List of feeds URL

Jejak-Jejak Abadi Para Tokoh Sepak Bola

Author: Katondio Bayumitra (twitter: @katondio)

Maybe i just wanna fly, wanna live don’t wanna die, Maybe i just wanna breath, maybe i just don’t believe. Maybe i you’ll the same with me, we see things that never see, You and i are gonna live forever.

Itu adalah penggalan lirik dari band Rock and Roll terkenal asal Inggris di era Britpop 90-an, Oasis, yang berjudul “Live Forever”. Sebuah lagu luar biasa yang ditulis oleh musisi luar biasa bernama Noel Gallagher, yang merupakan songwriter utama band Oasis. Penulis mungkin belum sepenuhnya paham mengenai arti dan makna sesungguhnya dari lagu ini. Namun, Live Forever jika diartikan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia, maka artinya adalah “Hidup Selamanya”.

Tunggu, mana ada orang yang akan hidup selamanya? Bukankah Tuhan telah mengatakan bahwa semua yang bernyawa di dunia ini pasti akan menemui kematian? Ya, penulis setuju dengan Tuhan. Oleh karena itu, secara pribadi, penulis mengartikan lagu ini dengan cara yang berbeda. Penulis tidak merujuk kata “Live” dalam Live Forever ke arah nyawa manusia, tetapi lebih ke arah karya yang dihasilkan manusia. Karya yang dihasilkan dari kerja keras dan pantang menyerah.

Kerja apapun, kapanpun, dimanapun, selalu berikan 100%” – Raditya Dika

Karya yang dihasilkan secara maksimal setelah memberikan 100% ‘diri’ dapat dikenang oleh banyak orang. Sekalipun manusia tidak dapat hidup sampai usia 100 tahun, tetapi karya yang dihasilkannya mungkin masih dapat dikenang selama 100 tahun lebih. Lihat saja betapa banyaknya bangunan-bangunan di berbagai belahan dunia yang masih awet dan terjaga meski usia bangunan tersebut sudah mencapai ratusan tahun. Itu adalah karya para arsitek dari zaman dahulu kala yang sekarang raganya sudah tiada, tetapi karyanya tetap ada dan dapat dinikmati oleh banyak orang di zaman sekarang, seperti dinikmati untuk dijadikan objek wisata, atau bahkan ada yang masih dapat berfungsi.

Terkait:  Gold Cup Tidak Sekedar Amerika Serikat Dan Meksiko

Kemudian, lihatlah betapa banyak orang yang masih suka mendengarkan lagu-lagu dari seorang John Lennon, Elvis Prestley, Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Bob Marley, Michael Jackson, dan lain-lain padahal raga mereka sudah tak ada lagi di dunia. Mereka yang menghasilkan karya luar biasa tersebut juga dapat menjadi inspirasi bagi manusia yang hidup di era sekarang untuk menghasilkan karya. Lalu, bagaimana dengan para tokoh sepak bola? Mereka yang sudah tiada pun masih terus dikenang oleh banyak orang, sebut saja Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Lev Yashin, Garrincha, Brian Clough, Ernst Happel, dan masih banyak lagi. Mereka dikenang karena jasa dan karyanya. Karya seperti apa?

Jika bicara karya, maka kita bicara keindahan dan dalam sepak bola, “gol”, bagaimanapun prosesnya, merupakan sebuah karya. Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas adalah contoh striker hebat pada masanya. Karya mereka, sebagai seorang striker, berupa gol-gol, bahkan ratusan gol yang tercatat dalam sejarah, dan berjasa besar membawa tim mereka masing-masing meraih gelar. Kemudian, siapa itu Garrincha? Ialah sang penemu tendangan ‘pisang’, sebuah karya indah sepak bola yang masih terus ada sampai sekarang dan membuat kita percaya bahwa sepak bola adalah sebuah keindahan.

Lev Yashin, ia berkarya lewat banyak penyelamatan yang ia lakukan karena karya indah sepak bola tak melulu soal jumlah gol dan bagaimana suatu gol yang dicetak, tetapi juga hadir melalui penyelamatan-penyelamatan dari para penjaga gawang. Uniknya, para penjaga gawang, termasuk Lev Yashin, berkarya dengan cara ‘mencegah’ permain lain berkarya (menciptakan gol). Kemudian, apresiasi atas karya sepak bola tak melulu hadir lewat kaki dan tangan para pemain, tapi juga dari ‘tangan dingin’ para pelatih atau manajer, seperti Brian Clough dan Ernst Happel.

Terkait:  Quote: Mourinho

Salah satu karya mereka, tentunya berupa “taktik”. Karya berupa gol dapat tercipta atau tidak dapat ditentukan oleh karya lain yang disebut taktik. Tentang cara sebuah tim untuk dapat menyerang dan bertahan dengan ‘sempurna’ adalah bagian dari taktik sepak bola yang merupakan karya dari para pelatih dan manajer hebat, yang dibantu para staff lainnya, atau bahkan pemain yang memberi masukkan. Mereka (para pelatih dan manajer) patut diapresiasi atas karya mereka yang berupa taktik tersebut, terutama jika mereka berhasil meraih prestasi dari taktik yang mereka bentuk.

Nama-nama yang penulis sebutkan di atas, yaitu Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Lev Yashin, Garrincha, Brian Clough, dan Ernst Happel kini sudah tiada. Namun, karya mereka dikenang dan ditulis dalam sejarah, serta berkat karya mereka, nama mereka pun diabadikan untuk beberapa nama penghargaan, nama stadion, dan bahkan sebuah patung. Kini, para tokoh-tokoh sepak bola yang hidup di era sekarang juga tengah berlomba-lomba dalam berkarya untuk menghasilkan prestasi.

Mereka terus bergerak, berpikir, dan tak pernah diam. Kenapa? Karena mereka mungkin menyadari bahwa diam itu dapat berarti mati, sedangkan manusia adalah makhluk hidup dan salah satu ciri makhluk hidup adalah bergerak. Dan sebaiknya pergerakan itu menghasilkan karya. Karya yang dapat dinikmati banyak orang dan dapat dikenang hingga waktu yang tak dapat ditentukan.

Pantang mati, sebelum ajal!” – Alm. Pepeng

Ernst Happel Stadium yang berada di Vienna, Austria. Stadium terbesar di Austria dan menjadi ‘kandang’ bagi tim nasional sepak bola Austria.

Ernst Happel Stadium yang berada di Vienna, Austria. Stadium terbesar di Austria dan menjadi ‘kandang’ bagi tim nasional sepak bola Austria.

Ernst Happel Stadium yang berada di Vienna, Austria. Stadium terbesar di Austria dan menjadi ‘kandang’ bagi tim nasional sepak bola Austria.

Alfredo di Stefano Stadium, ‘kandang’ dari tim Real Madrid Castilla.

Alfredo di Stefano Stadium, ‘kandang’ dari tim Real Madrid Castilla.

Trofi Yashin Award. Nama Lev Yashin diabadikan untuk nama penghargaan penjaga gawang terbaik.

Trofi Yashin Award. Nama Lev Yashin diabadikan untuk nama penghargaan penjaga gawang terbaik.

 

Trofi Puskas Award. Nama Ferenc Puskas diabadikan untuk nama penghargaan pencetak gol terindah.

Trofi Puskas Award. Nama Ferenc Puskas diabadikan untuk nama penghargaan pencetak gol terindah.

 

Patung Brian Clough yang berada di kota Nottingham. Sebuah penghormatan kepada pelatih tersukses sepanjang sejarah klub Nottingham Forest F. C.

Patung Brian Clough yang berada di kota Nottingham. Sebuah penghormatan kepada pelatih tersukses sepanjang sejarah klub Nottingham Forest F. C.

Foto sosok seorang Garrincha. Meski tak dibuatkan patung, atau namanya diabadikan menjadi nama stadion, tetapi Garrincha adalah salah satu legenda sepak bola Brasil dan dunia.

Foto sosok seorang Garrincha. Meski tak dibuatkan patung, atau namanya diabadikan menjadi nama stadion, tetapi Garrincha adalah salah satu legenda sepak bola Brasil dan dunia.

 

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Sumber: Wikipedia dan Google Images

Apa Pendapatmu?