List of feeds URL

Jacksen F. Tiago Dan Cerita Singkat Bersama Timnas

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Pertandingan melawan Irak di Stadion GBK menandai akhir dari era singkat Jacksen F. Tiago menahkodai Timnas Indonesia. PSSI sudah mengumumkan penggantinya yaitu Alfred Riedl, hanya beberapa jam saja sebelum kick-off pertandingan. Apa saja yang telah dikembangkan Jacksen untuk Timnas dalam situasi tidak ideal dan tanpa kepastian waktu dan kontrak ini?

Jacksen F. Tiago praktis memimpin Timnas mulai ketika melawan Belanda yang berakhir dengan kekalahan 0-3. Ketika Timnas menghadapi Arab Saudi sebelumnya, Jacksen masih berstatus sebagai asisten dari Rahmad Darmawan, yang juga hanya sebagai pelatih sementara. Di situs FIFA tercatat Jacksen memimpin Timnas dalam enam laga, dengan catatan dua kemenangan, satu draw dan menelan tiga kekalahan. Catatan gol yang dilesakkan sebanyak delapan dan kemasukan enam. Dari enam laga itu, Timnas melawan dua tim yang berada di level yang sama, yaitu Filipina dan Kyrgyzstan. Sisa lain pertandingan Timnas melawan tim yang di atas kertas berada satu atau dua level lebih baik yaitu Belanda, China dan Irak.

Dari sejak pertama kali ditunjuk, Jacksen dan tim pelatih tidak pernah dalam kondisi ideal untuk membentuk tim yang kuat. Dia memegang Timnas saat kompetisi ISL masih berjalan dan Federasi memutuskan hanya meminjam jasanya untuk Timnas dari Persipura. Jadi dia harus bertanggung jawab untuk dua tim sekaligus dalam satu waktu. Tidak ada kesempatan buat Jacksen memantau satu persatu pertandingan liga untuk mencari pemain yang cocok untuk skuad Timnas, kecuali dari tim yang sedang dihadapi Persipura. Tidak heran juga dia banyak memanggil pemain Persipura masuk Timnas untuk menjamin sistem yang digunakannya berjalan.

Dengan komposisi pemain yang hanya menebak-nebak, Federasi pun tidak memfasilitasi tim ini dengan ujicoba selayaknya keinginan membangun skuad yang kuat. Sempat sekali melawan Belanda, Timnas lalu di labeli Indonesia XI dan diadu di laga hiburan melawan Arsenal dan Liverpool. Timnas sempat bertemu Filipina, Kyrgyzstan dan satu klub dari Korea Utara dalam persiapan melawan China dan Irak di laga resmi. Hanya ketika melawan klub 25 April dari Korea Utara yang bisa dikatakan persiapan ideal, sisanya hanya untuk memantapkan kekompakan tim, karena tipe permainan yang berbeda dari dua tim yang akan dihadapi.

Terkait:  Epistemologi Messi

Dari tiga laga lanjutan Pra Piala Asia, Jacksen hanya membawa Timnas meraih satu poin dari hasil sekali draw ketika menjamu China di Jakarta, dua pertandingan lain berakhir dengan kekalahan. Tapi di dua laga ujicoba melawan tim yang selevel, Timnas berhasil membungkam Filipina dan Kyrgyzstan dengan kemenangan meyakinkan 2-0 dan 4-0.

Pondasi Dasar

Sejak melawan Belanda, Jacksen selalu memainkan tiga gelandang tengah di depan empat bek. Sedangkan untuk tiga pemain di lini depan, dia memakai dua variasi, dengan seorang trequartista dalam skema 4-3-1-2 atau dengan langsung tiga striker. Ketika memakai tiga striker sekaligus pun sebenarnya Jacksen mengharapkan sedikit peran trequartista untuk melakukan link-up serangan dari tengah ke depan dengan center forward-nya turun menjemput bola.

Dari proses untuk membuat sistem ini berjalan, Jacksen harus melalui beberapa laga dulu sebelum menemukan komposisi pemain yang tepat. Ketika melawan Belanda dan Arsenal, Jacksen gagal membuat tiga gelandang tengahnya bekerja dengan baik. Ketika melawan Belanda, trio tengah yang dipakai adalah Maitimo, Jufriyanto dan Wanggai. Sedangkan ketika bertemu Arsenal, Jacksen memakai Ian Kabes, Wanggai dan Jufriyanto. Dengan level lawan yang lebih baik, Trio ini kesulitan memposisikan diri dengan benar di depan empat bek ketika bertahan. Ketika menyerang, mereka juga kesulitan menjadi nyawa dari tim karena tidak terkoneksi dengan semestinya satu sama lain.

Ketika melawan Liverpool, Jacksen mencoba kombinasi trio lini tengah baru yang diisi oleh Taufiq, Bustomi dan Maitimo. Dan ini adalah cikal bakal motor utama Timnas ke depannya karena berhasil memberi keseimbangan baik ketika bertahan dan menyerang. Di pertandingan itu Timnas bisa membuat permainan Liverpool yang dikomandoi Steven Gerrard menemui tembok tebal di tengah. Akhirnya Timnas pun kalah dua gol, tapi gol kedua terjadi lewat counter attack setelah Timnas berhasil mengurung lawan lama dan mencoba membalas ketertinggalan dari klub legendaris liga Inggris itu.

Keseimbangan yang diperoleh Timnas dengan trio lini tengah ini berkat tipikal ketiganya yang biasa mengontrol serangan dari posisi yang cukup dalam. Taufiq dan Bustomi bertipe passer, sedangkan Maitimo melengkapi dengan power untuk duel fisik. Untuk membantu menusuk ke defence lawan, Jacksen memilih Ruben Sanadi dan Hasyim Kipuw, dua fullback yang agresif sekali naik membantu tiga penyerang di depan. Sistem ini menghasilkan tim yang cukup steril untuk menghadapi counter attack, karena ada dua bek tengah dan tiga gelandang yang mencoba menghalau.

Terkait:  Catatan Dari Pertandingan Timnas Lawan China

Strength And Weakness

Pondasi yang dikenakan Jacksen kepada Timnas termasuk sangat kuat. Melawan tim selevel seperti Filipina dan Kyrgyzstan, Timnas bisa mendapat semua kontrol yang diperlukan untuk memenangi pertandingan. Ketika menyerang, dua fullback yang naik bisa mendorong pemain depan masuk ke dalam, langsung menekan backfour lawan dan mencari ruang tembak. Di tengah, tiga gelandang yang dua diantaranya adalah passer, dengan nyaman mengontrol level attack Timnas biar tidak turun ke belakang. Jika harus bertahan, Maitimo dan Taufiq selalu well positioned. Mereka bergantian menutup space dari salah satu backfour yang melakukan pressing naik dan memaksa attack lawan turun.

Kelemahan Timnas baru tampak ketika melawan tim yang lebih baik, yaitu China dan Irak. Tapi kelemahan yang ada tidak terletak kepada sisi teknis, melainkan kekurangan dari tim pelatih menyiapkan skuad untuk menghadapi lawan yang di atas kertas lebih kuat. Dari tiga pertandingan melawan dua negara itu, Timnas selalu tertinggal di babak pertama. Masing-masing menderita satu gol ketika melawan China dan dua gol melawan Irak. Sedangkan dibabak kedua Timnas selalu bisa menekan balik dan membuat lawan bertahan total serta hanya bisa menyerang lewat counter attack.

Kurangnya ujicoba yang bersifat simulasi dengan mencari tipe lawan yang serupa membuat Timnas selalu kesulitan mengantisipasi lawan di babak pertama. Melawan China di Jakarta, di babak pertama Timnas memilih drop deep dan membiarkan lawan menghajar habis lewat flank. Sementara itu ketika tandang, Timnas memaksakan 4-3-1-2 untuk melakukan high up pressing. Yang terakhir melawan Irak, Timnas memakai dua pemain depan baru dan tidak memasang Bustomi yang berakibat tidak terkoordinasinya defence dari depan ke belakang karena pressing sama sekali tidak jalan.

Terkait:  Siapakah Pewaris Sejati Sir Alex?

Di babak kedua, Jacksen selalu tahu apa yang harus diperbaiki dari kesalahan di babak pertama. Indonesia selalu bisa menekan balik lawan dengan beberapa kombinasi taktik baru. Melawan China, berganti dari 4-3-1-2 ke 4-3-3 selalu memberi efek positif. Di pertemuan pertama perubahan formasi di sertai high up pressing berhasil membuahkan gol. Tapi sayang di laga kedua Timnas tidak melakukan high up pressing lagi dan China dengan nyaman bertahan dengan banyak pemain. Melawan Irak, yang dari awal Timnas sudah memakai 4-3-3, Jacksen membuat Timnas melakukan high up pressing di babak kedua. Unggul dua gol, Irak menumpuk pemainnya di belakang dan Timnas gagal terhindar dari kekalahan.

Melihat kecenderungan pertandingan Timnas seperti di atas, saya tidak bisa membayangkan jika Jacksen F. Tiago mendapatkan dukungan penuh dari federasi seperti kontrak penuh, tim analisa dan statistik seperti HPU di Timnas U19 dan juga ujicoba yang cukup seperti Timnas U23 untuk mengetahui sistem yang akan dipakai sudah bekerja atau tidak. Dengan semua fasilitas itu, tentu Timnas tidak harus selalu kehilangan kontrol di babak pertama. Dan serangan yang dilakukan pun akan bisa lebih efektif karena lawan tentu tidak akan bertahan total jika belum sempat unggul.

Yang terakhir, saya ucapkan banyak terima kasih buat coach Jacksen F. Tiago yang masih mau menangani pasukan garuda dengan segala keterbatasan yang ada. Pasti masih banyak ilmu dari coach Jacksen yang masih tersimpan dan belum sempat ditularkan ke pasukan garuda karena keterbatasan waktu. Pondasi dengan tiga gelandang tengah juga sangat cocok untuk Timnas senior. Mengalahkan China atau Irak kemarin, sekejap seperti dekat sekali menjadi kenyataan. Semoga lain waktu bisa lagi mengasuh Timnas dalam kondisi yang lebih baik dan saya yakin akan mendapatkan banyak prestasi.

 

Apa Pendapatmu?