini itu kini tengah menanjak. Namun, andai perjalanan mereka mulus menuju final atau sekurangnya sampai semifinal, tak ubahnya apa yang menimpa Egy Maulana Vikri dkk di AFF U-19.

Bagaimana rasa bersalah remaja tanggung itu karena tak sanggup memikul ekspetasi publik yang tinggi? Mudah saja memulihkan mental tersebut karena mereka seorang atlet terlatih. Akan tetapi, kekecewaan publik lebih sulit diobati, mereka kadung memasang harapan yang tinggi akan pemain muda kita.

Gamang Bersama Keresahan Arsene Wengers

Status media sosial publik sepakbola tanah air saat ini tengah memuji-muji tim Garuda Asia (Timnas U-16, red). Betapa tidak, penampilan Bagas Kaffa cs begitu memukau di dua pertandingan awal AFF U-16 2018 ini. Setelah melibas Filipina (8-0), mereka berhasil menekuk Myanmar (2-1) dipertandingan kedua fase grup.

Terlebih lagi mereka mampu menghibur dengan sepakbola proaktif. Di sinilah lagi-lagi ekspetasi publik membumbung tinggi. Hari ini penonton yang hadir lebih dari 8.000 dan kemungkinan besar berkat penampilan apik Timnas U-16, di laga selanjutnya harapan, tekanan, dan atmosfer bakal bertambah mengiringi anak-anak berusia dibawah 16 tahun ini.

Terkait:  Tiga Catatan Dari Tur Italia Timnas Indonesia U23

Entah kenapa, di tengah luapan euforia dan harapan dari Gelora Delta Sidoarjo, penulis malah merasakan kegamangan yang makin menjadi-jadi. Khawatir anak-anak muda itu terbebani, resah jika Andre Oktaviansyah bernasib sama seperti Martin Odegaard di Real Madrid yang tak kuasa menahan tekanan dan ekspetasi media. Atau Sutan Zico menjadi seperti Anthony Martial yang digadang-gadang menjadi pemain besar, tapi kesulitan menembus tim utama akibat tekanan berlebihan dari fans United.

Semua terasa begitu aneh, di tengah euforia yang berhasil dikonversi menjadi kemenangan demi kemenangan oleh Bagas Kahfi dkk, penulis merasa tak bisa berbaur dengan kebanggaan yang mereka milikki. Ada kekhawatiran yang berlebih, melihat harapan terus membuncah setiap pertandingannya.

Tiap pertandingan usai. Penulis kembali mencari Arsene Wengers yang resah terhadap tekanan pemain muda beberapa waktu silam. Memang dalam beberapa tahun terakhir kita melihat banyaknya pemain di usia belia mampu menembus tim utama sebuah klub besar. Pada satu sisi pemain tersebut menegaskan bahwa dia punya kualitas dan potensi yang mumpuni. Namun disisi lain, memperlihatkan bahwa di usia yang relatif muda, pemain tersebut sudah mendapat tekanan yang seharusnya tak dia dapati di usia tersebut.

“Orang tua memiliki ekspetasi tinggi dan memberikan tekanan besar untuk anak-anak mereka (pesepakbola). Anak-anak muda ini tidak dijaga secara maksimal. Mereka dalam tekanan besar untuk mendapatkan sukses secepat-cepatnya. Datang ke tempat latihan dengan rasa takut tak menjadi sukses tiap paginya”, ujar mantan pelatih Arsenal itu kepada Express.

“Apakah kita menganggap mereka spesial terlalu cepat? Terlalu cepat memberikan mereka pelatihan yang banyak dan tak ada kebebasan di dalamnya. Apakah kita mengisolasi mereka dari olahraga lain, bahkan dunia sosial?”, tambahnya.

“Saya mengembangkan hasrat pada permainan dengan menggunakan efek bosan anak-anak ini agar bisa dimanfaatkan dengan sesuatu yang positif. Sedangkan sekarang tekanan sudah sangat besar untuk pemain muda”, pungkas dia.

Ya, tak ada yang salah dengan tekanan. GDS telah bergemuruh, Sportcaster yang seharusnya mengedukasi pemirsa terus mengulang kalimat “Harapan juara harus tetap dijaga”, dan kita tak henti-hentinya mendoakan Tim ini mendapatkan bonus yang pernah Xavi ucapkan: menang/juara itu bonus!

Tapi, pernahkah kita memikirkan bagaimana cara mereka berlatih dengan euforia yang kelewat berlebihan dari masyarakat saat ini, apakah mereka berlatih normal seperti anak-anak di usianya? Sampai saat ini mungkin mereka masih bisa mengkonversi tekanan yang hadir menjadi kemenangan. Namun, dampaknya bisa kita lihat, berdasarkan pengalaman pemain muda yang dituntut untuk berprestasi, mereka selalu layu sebelum berkembang. Dari era Samsir Alam, Yongki Ariwibowo, Yandi Sofyan, sampai bahkan Egy Maulana Vikri yang saat ini tengah mengalami masa kelam di Lechia Gdansk.

Apa Pendapatmu?