List of feeds URL

Gol ‘Mutlak’: Ketika Penjaga Gawang Menjadi Tak Dianggap

&MaxW=640&imageVersion=default&AR-150729202
Author: Katondio Bayumitra (twitter: @katondio)

Standing in the hall of fame

And the world’s gonna know your name

‘Cause you burn with the brightest flame

And the world’s gonna know your name

And you’ll be on the walls of the hall of fame

-’Hall of Fame’ by The Script

Ada banyak cara untuk dapat dikenang sepanjang masa dalam dunia sepak bola. Salah satunya dengan cara menciptakan karya seni berupa gol, tetapi gol seperti apa yang layak disebut sebagai seni? Setiap orang pasti mempunyai pendapatnya masing-masing. Salah satunya, mungkin beberapa dari kita setuju bahwa gol ‘mutlak’ adalah seni dalam sepak bola.

Sebelum lanjut, mari kita samakan persepsi terlebih dahulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, “mutlak” dapat berarti “sepenuhnya”, “seutuhnya”, “tidak terbatas”, atau “tidak boleh tidak”. Jenis gol yang penulis anggap sebagai gol ‘mutlak’ dalam tulisan ini adalah terkhusus pada gol melalui tendangan dari luar kotak penalti, baik secara open play atau lewat set piece yang memiliki ketepatan untuk masuk ke gawang sebesar 99,99% (sisanya kehendak Tuhan).

Gol dari tendangan spektakuler Alexis Sanchez ke gawang Aston Villa pada partai final Piala FA 2015 dapat dikatakan sebagai gol terbaik pada pertandingan itu. Beberapa orang setuju bahwa gol tersebut bukanlah kebetulan karena posisi penjaga gawang Aston Villa, Shay Given, saat itu sudah dalam posisi yang ‘benar’, tetapi apa daya bola justru ‘melenting’ dan mengecoh penjaga gawang yang resmi berseragam Stoke City pada musim 2015/2016 itu.

Contoh lain, apakah kalian ingat gol tendangan ‘pisang’ legendaris nan spektakuler Roberto Carlos ke gawang Prancis pada kejuaraan tournoi de france tahun 1997? Saat itu, Prancis memiliki Fabian Barthez di bawah mistar, tetapi Barthez yang hebat pada masa itu hanya terdiam dan tidak mampu berbuat apa-apa. Penulis menyebut gol-gol semacam itu sebagai gol ‘mutlak’. Gol yang memang sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Mau sehebat apapun penjaga gawang lawan, jika bertemu dengan tendangan-tendangan seperti itu pasti jebol juga.

Terkait:  Terima Kasih Jose Mourinho

Mengapa penulis ingin membahas tentang gol ‘mutlak’? Hal ini didasarkan oleh keresahan penulis yang merupakan seorang fans Arsenal karena pergerakan transfer Arsenal baru sebatas mendatangkan penjaga gawang baru, yaitu Petr Cech. Kemudian, tiba-tiba banyak orang yang menyatakan kepercayaan dirinya bahwa Arsenal dapat juara EPL musim 2015/2016 karena telah memiliki Cech. Mulai dari penjaga gawang legendaris Arsenal, Bob Wilson, hingga banyak fans di Twitter menyatakan hal tersebut. Penulis sendiri sama sekali tidak meragukan kehebatan Petr Cech, walaupun usia penjaga gawang asal Republik Ceko tersebut sudah memasuki ‘kepala tiga’.

Penulis memiliki respect tersendiri pada sosok Petr Cech dan mengakuinya sebagai salah satu kiper terbaik dunia. Namun, Arsenal hanya baru mendatangkan satu pemain. Seorang penjaga gawang. Seorang yang memang penulis akui dapat menjadi game changer karena kepiawaiannya menjaga gawang, tetapi harus diakui juga bahwa penjaga gawang hampir tidak memiliki pengaruh terhadap penguasaan bola atau tempo permainan.

Jika suatu tim tidak memiliki penguasaan bola, maka besar kemungkinan tim tersebut akan mudah diserang dan ruang tembak lawan dapat semakin terbuka. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sehebat-hebatnya seorang penjaga gawang, akhirnya dapat bobol juga. Salah satunya melalui gol ‘mutlak’, seperti yang sudah penulis jelaskan di awal tulisan.

Penulis juga mengakui bahwa kemenangan juga tak melulu diraih dengan hanya mengandalkan ball possession. Kita tahu bahwa klub sekota dan rival Arsenal, sekaligus mantan klub Petr Cech, yaitu Chelsea sukses meraih gelar juara EPL musim 2014/2015, salah satunya dengan cara mengandalkan taktik ‘parkir busnya’. Sebuah taktik dimana suatu tim menjadikan bertahan sebagai filosofi mereka.

Kebetulan penulis menonton pertandingan Arsenal melawan Chelsea di Emirates Stadium musim lalu pada lanjutan EPL melalui layar televisi. Mungkin beberapa dari kita setuju bahwa Arsenal memegang penguasaan bola, tetapi justru cenderung sulit untuk menembus pertahanan kokoh Chelsea. Seakan mengalirkan bola ke dalam kotak penalti Chelsea tanpa terebut saja sulitnya bukan main. Hasil pertandingan berakhir seri tanpa gol, dan itu dapat menjadi bukti bahwa memang untuk menghindari kekalahan dan meraih kemenangan tak selalu harus dengan penguasaan bola.

Terkait:  Quote: Jurgen Klopp

Namun, apakah sekiranya tidak ada cara untuk menembus taktik ‘parkir bus’? Ada. Penulis berpendapat salah satu caranya adalah dengan mengandalkan gol ‘mutlak’. Seandainya Arsenal memiliki free kicker yang sangat handal atau memiliki pemain dengan tendangan jarak jauh akurat, mungkin Arsenal punya kesempatan menang lebih besar saat itu. Kenapa? Karena penjaga gawang sehebat apapun pasti memiliki sudut ‘lemah’. Entah di pojok kiri atas, kanan atas, kanan bawah, kiri bawah, atau lainnya.

Perlu juga diakui bahwa untuk mengantisipasi sudut ‘lemah’ itu, seorang penjaga gawang harus memiliki positioning yang bagus, tetapi teori itu dapat dipatahkan jika kembali mengingat gol dari Alexis Sanchez dan Roberto Carlos yang telah dibahas di awal tulisan.

Ya, kalau sudah begitu maka jelas tidak bisa jika hanya menyalahkan seorang kiper saja jika suatu tim mengalami kebobolan karena dibutuhkan kecerdasan, keberanian, dan akurasi yang baik (bahkan sangat baik) dari seorang pemain dalam melepaskan tendangan yang menghasilkan gol ‘mutlak’. Gol yang dapat membuat kiper sehebat apapun dapat terdiam lesu, dan terkesan menjadi terlupakan karena semua mata akan lebih tertuju pada si pencetak gol ‘mutlak’.

Apa Pendapatmu?