List of feeds URL

Catatan Indonesia Vs Thailand: Timnas Tidak Siap Untuk Game Ini

indonesia-vs-thailand-twitter
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Langkah awal yang tidak terlalu gemilang dilakoni oleh Timnas Indonesia dalam gelaran AFF Cup 2016. Kekalahan 2-4 dari Thailand di pertandingan pembuka, membuat Timnas harus memforsir kemenangan di dua pertandingan fase grup tersisa.

Timnas sempat tertinggal terlebih dahulu dua gol di awal babak pertama melalui gol yang dicetak oleh Peerapat Notchaiya dan Teerasil Dangda, sebelum akhirnya menyamakan skor di awal babak kedua lewat gol sundulan duet striker Boaz Salosa dan Lerby Eliandry. Thailand berhasil mengembalikan lagi keunggulan dua gol melalui Teerasil Dangda, yang juga memastikan tiga poin pertama bagi sang juara bertahan.

Melihat reli skor yang terjadi, pertandingan memang berjalan cukup seru. “Pertandingan yang sangat menarik, (Thailand) bermain cepat,” tutur Alfred Riedl, pelatih Timnas Indonesia. Thailand memang bermain cepat sejak kickoff babak pertama dan bisa membuat jarak dua gol terlebih dahulu.

Thailand berhasil membuat 11 tembakan, sedangkan Indonesia mendapat 10 kesempatan. Dari 21 peluang yang terjadi, masing-masing tim mencatatkan empat tembakan yang bisa menemui sasaran.

Pendekatan Awal Yang Buruk

Walaupun sempat mampu menyamakan skor di babak kedua, Skuat Garuda terlihat jelas sekali tidak siap untuk laga perdana ini, apalagi yang dilawan adalah tim terbaik di Asean saat ini, Thailand. Dua gol yang diderita di awal seharusnya bisa dihindari. “Babak pertama kami memberikan dua gol yang gila kepada lawan, sulit dipercaya,” ungkap Riedl.

Menggertak setelah kickoff babak pertama sudah sangat umum di sepakbola. Setiap tim memang seharusnya menggenjot tempo sejak awal untuk mendapatkan keuntungan jika lawan ternyata tidak siap, seperti yang dilakukan oleh anak asuh Kiatisuk Senamuang tersebut. Sayangnya kali ini yang jadi korban adalah Timnas kita.

Tentu saja Riedl akan berpendapat lawan bermain cepat. Tapi sebenarnya hal itu bukanlah masalah, karena yang dilakukan oleh Thailand adalah sebuah kewajaran. Yang menjadi masalah justru kenapa Timnas tidak siap untuk bermain cepat sejak awal. Perbedaan pendekatan awal ini membuat kedua tim seperti bermain di frekuensi yang berbeda.

Timnas akhirnya bisa bermain memakai kecepatan yang sama dengan lawan setelah beberapa saat berlalu. Hal ini menunjukkan mereka sebenarnya bisa mengimbangi tempo Thailand. Tapi mereka sudah tertinggal dua gol ketika menyadari hal tersebut. Mereka terpaksa harus berada di situasi mengejar ketinggalan. Situasi yang seharusnya bisa dihindari jika pendekatan yang dipakai di awal lebih tepat. Tim seperti tidak mendapatkan persiapan khusus, terutama untuk melawan musuh dengan level seperti Thailand.

“Dengan gagal melakukan persiapan, maka kita menyiapkan kegagalan,” kata Benjamin Franklin. Timnas belum sepenuhnya gagal di turnamen ini. Masih ada dua laga lagi yang bisa mengantarkan mereka ke semifinal. Namun tentunya kalau kemarin tidak kalah, peluang akan lebih baik. Yang lebih penting lagi, Timnas tidak bisa mengulangi lagi kesalahan mendasar seperti ini untuk laga selanjutnya, jika benar-benar tidak ingin tersingkir.

Terkait:  Cardiff 3 - 2 Manchester City: Telat Panas Harus Dibayar Mahal Pellegrini

Penyebab problem ini memang tidak bisa hanya dibebankan kepada tim pelatih. Thailand sendiri juga baru saja melawan Australia di kualifikasi Piala Dunia empat hari sebelumnya. Wajar jika mereka sudah terbiasa bermain dengan tempo yang biasa dipakai di level top Asia.

Sedangkan Indonesia sendiri terakhir kali bermain di laga kompetitif tercatat bulan November dua tahun lalu di ajang yang sama, AFF Cup. Belum lagi lima pemain yang menjadi starter untuk pertandingan kali ini adalah muka baru di ajang internasional. Lebih suram lagi, penyebab banyaknya muka baru di tubuh Timnas bukan karena bagusnya regenerasi pemain, tapi lebih karena keterpaksaan, yang disebabkan aturan maksimal hanya dua pemain yang bisa disumbangkan oleh masing-masing klub di tanah air.

Duel 4-4-2 VS 3-5-2

Kiatisuk secara mengejutkan memakai formasi 3-5-2 untuk pertandingan ini. Di sela-sela kesibukan di kualifikasi Piala Dunia, sepertinya dia masih sempat menganalisa kekuatan lawan. Walaupun sebenarnya ini hanya ajang AFF Cup, yang mungkin lemari trofi Thailand sudah terlalu penuh dengan trofi dari turnamen dua tahunan ini.

Tentunya tidak sulit buat dia untuk menebak bagaimana Indonesia akan bermain, karena di empat ujicoba sebelumnya, Riedl selalu konsisten dengan memakai formasi 4-4-2. Kiatisuk sepertinya ingin memberikan perlakuan khusus terhadap dua striker yang dipakai oleh Timnas. Inilah dasar kenapa dia memilih untuk memakai formasi dengan tiga bek. Situasi 3 vs 2 di lini belakang diandalkan untuk memberikan proteksi lebih.

Selain itu, dengan formasi ini Kiatisuk masih bisa mendapatkan superioritas jumlah pemain di lini tengah, karena dia masih bisa menempatkan tiga gelandang, sedangkan Timnas hanya memiliki dua gelandang dengan formasi 4-4-2. Skema ini berhasil membantu Thailand untuk mendapatkan stabilitas sirkulasi bola di awal permainan, yang berujung keunggulan dua gol. Sirkulasi bola yang baik juga yang membantu mereka mendapatkan ritme kembali setelah Indonesia berhasil menyamakan skor.

Tapi sistem yang dipakai oleh Kiatisuk bukan tanpa cela. Pelatih yang juga mantan striker legendaris Thailand tersebut masih kurang detail untuk aspek eksekusi oleh para pemainnya. Kekurangan ini yang juga berhasil dimanfaatkan oleh Timnas untuk mengimbangi permainan.

Kekurangan pertama terletak dari cara pengambilan posisi oleh kedua wide centreback (dulu lebih dikenal dengan istilah stopper) yang terlalu dekat ke garis pinggir lapangan, daripada membatasi hanya sampai di halfspace (baca disini untuk penjelasan halfspace). Posisi dua bek terluar Thailand tersebut membuat mereka menjadi terlalu jauh dari bek tengah.

Terkait:  China 1 - 0 Indonesia: 4-4-2 Diamond Timnas Tidak Bekerja Semestinya

timnas

Karena ada dua striker Indonesia yang tetap menjaga posisinya di tengah, dua bek terluar Thailand tersebut tidak bisa mengembalikan bola ke rekan bek yang di tengah tersebut untuk memindahkan area permainan. Secara tidak langsung mereka terkunci oleh permainannya sendiri.

Dengan posisi yang terlalu dekat dengan garis pinggir, kedua bek tengah Thailand juga justru menghilangkan akses umpan diagonal kepada wingback. Karena posisi mereka yang sama dekat dengan garis pinggir, umpan dari belakang ke tengah hanya bisa umpan yang mengarah secara vertikal, bukan diagonal. Situasi ini mempermudah fullback Indonesia melakukan penjagaan, karena wingback Thailand hanya bisa menerima umpan dengan sudut posisi membelakangi gawang lawan.

Indonesia mulai bisa menghadang build up Thailand ketika winger, terutama Andik Vermansah, yang langsung melakukan pressing terhadap bek terluar Thailand tersebut sesaat setelah mereka menerima bola di dekat garis pinggir. Dengan tertutupnya akses untuk mengembalikan bola ke area tengah, opsi umpan yang terlihat cuma ke wingback. Tapi karena hanya sebatas umpan vertikal, Indonesia mulai sering bisa merebut bola lebih cepat, sebelum serangan Thailand sempat bisa masuk ke sepertiga akhir.

Kekurangan lain dari Thailand adalah ketiga bek tengah terlalu pasif ketika melakukan penjagaan. Mereka jarang sekali berinisiatif melakukan intercept ataupun berupaya memenangkan first ball (bola pertama) jika Indonesia melambungkan bola ke duet striker di depan. Duo dadakan, Boaz dan Lerby, yang biasanya mati kutu selama ujicoba sebelumnya, tiba-tiba bisa bermain sangat cair dan terkoneksi satu sama lain dengan baik, padahal kali ini seharusnya lebih sulit karena situasinya 2 vs 3.

Kedua striker Timnas tersebut akhirnya masing-masing berhasil mencuri gol melalui sundulan kepala. Dua gol yang seharusnya bisa dihindari oleh Thailand jika ketiga beknya lebih agresif untuk berduel merebut bola.

Buat Timnas, sistem 4-4-2 yang dipakai sebenarnya bisa disebut berjalan cukup baik untuk membendung Thailand, jika kita bisa menghapus kesalahan pendekatan awal, seperti yang kita bahas sebelumnya. Walaupun di atas kertas Timnas kalah jumlah di area tengah, bentuk blok pertahanan relatif tetap terjaga dengan baik.

Sedangkan hidupnya permainan Boaz-Lerby otomatis membuat serangan bisa mendapatkan progres yang baik dan menghasilkan cukup banyak peluang. “Kami kaget betapa sulitnya lawan Indonesia. Padahal, mereka belum banyak bermain sepak bola kompetitif,” kata Kiatisuk melihat respon yang diberikan oleh Timnas, yang jika dilihat lagi, sebenarnya kesempatan tersebut hasil dari kelengahan Thailand sendiri.

Terkait:  Membedah China Bagian 3: Melihat Defensive Work China Dan Cara Membongkarnya

Menyerang-Bertahan-Transisi Dalam Satu Paket

Ketika sudah unggul dua gol, Thailand mencoba bermain lebih aman dengan lebih berkonsentrasi bertahan di area sendiri. Setelah skor berhasil disamakan dan Thailand kembali mencoba untuk keluar menyerang, ada satu kelemahan lagi yang tampak dari Timnas.

Skuat merah-putih cukup baik ketika bertahan dan cukup baik juga ketika menyerang. Tapi ketika skor imbang dan kedua tim mulai berganti untuk saling menyerang (dan bertahan), mereka tidak bisa merangkai tiga fase permainan, menyerang-bertahan-transisi, dalam satu kesatuan yang utuh.

Bisa dilihat dari gol ketiga Thailand yang berawal dari proses tendangan gawang Kurnia Meiga ke area tengah. Dua striker dan dua winger Timnas sudah mengambil posisi menyerang masing-masing, tetapi ternyata Thailand berhasil merebut bola tersebut. Thailand mencoba menyerang dari sisi kanan Timnas, tidak terlalu cepat, tapi pertahanan Timnas kehilangan bentuk pertahanan karena winger belum juga turun. Mau tidak mau, gelandang terpaksa harus bergeser untuk membantu fullback di flank.

Ketika serangan Thailand dari samping kemudian mengalir ke tengah dan gelandang kita tidak berada di posisi yang seharusnya, Teerasil Dangda berhasil memastikan akurasi tendangannya karena tidak adanya pressing, yang berujung gol ketiga dan berhasil kembali membuat timnya unggul.

Kecepatan setiap pemain dalam mengambil posisi yang seharusnya, baik itu untuk bertahan ataupun menyerang, seringkali menjadi pembeda antara tim di level atas dan tim yang berada di bawahnya. Semakin tinggi level sebuah pertandingan atau turnamen, semakin tinggi pula tuntutan kecepatan tersebut, yang seringkali membuat tim yang lebih lemah kedodoran.

Thailand relatif lebih baik dari Timnas jika harus menyeimbangkan antara proses menyerang, bertahan dan transisi. Pertanyaannya sekarang, Timnas tidak tahu konsep tersebut? atau mereka tahu dan seharusnya melakukannya, tapi stamina winger sudah habis terkuras karena sudah menit ke 78 dan telah habis-habisan mengejar ketinggalan 2 gol?

Jika masalahnya karena tidak tahu, maka mereka sebaiknya segera tahu kalau ingin juara. Kalau masalahnya karena stamina yang sudah habis setelah mengejar ketinggalan dua gol (yang seharusnya bisa dihindari), maka kita bisa kembali menyalahkan buruknya persiapan, seperti di topik pertama yang sudah kita bahas di atas.

Apa Pendapatmu?