List of feeds URL

Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Pupus sudah asa Timnas U19 untuk lolos dari fase grup AFC Youth Championship U19. Mereka tidak mampu melewati hadangan Australia dan harus takluk dengan skor 0-1. Hasil yang sangat menyesakkan untuk tim yang bermimpi bisa ke pentas Piala Dunia.

Kekalahan kali ini cukup menyesakkan. Garuda jaya tidak seharusnya menelannya, karena Australia sendiri kesulitan mendapatkan peluang telak. Kebutuhan tiga poin karena tim sedang berada di dasar grup, membuat mereka harus mengambil resiko melakukan pressing agresif di area lawan.

Kombinasi antara through pass yang bagus dari Australia dan seketika hilangnya konsentasi dalam menyusun offside trap dengan defensive line tinggi, membuahkan satu-satunya gol pembeda di laga ini. Hal lain yang tidak menyenangkan adalah Timnas tidak pernah kebobolan dengan cara ini sebelumnya.

Tapi itulah harga yang harus dibayar jika bermain di level yang lebih tinggi. Gap level tiap peserta semakin menipis dan setiap detail kecil bisa mengirim tim yang kurang sigap ke lubang kenistaan. Oleh karena itu persiapan sebelum event digelar jadi begitu penting.

Kekurangan Pilihan Cara Menyerang

Masalah masih yang sama seperti sebelumnya, tim ini hanya mengetahui satu cara menyerang. Oleh karena itu mereka mengorbankan keseimbangan di babak kedua agar bisa memaksakan bola terus dimainkan di area lawan.

Australia tidak bermain seperti Uzbekistan sebelumnya. Mereka tidak berniat terlalu agresif mencuri bola di area lawan. Mereka cenderung menyusun high block sedikit di depan garis tengah. Jika terdorong mundur, 4-2-3-1 mereka berubah menjadi 4-4-2 dengan two banks of four yang cukup rapat dan narrow di depan kotak penalti.

Agak narrow-nya defensive shape yang dipakai ketika drop deep memang difungsikan untuk bertarung dan mengimbangi trio tengah Timnas yang kali ini dihuni Hargianto, Evan Dimas dan Paulo Sitanggang. Pendekatan ini sekaligus untuk menggiring serangan Timnas agar terus mengarah ke pemain sayap, yang juga hanya mendapat ruang sempit karena sudah berada di area attcking third.

Strategi ini berhasil mengontrol kecepatan aliran bola Timnas ke depan dengan ruang rapat yang tercipta di area mereka. Situasi ini sudah cukup membuat Garuda jaya mengalami deadlock di babak pertama. Mereka bisa mendorong masuk defence lawan, namun setelahnya buntu.

Australia Lebih Baik Dengan Bola

Situasi ketat yang dibuat Australia juga sebenarnya merugikan mereka, karena negeri kanguru ini juga membutuhkan kemenangan di laga ini. Tapi secara umum mereka lebih baik di babak pertama karena masih bisa membuat beberapa peluang, walaupun tidak bersih.

Australia bisa mengambil keuntungan dari cara mereka menyerang, dan sebaliknya Timnas tidak. Anak asuhan Paul Okon ini memainkan sepakbola yang terbilang cukup modern, dengan lebih memakai dua bek tengah untuk mendikte ball possession di area sendiri. Sedangkan tim asuhan Indra Sjafri lebih memakai tiga pemain tengah sebagai poros ball possession.

Dengan menitik beratkan penguasaan bola di pemain belakang, tiga pemain tengah bisa mengambil posisi lebih naik. Pemain tengah Timnas yang selalu memulai dengan man marking pun ikut terseret turun, dan akhirnya hanya Muchlis Hadi sendirian dalam situasi 1 v 2.

Terkait:  Timnas U23 Menelan Malaysia U23 Walaupun Sempat Limbung

Situasi sesak di tengah inilah yang membuat defensive line yang dikomandoi Hansamu Yama seringkali ikut menyesuaikan dengan lebih turun dari yang seharusnya. Selain itu, pemain Australia juga selalu bisa cepat mendapat jarak ideal antar pemain jika bola mulai dikirim naik.

Timnas tidak selalu mengikuti cara main Australia. Beberapa kali mereka coba melakukan pressure dengan menaikkan defensive line cukup tinggi. Karena sepertinya tim kanguru ini mempunyai supplier through pass yang bagus, beberapa kali mereka berhasil mengirimkan umpan di antara bek-bek Timnas. Through pass Australia ini yang di babak pertama menghasilkan peluang terbaik untuk mereka.

Mengambil Resiko High Press

Di babak kedua dengan hanya 45 menit tersisa, Timnas mengubah cara main karena mereka memang butuh gol. Beberapa pergantian pemain dilakukan, namun secara peran tidak ada perbedaan dari pemain yang masuk dan yang digantikan.

Dimas Drajat menggantikan Dinan Javier, yang di babak pertama sempat digeser posisinya dari winger kiri ke penyerang tengah. Septian David menggantikan Muchlis Hadi, yang juga mengalami pergeseran tempat di babak pertama, dari penyerang tengah ke winger kiri.

Timnas berusaha memapras beberapa tahap yang dipakai Australia menyusun serangan. Jika sebelumnya hanya Muchlis yang menghadapi 2 bek tengah lawan, sekarang harus ada satu pemain lain yang membantu penyerang tengah melakukan pressing, yang biasanya diperankan oleh Paulo Sitanggang.

Garuda jaya mengubah cara bertahan, dari yang menunggu di tengah menjadi lebih agresif melakukan pressing. Dengan lebih frontal memaksakan cara main, Timnas berhasil membuat laga sekarang dimainkan dengan cara mereka. Sekarang dua ball playing defender yang dipakai Australia menyusun serangan selalu dalam situasi tidak nyaman.

Ini mungkin satu-satunya solusi yang bisa dilakukan Timnas karena memang mereka punya kapasitas untuk melakukannya. Walaupun entah kapan terakhir kali Evan Dimas dan rekan sangat agresif melakukan pressing jika bertemu lawan yang kuat.

Mereka tidak mempunyai variasi menyerang yang bisa membongkar pertahanan rapat rival di areanya. Dengan merusak cara lawan menyusun serangan, Indra Sjafri berharap ketika timnya bisa mencuri bola, mereka hanya akan menghadapi Australia yang belum sempat menyusun defensive shape.

Mereka berhasil. Setidaknya lima peluang matang beruntun berhasil di dapat Evan Dimas dan kolega. Peluang mungkin akan lebih banyak jika kiper lawan tidak naik memotong beberapa through pass dan diagonal pass Timnas dari tengah.

Tapi strategi ini tidak gratis, alias ada harga yang harus dibayar di lini belakang. Defensive line harus dinaikkan untuk menopang enam pemain terdepan naik, sehingga tidak ada ruang terbuka di tengah. Ruang jadi ada di belakang backline dan kemampuan mengorganisir offside line menjadi vital.

Tim ini bukannya tidak mampu melakukannya dan justru bisa disebut cukup baik memainkan offside trap. Bahkan mereka mungkin satu-satunya Timnas yang kita miliki yang selalu memakai offside line untuk mengontrol kedalaman serangan lawan. Tapi di game ini ada pengecualian, satu blunder menyusun offside trap terjadi dan Australia dengan sempurna mengeksekusinya menjadi gol kemenangan.

Terkait:  Persib Goes To Asia: Mengukur Persiapan Persib Untuk Laga 16 Besar

Di sinilah level tim diuji. Semakin sempitnya jurang kualitas antar peserta, membuat kemenangan bukan lagi ditentukan siapa yang lebih bagus, tapi siapa yang paling sedikit membuat kesalahan.

Kembali Ke Persiapan

Seperti kutipan di catatan untuk laga pertama, tim ini tidak memiliki bekal yang cukup sampai deadline kickoff laga pertama berlangsung. Di level ini (yang masih level Asia), kita tidak bisa hanya punya satu cara menyerang dan berharap kesuksesan menghampiri.

Seperti ketika sebelum laga ini berlangsung, hampir di semua media memberitakan jika Timnas berlatih antisipasi bola atas Australia. Tentu itu hasil analisa tim pelatih jika lawan akan melakukannya. Kenyataan di lapangan, justru negeri kanguru lebih sering menusuk lewat through pass daripada crossing.

Lawan berhasil membuat Timnas salah menebak, tapi sebaliknya mereka menemui Timnas masih bermain dengan cara yang sama (terutama di babak pertama).

Jika sejak jauh hari tim ini sering menghadapi lawan selevel Australia, tentu pelatih bisa menyiapkan beberapa strategi lain jika tahu cara orisinil mereka tidak selalu bisa bekerja dengan baik. Sebenarnya tidak harus banyak, satu variasi saja seharusnya sudah bisa membuat lawan dilema.

Kemampuan pemain menerima instruksi ketika di lapangan cukup terbatas. Menyiapkan pemain untuk mengantisipasi dua strategi lawan sekaligus bukanlah hal yang mudah. Tapi masalahnya, Garuda jaya hanya punya satu cara dan lawan tidak harus menebak apapun.

Contoh kasus tentang keterbatasan pemain menyerap instruksi bisa dilihat dari hancurnya Timnas Italia di Piala Dunia lalu. Cessare Prandelli menyiapkan 3 formasi, 4-3-1-2, 4-3-3 dan 3-5-2 untuk tiap lawan yang akan dihadapi. Permainan Gli Azzurri bukannya berkilau tapi justru sama sekali tidak mempunyai karakter.

Pemain Italia walaupun dikenal intelejensia taktiknya kelas wahid, tetap tidak berkutik bila terlalu banyak instruksi yang diterima. Apalagi yang digarap Prandelli bukan lagi micro tactic atau cara main, tapi langsung ke formasi, pondasi dasar dari strategi dalam sepakbola.

Ribuan video match sebuah tim tersebar pun tidak akan berpengaruh jika tim mempunyai variasi, walaupun hanya satu variasi. Eksekutor dari kontra taktik yang dibuat pelatih lawan masih tetap pemain mereka. Semua tergantung sebaik apa pemain tersebut menerima banyak instruksi sekaligus, yang akhirnya seringkali tim lawan dipaksa menebak salah satu.

Tim pelatih Timnas sendiri sepertinya menyadari jika hanya punya satu cara main tidaklah cukup. Tapi sayangnya baru ketika melawan Barcelona B (dua minggu sebelum turnamen), mereka coba melakukan variasi. Dan bisa ditebak, mereka sama sekali tidak memakainya di dua laga awal karena masih mentah.

Taktik yang terlalu kaku dan kurang fleksibel juga turut berperan di kekalahan laga ini. Mungkin lebih disebabkan terlalu seringnya bertemu lawan mudah, sehingga melakukan perubahan kecil saat bertemu lawan kuat dikhawatirkan akan memantik resiko.

Terkait:  Jacksen F. Tiago Dan Cerita Singkat Bersama Timnas

Tercatat dua kali Fatchurohman berinisiatif melakukan overlap di babak pertama. Dari inisiatif yang dilakukan pemain berposisi fullback kiri ini sebenarnya sudah berhasil membuka deadlock serangan Timnas di area lawan. Setiap overlap yang dilakukan selalu membuat situasi berbahaya.

Australia memang membuat dua baris defence menyempit ke tengah jika di depan kotak 16 meter. Mereka melakukannya untuk membendung trio tengah Timnas yang memang selalu akan berotasi di area itu. Itulah mengapa overlap-nya Fatchu selalu efektif, karena akan selalu memaksa empat pemain tengah Australia melakukan transisi horizontal dan mengurai ruang di tengah.

Tapi sayangnya pelatih tidak cepat membaca situasi ini dan tidak membuatnya menjadi perubahan micro tactic untuk menjadi variasi yang seharusnya efektif. Fatchu tidak pernah lagi melakukannya. Ketika pemain asal Pasuruan ini naik, memang serangan balik Australia cukup berbahaya. Tapi karena ini tetap game 11 vs 11, seharusnya balance tetap bisa didapat dari menggeser pemain di pos lain untuk menutupnya jika fullback mempunyai kesempatan naik.

Ketidak siapan tim ini juga sangat terlihat setelah tertinggal. Mental pemain langsung drop (atau juga mungkin semua official di bench). Padahal seharusnya jika mereka bisa menyamakan kedudukan, peluang lolos sama sekali belum tertutup.

Waktu tersisa masih cukup untuk mendapat satu gol, apalagi momentum ada di tangan mereka setelah melakukan high press sejak awal babak kedua. Mereka memang kemasukan gol dari memakai cara ini, tapi lebih disebabkan individual error daripada kesalahan sistem.

Kurang kuatnya mental membuat tim ini kurang jernih membaca situasi, dan tentu saja masalah ini akan kembali lagi ke persiapan yang mereka lakukan.

Ini Baru Awal Bukanlah Akhir

Memang mimpi ke Piala Dunia U20 telah sirna untuk garuda-garuda muda ini. Tapi mereka harus tetap ingat jika mereka adalah pemain sepakbola. Indahnya sepakbola adalah selalu ada kesempatan lagi jika hari ini gagal, apalagi mereka masih sangat muda.

Tim ini masih sangat bagus dan diisi oleh personel yang mumpuni. Kekurangan di turnamen ini cuma dalam hal taktik dan mental yang dikarenakan persiapan yang kurang ideal. Mereka hanya butuh waktu lebih untuk menyelesaikan masalah ini.

Cukup memprihatinkan melihat para pemain harus menangisi kegagalan ini di lapangan. Mungkin juga hanya mereka lah yang menangisi ini sendiri. Padahal yang seharusnya bertanggung jawab adalah orang-orang yang menyusun persiapan untuk mereka.

Semangat ke piala dunia” jangan pernah dan jangan sampai padam, Garuda jaya!

Apa Pendapatmu?