List of feeds URL

Definisi Ulang Peran Double Pivot Oleh Pellegrini Di Manchester City

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)



 

Pellegrini Redefine Double Pivot Role

Note: Artikel ini adalah video analysis. Tanpa melihat video di atas, akan sulit memahami keseluruhan ide yang coba disampaikan. 

Setelah mengawali musim dengan agak sulit, Manuel Pellegrini berhasil membuat Manchester City menjadi tim yang sangat menakutkan. Mereka berhasil menyapu bersih laga kandang dengan kemenangan. Dari sembilan laga, City berhasil mencetak 37 gol dan hanya kemasukan enam.

Mewarisi skuad hasil asuhan Roberto Mancini sebelumnya, Pellegrini memperkuat City dengan pemain baru seperti Jesus Navas, Alvaro Negredo, Fernandinho dan beberapa pemain lain. Dari segi skema, tidak ada perubahan mencolok yang dibawa Pellegrini ke Etihad Stadium.

Pellegrini termasuk pelatih yang setia dengan pola 4-4-2. Formasi itu dipakainya jauh sejak masih menangani klub-klub di daratan Spanyol seperti, Villareal, Real Madrid dan terakhir Malaga. Sebelumnya di tangan Mancini, Manchester City sering memakai 4-2-3-1 dan sukses mendapatkan satu trofi Premier League. Jadi tidak ada perubahan drastis dari segi formasi karena 4-4-2 mudah dirombak menjadi 4-2-3-1 dengan mengganti satu striker dengan gelandang serang.

Sebelumnya City di bawah Mancini terkenal sebagai tim yang sangat kuat di tengah, menggunakan ball possession based play dan gemar menguasai bola di sepertiga akhir lapangan cukup lama untuk mencari celah masuk ke kotak penalti. Di posisi double pivot, Mancini sering mengganti pemain yang cocok untuk menemani Yaya Toure. Beberapa diantaranya yaitu Nigel De Jong, Javi Garcia, Gareth Barry sampai David Pizzaro. Posisi ini sedikit dirubah oleh Pellegrini dengan menduetkan Yaya Toure dengan Fernandinho. Duet double pivot di era Mancini selalu memiliki karakter bertahan dan menyerang di antara pemainnya, dengan Yaya Toure lebih bebas bergerak naik membantu serangan. Dengan menduetkan Toure dan Fernandinho, berarti City memakai double pivot yang keduanya berkarakter menyerang.

Terkait:  Indonesia U19 3 - 2 Korea Selatan U19: Lebih Kuat Di Tengah Dan Flank

Pairing poros ganda ala Pellegrini ini sempat kesulitan di awal musim. Ketika itu City masih bermain seperti cara main yang dipakai Mancini, dengan tempo sedang, mengurung lawan di final third dan mencoba sabar mencari celah. Dengan double pivot yang sama mempunyai lisensi untuk naik, City kesulitan menyeimbangkan pertahanan karena ketika mengurung lawan, City juga memakai tenaga dua fullbacknya dengan cukup intensif naik sampai sejajar offside line lawan. Tapi sekarang Pellegrini telah mendapatkan racikan yang cocok untuk mendukung Yaya Toure dan Fernandinho. City bermain lebih cepat dan lebih direct, menghindari terlalu lama di sepertiga akhir lapangan dan langsung menusuk masuk atau melakukan shoting jika ada kesempatan. Disinilah peran Jesus Navas dengan positive dribbling-nya lebih dibutuhkan daripada Milner. Keseimbangan dengan pertahanan didapat dari mengurangi peran fullback naik bersamaan dan mencoba menghadang counter attack minimal memakai tiga pemain.

Di video terlihat duet poros ganda City masih memposisikan diri sejajar jika bola masih berada di tengah. Jika bola berhasil di alirkan ke depan, Yaya Toure akan naik dan mulai meninggalkan Fernandinho. Tapi positioning Fernandinho tidak akan terlalu jauh di tengah, dia juga akan naik di ujung final third. Dengan mengambil posisi ini, Fernandinho bisa menopang empat gelandang di depannya dalam posisi yang menjanjikan, baik itu untuk melakukan shoting atau menerima through pass. Posisi fullback City juga lebih berhati-hati ketika mau naik dan jika salah satu dari gelandang serangnya turun, Fernandinho akan ikut naik mencari posisi untuk menusuk masuk. Yaya Toure dan Fernandinho memainkan skema seperti ini bergantian, jadi terkadang Fernandinho yang naik lebih dulu.

Terkait:  Utak Atik Skuat Timnas Untuk AFF 2014

Cara ini memungkinkan City melakukan overload di depan kotak penalti lawan, posisi yang paling menjanjikan untuk mencetak gol. Dengan overload sisi tengah, City bisa membuat dua sisi flank lebih longgar. Ketika Navas atau Kolarov mendapatkan bola, mereka selalu bisa membawa bola sampai garis gawang sebelum melakukan crossing yang seringkali memakai bola bawah. Keuntungan lain dengan poros ganda yang bebas untuk naik, mereka selalu bisa cepat melakukan sprint jika tim mendapatkan kesempatan serangan balik. Hal yang berbeda akan terjadi jika poros ganda dibebani tugas lebih untuk melindungi empat bek.

Dengan skema seperti ini, City berhasil menumbangkan dua pimpinan klasemen berbeda Premier League, Arsenal dan Liverpool. Mereka juga sempat mencicipi berada di puncak klasemen sebelum Arsenal mengambil alih lagi. Di Champions League, City berhasil membalas kekalahan pertemuan pertama dari sang juara dunia Bayern Munchen di Allianz Arena. Masih ada setengah musim tersisa, siapa yang akan bisa menemukan cara menghentikan keganasan Manchester City?, menarik juga menantikan duel mereka melawan Barcelona di fase 16 besar Champions League Februari nanti.

Apa Pendapatmu?