List of feeds URL

Dusun Sepak Bola Gila

Author: Arvian Bayu (twitter: @arvianbayu)

Dalam begadang tiap tengah pekan jika ada pertandingan sepak bola sambil menunggu bedug wasit, rumah Markeso selalu terbuka, meja dan kursi yang terparkir didepan diseretnya untuk sejenak pindah kebelakang barang sampai habis subuh pas orang-orang bubaran nonton bareng.

Rumah Markeso yang dulunya sepi sekarang hampir tiap hari didatangi orang-orang, karena kabarnya apa yang diceletukkan Markeso ini akan terbukti benar, alias akurat, termasuk dalam sepak bola.

Umumnya yang datang ke rumah Markeso ini malah dari luar desa. Akan tetapi, mungkin memang begitulah “hukum alam”. Pancuran air selalu mengucuri tempat yang jauh dari lubang tempat ia mancur. Wilayah di seputar lubang itu sendiri kering tak kena air. Dukun tidak didatangi pasien orang kampungnya sendiri. Bahkan, “maling” tidak “mencuri” di desanya sendiri.

Awal ramainya rumah Markeso ini bukan orang mau minta nomor togel, bukan juga tanya tentang prediksi sepak bola, Markeso sering dimintai seminar dadakan oleh siapa saja. “Besok bisa hadir di rumah saya tidak, So? Ada keponakan mau disunat” Permintaan yang tak lazim itu sering keluar masuk ke telinganya, Markeso bukan dukun sunat, bukan. Namun
ia selalu bisa menenangkan orang apabila orang pikiranya sedang kacau, seperti dakwah kecil-kecilan yang ia lakukan.

Orang di dusunya sering memanggil dengan julukan “wong gendeng” karena yang ia lakukan kerap diluar batas, hidupnya tak jelas, kadang keluar malam ke sawah-sawah. Ketika ada yang bertany “Cari nomer togel, So?”.

Dia cukup jawab “tidak, sedang menghitung bunyi kodok”

“Lha iya, ujungnya pasti nomer togel, berapa kali kodoknya bunyi?”.

“45 kali”

“Berarti besok yang keluar nomor 45″.

“Jangan, sebetulnya 60 kali, cuma yang 15 dalam hati”

Tawa pun pecah, memecah kesunyian sawah dan suara kodok yang bersahut-sahutan, dan suara mesin disel yang mengaliri alir.

Hari itu yang sedang bertanding adalah Manchester City vs Barcelona, lima minggu sebelum pertandingan itu Markeso sudah memprediksi kalau City akan masuk final Liga Champions. Jadi orang-orang manfaatkan ucapan Markeso itu untuk taruhan bola sesama warga dusun. Barcelona pada dini hari itu keluar sebagi pemenang, namun pada waktu itu tidak ada yang sedang taruhan, lha gimana, gara-gara ucapan Markeso City akan juara Liga Champions orang-orang tidak mau pegang lawanya City. Ternyata prediksi Markeso salah, warga kecewa dengan Markeso dan memilih untuk cuti nonton bareng di rumah Markeso apalagi tanya-tanya tentang prediksi bola

Terkait:  Jejak-Jejak Abadi Para Tokoh Sepak Bola

“Gimana prediksimu, So? Katamu City juara Liga Champions, lha kalah gini.”

“Dengerin dulu, aku bilang begitu ada tujuanya. Supaya warga ini tidak manfaatin ucapanku untuk judi, memang aku sengaja. Perkara akhirnya Barcelona menang aku tidak tahu juga, Hahaha.”

Lalu bagaimana cara Markeso memprediksi soal sepak bola? Apakah dengan metode-metode yang digunakan seperti ahli analisis sepak bola dalam menilai atau memprediksi skor akhir. Ini yang lalu diomongkan warga, denga cara apa, atau jangan-jangan Markeso punya indera ke 6, atau ini dia memang wali sepak bola, tapi kan Markeso pernah salah dalam
prediksi bola? Isu warga ini seperti menjadi isu nasional karena momen itu bertepatan dengan 12 hari sebelum bedug piala dunia dimuali. “Marhaban Ya Piala Dunia”, spanduk raksasa sudah dipasang sejak satu bulan lalu.

Sejenak saat itu Markeso seperti hilang ditelan Maradona, tak tau, tak jelas dimana ia saat itu, warga yang menggantungkan hidupnya pada Markeso soal judi bola terlihat kalang kabut, bingung, mau lapor polisi segala, namun takut kalau malah nanti polisi tahu yang mereka lakukan. Bikin selebaran besar bertuliskan “WANTED” dengan gambar Markeso yang melet seperti mengejek, wajahnya minta dipukuli saja. Nomor handphonenya juga sulit dihubungi, diluar jangkauan, kata orang-orang berarti Markeso ke luar negeri, lha ini katanya “diluar jangkauan”.

Markeso malam-malam iseng terhadap warga dusun, dengan naik sepeda pancal, pakai sarung, pakai topi, wes, pokoknya ndak matching blass. Mengayuh kencang sepedanya di depan kerumunan warga dusun yang sedang asik duduk sambil ngopi di warkop Bu Sugeng sambil menjatuhkan sesuatu. Dikiranya maling apa gitu, namun ada yang sempat melihat benda jatuh yang mungkin sengaja dijatuhkan oleh pesepeda aneh tadi, diambilnya ternyata amplop yang berisi tulisan “Indonesia Juara Piala Dunia”.

Terkait:  Terima Kasih Jose Mourinho

“Wah itu tadi pasti Markeso” celetuk salah satu warga, Markeso itu aneh-aneh saja kerjaanya, Lha wong Indonesia ndak ikut piala dunia masak diprediksi juara piala dunia. Lalu warga yang penasaran membalik kertas itu, ditemukanya tulisan “Tahun 2025″. Jika digabungkan tulisan depan dan belakang “Indonesia Juara Piala Dunia Tahun 2025″ atau “Tahun 2025 Indonesia Juara Piala Dunia”.

Usut punya usut, ada warga yang melihat Markeso di dusun tetangga, ada yang melihat Markeso ngopi sambil rokokan didekat DAM sungai, namun ada juga yang mengaku melihat Markeso “angon wedhus” di lapangan tadi sore. Markeso saat itu memang jadi buruan Interpol dusun, semua dikerahkan untuk mencari Markeso yang hilang tanpa pesan, Pak Kades memerintahkan agar Markeso dibiarin saja, biarkan sesuka hatinya, mungkin dia lagi banya hutang, ujar Pak Kades merespon niat warga dusun yang mencari keberadaan Markeso seperti teroris saja.

“Sudahlah biarkan dia tenang, dan jangan diganggu, mintalah, Markeso untuk seminar seperti dulu, jangan minta nomor togel ataupun prediksi skor bola, yang ujung-ujungnya kalian gunakan taruhan. Itu sama saja kalian seperti men-tuhan-kan Markeso, lha wong Markeso juga manusia.”

Pak Kades semakin nyerocos tak karuan, cepat, dan panjang lebar, warga tak diberinya kesempatan untuk ngomong karena ia ngomong ngalor ngidul ndak karuan, dengan campuran bahasa Inggris campur bahasa Arab, dengan harapan agar warga yang mendatangi rumahnya cepat pulang.

Setelah kondusif karena bedug piala dunia sudah dibunyikan, warga dusun juga sudah mencopot selebaran-selebaran “WANTED MARKESO”, TOA masjid jika sedang nganggur, digunakan warga untuk mengumumkan jadwal siara piala dunia, serta nonton bareng dimana, aktif digunakan setiap hari selama pilaa dunia berlangsung. Pasar yang riuh, warung kopi yang penuh asap kretek mendadak hening ketika TOA berbunyi.

“Assalamualaikum…

mohon diperhatikan sejenak, untuk pertandingan nanti malam yang akan bertanding adalah Belgia vs Prancis, tempat nonton bareng dilakukan di rumah Bu Susi, rumahnya pinggir kali pas menghadap ke barat.”

Warga di pasar maupun di warkop yang hening sontak pecah dengan teriakan

Terkait:  Meningkatkan Efisensi Pemanasan Sepakbola

“Aku Belgia….”,

“Aku Prancis….”,

“Hazard pasti ngegolin nanti”

Riuhnya warga ini memang seperti idiom tersendiri untuk dunia luar, pola yang terstruktur untuk mencintai sepak bola dengan tingkat spiritualisme mereka masing-masing menandakan bahwa mereka ini seperti orang waras yang sedikit tak waras, untuk masalah bola yang di negaranya tak kunjung waras mereka masih konsisten, dan ini turun temurun sejak jaman tv hitam putih yang dimiliki Pak Camat dulu sampai sekarang sudah punya tv masing-masing pun tetap melakukan hajatan nonton bareng, dan lagi warga dusun memang seperti orang gila, bagaimana tidak, TOA masjid saja sampai digunakan untuk pengumuman bola karena memang tak ada cara lain, TOA dirumah Pak Kades sedang rusak, dana hibah dusun untuk pengaspalan desa juga sudah habis, mau tak mau TOA masjid pun dipakai.

Disatu kesempatan, Pak Kades mengungkapkan jika prediksi Markeso soal bola itu bisa dimiliki semua orang, dengan tingkat spiritual, setiap orang bisa menggunakanya. Namun perlu waktu untuk bisa sampai tingkat itu. Markeso sampai saat itu belum juga sampai kelihatan batang hidungnya, warga yang tadinya mencari akhirnya setuju dengan Pak Kades, untuk membiarkan Markeso refreshing sejenak. Namun warga masih mengharapkan bisa nonton bareng dengan Markeso, Si Wali sepak bola, meski hanya sebatas satu dusun saja.

Apa yang disampaikan Pak Kades menjadi pelepas dahaga, warga yang tadinya menuding Markeso pakai jimat, atau indera ke enam, bahkan bakar-bakar menyan, akhirnya tau bahwa Markeso hanya menggunakan tingkat spiritualismenya sendiri untuk menilai sepak bola mau apa, dan seperti apa. Ada sebuah tulisan Markeso di pagar rumah dirumah Pak Kades, yang bunyinya

“Prediksi memang susah, tentang berapa gol tercipta, tentang siapa yang akan mencetak  gol. Namun anda bisa akan mengetahui berapa gol akan tercipta setelah semua pemain menyentuh bola, hanya dengan tingkat spiritualisme anda” – Markeso

Apa Pendapatmu?