List of feeds URL

Indonesia U19 2 – 1 Myanmar U19: Lebih Kaya Variasi Membuat Perbedaan

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Kemenangan kedua akhirnya bisa digenggam oleh skuad Garuda muda. Namun sesuai prediksi, mereka harus mendapatkannya dengan lebih berkeringat daripada pertandingan melawan Brunei. Skema kembar memaksa Timnas meningkatkan level permainannya dan mereka berhasil.

High Defensive Line, High Tempo

inamya

Setelah sukses membekap Brunei dengan 4-3-3 dengan high defense line, Indra Sjafri memakainya lagi di pertandingan kali ini. The winning team Timnas masih serupa, hanya Hargianto saja yang tidak ada lineup dan dia digantikan oleh Zulfiandi sebagai gelandang bertahan.

Myanmar juga menggunakan 4-3-3 dengan trio Maung Maung Soe, Aung Thu dan Si Thu Aung di depan. Sama seperti Timnas, mereka juga melakukan high defensive line. Maung Maung Soe yang ada di kanan mempunyai area main lebih luas dari Si Thu Aung di kiri. Dia bisa turun jauh melindungi fullback kanannya dan bisa cepat naik jika menyerang. Ini membuat Ilham Udin tidak terlalu berkembang walaupun beberapa kali Fatchurohman membantunya. Serangan Indonesia jadi lebih memanfaatkan sayap kanan yang ditempati Maldini.

Walaupun mirip namun ada perbedaan di beberapa role pemain. Trio pemain depan Myanmar cenderung lebih narrow dan dua fullbacknya bisa agresif naik sebagai solusi lebar lapangan. Sedangkan Indonesia melakukan pendekatan yang berbeda seperti yang saya tulis di artikel ketika melawan Brunei.

 

 

Pressing game langsung terjadi di awal laga. 4-3-3 kembar membuat situasi tiap pemain mendapat jatah man marking satu pemain lawan. Tiga forward menghadapi backfour lawan, spareman masing-masing tim ada di salah satu bek tengah bukan midfielder ataupun fullback. Sedangkan defence line tinggi yang dipasang masing-masing tim menjadikan tidak ada ruang kosong di tengah bagi tiap pemain untuk menerima bola tanpa bebas dari marking lawan.

Situasi yang ketat memaksa tiap pemain harus cepat memindah bola segera dan ini membuat tempo pertandingan menjadi sangat cepat. Seperti di laga melawan Brunei, Timnas tidak bisa mengontrol game dengan baik dengan tempo cepat. Tapi tiga pemain tengah yang cukup baik melakukan marking dan mencegah tidak sampai membuat kelemahan ini menjadi fatal.

Terkait:  Indonesia U19 2 - 0 Filipina U19: All Goal And Chances

Perubahan Taktik Timnas

Indra Sjafri sepertinya tidak mau Timnas dalam kondisi itu terlalu lama, menginjak menit kelima ada perubahan taktik dari Timnas. Entah sudah direncanakan sejak awal atau tidak, Zulfiandi memegang peranan penting dalam perubahan taktik ini. Ketika menguasai bola, Indra Sjafri mulai memisah Zulfiandi dengan dua rekannya di tengah, Evan Dimas dan Al Qomar. Zulfiandi tetap dekat dengan backfour dan dia memang lebih baik mengawal area sentral itu daripada Hargianto yang lebih baik dengan umpan-umpan tajamnya ketika menyerang. Sedangkan Evan dan Al Qomar dekat dengan tiga forward.

Di awal perubahan ini Myanmar kehilangan tekanan di depan karena tiga pemain tengahnya ikut turun mengikuti Evan dan Al Qomar. Dapat ruang, backfour Indonesia mulai mengirimkan bola langsung di belakang backfour Myanmar yang memang jadi ruang kosong sangat luas karena defence line tinggi yang dipakai. Di percobaan kedua Timnas mendapat gol manis dari Evan hasil umpan M. Sahrul.

 

Cukup menarik melihat Evan yang harus memainkan role berbeda daripada sebagai pembagi bola seperti di pertandingan sebelumnya. Diantara pemain yang naik untuk melakukan tes terhadap offside trap Myanmar, Evan lebih sering lolos daripada tiga pemain depan Indonesia. Dari posisi yang lebih ke tengah, Evan selalu berlari lebih dulu dari pada bek Myanmar yang harus menahan garis offside yang mereka bentuk. Disini kunci Evan bisa lolos dari jebakan offside dan memiliki momentum lari yang lebih cepat karena memulai lebih awal dari pemain lain.

Respon Myanmar

Pelatih Myanmar Gerdzeist Horst, merespon dengan menghilangkan offside trap-nya dengan menarik agak mundur salah satu bek tengahnya untuk mengantisipasi bola panjang Indonesia. Sedangkan tiga midfielder-nya tidak lagi terlalu turun mengikuti Evan dan Al Qomar tapi naik untuk memberikan tekanan lagi terhadap backfour Timnas ketika menguasai bola.

Terkait:  Liverpool 4 - 3 Manchester City: Klopp Sukses Mengganggu Build Up The Citizen

Perubahan ini cukup berhasil mengurangi akurasi bola panjang dari Timnas. Keberadaan satu bek yang berperan sebagai sweeper juga memaksa umpan panjang dari belakang Timnas lebih jauh yang akhirnya lebih dekat dan mudah diantisipasi kiper Myanmar, Myo Min Latt. Ada space yang luas antara bek dan tengah Myanmar tapi Timnas kesulitan memanfaatkannya karena pressing yang didapat pemain belakang menyulitkan Timnas untuk build up serangan dengan umpan pendek.

Set Pieces

Hal lain yang menjadi pembeda dari dua skema yang mirip ini adalah bagaimana cara mereka memanfaatkan set piece. Timnas tidak mau membuang peluang dari freekick atau cornerkick dengan terus dieksekusi set piece taker terbaiknya, Evan Dimas. Tercatat minimal empat peluang dan satu gol didapat Timnas dari set piece.

Di sisi lain walaupun dapat banyak freekick di area Indonesia, Myanmar membuangnya percuma dengan mencoba langsung menembak daripada mengumpan ke depan gawang. Tidak kaget kalau catatan shot Myanmar cukup tinggi walaupun hanya beberapa kali saja mereka mendapat peluang bersih. Sekali ketika dapat freekick di flank, mereka mengirimnya ke depan gawang Indonesia dan hampir menjadi gol.

Paulo Sitanggang

Keluarnya Al Qomar digantikan Paulo Sitanggang sedikit merubah laga. Di akhir babak pertama Paulo lebih ke kiri dan Evan bergeser ke kanan. Posisi Paulo juga kadang lebih di depan Evan dan akhirnya Evan tidak lagi bisa running in behind. Di Myanmar, Maung Maung Soe yang sebelumnya ada di kanan sekarang mencoba menghindari Paulo dan lebih sering bergerak ke tengah dan menggeser dua rekannya di depan lebih ke kiri. Myanmar mendapatkan dua peluang dengan mengoverload sisi kiri sebelum babak pertama berakhir.

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Di babak kedua Indra Sjafri mengubah posisi Paulo dan dia menggesernya ke tengah di belakang Evan yang kembali agak ke depan. Di tengah paulo lebih mudah bergerak ke kiri atau ke kanan untuk merebut bola dari Myanmar dan dengan kaki yang lebih segar dan fisik yang bagus dia melakukan tugasnya dengan baik. Karena butuh gol, Myanmar sendiri kembali menerapkan offside trap untuk bisa mendorong tiga pemain tengahnya naik melakukan pressing. Hal ini membuat Indonesia kembali bisa mendapatkan peluang dari bola panjang ketika berhasil lolos dari offside.

Keberadaan Evan yang kembali di depan bersama trio forward Indonesia membuat dua fullback Myanmar tertahan di belakang melindungi dua bek tengahnya. Tidak bisa menaikkan dua fullbacknya, serangan Myanmar menjadi narrow dan Zulfiandi yang berada persis di depan backfour Indonesia dengan baik memotong setiap serangan Myanmar.

Kesimpulan

Melihat para pemain dari kedua tim yang masih berusia di bawah 19 tahun yang harus menerapkan taktik yang cukup rumit serta bisa melakukannya dengan disiplin selama 90 menit membuat saya kagum. Yang menggembirakan Timnas berhasil menunjukkan bahwa mereka bisa bermain lebih daripada laga pertama. Lebih mempunyai inisiatif taktik dan lebih kaya variasi serangan menunjukkan level mereka memang lebih baik dari Myanmar. Tes selanjutnya melawan Vietnam yang sudah mengalahkan Malaysia dan Thailand akan sangat menarik.

Apa Pendapatmu?