List of feeds URL

Catatan Dari Laga Timnas Melawan Kyrgyzstan (4-0)

2013_11_01_19_00_00
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Timnas Indonesia menampilkan performa yang cukup solid ketika membenamkan Kyrgyzstan empat gol tanpa balas dalam pertandingan ujicoba di Gelora Bung Karno. Modal yang cukup bagus dikantongi anak asuh Jacksen F. Tiago ini sebelum melawan China di lanjutan Pra Piala Asia 2015.

ina

Di pertandingan persiapan laga tandang melawan China ini, Jacksen F. Tiago memilih menajamkan lagi 4-3-1-2. Formasi ini sebenarnya bisa disebut gagal ketika babak pertama melawan China, karena tidak bisa menutup dengan baik flank ketika dua fullback China yang melakukan overlap. Tapi mungkin ada beberapa alasan membuat Jacksen memilih 4-4-2 diamond ini daripada 4-3-3. Formasi inilah yang memberikan kemenangan ketika melawan Filipina beberapa waktu lalu, kebetulan hanya itu kemenangan Timnas di bawah asuhan Jacksen dari dua laga. Kemungkinan lain adalah tidak adanya komposisi tiga pemain yang pas untuk memainkan 4-3-3, terutama outside forward.

Jacksen mencoba starting line-up yang cukup mengejutkan di pertandingan ini. Dengan cedera yang diderita Greg Nwokolo, Jacksen menyingkirkan semua pemain depan yang tampil melawan China sebelumnya. Dia mencoba kombinasi baru, Zulham Zamrun dan Samsul Arif, dua pemain yang baru dipanggil sebagai duet di lini depan. Di tengah Jacksen memasang Ahmad Jufriyanto sebagai gelandang bertahan untuk melengkapi diamond dari empat gelandang yang di pakai.

Duet Striker

Walaupun terhitung sebagai orang baru di tim yang dibangun Jacksen F. Tiago, dua pemain ini sangat impresif. Permainan yang mereka peragakan sangat membantu tim secara keseluruhan baik ketika bertahan, build up serangan dan ketika di final third Kyrgyzstan. Dua gol hasil kerjasama keduanya juga cukup mengejutkan mengingat ini pertama kali mereka bermain bersama dan lawan yang dihadapi pun di level yang sedikit di atas Timnas, setidaknya menurut ranking FIFA.

Ketika Timnas tertekan cukup dalam, beberapa kali salah satu diantaranya ikut melakukan pressing terhadap double pivot lawan, terutama jika Ahmad Bustomi turun terlalu jauh. Tindakan ini sangat membantu defence Timnas untuk tidak kehilangan tekanan di depan dan mencegah Kyrgyzstan menyerang frontal. Hal positif lain yang mereka tampilkan ketika Timnas sedang tertekan adalah mereka cukup mudah ditemukan ketika Timnas melakukan clearence, salah satu kunci sukses buat Timnas sehingga Kyrgyzstan tidak pernah mengurung terlalu lama.

Terkait:  Cardiff 0 - 3 Arsenal: Cardiff Bermain Seperti Yang Diinginkan Wenger

Karena mereka berdua bukan tipe pemain nomer 9, kesan yang mudah dilihat adalah mereka selalu bergerak. Ketika defence lawan turun cukup dalam, mereka mencoba eksploitasi space yang ada diantara bek dan lini tengah Kyrgyzstan, terutama ketika Bustomi bergerak turun atau Taufik bergerak melebar yang menarik keluar gelandang bertahan Kyrgyzstan. Gol kedua oleh Zulham berawal dari prosesi ini yang membuat Zulham bisa menusuk dengan mudah. Karena terus bergerak, ketika mereka masuk ke tengah dari flank tanpa bola, mereka juga menarik masuk fullback Kyrgyzstan yang sering membuat backfour-nya menjadi narrow. Ini alasan utama kenapa Ruben Sanadi dan Kipuw sangat hidup di kedua flank.

Ketika lawan menaikkan garis pertahanannya, salah satu dari mereka mengambil posisi di flank kiri dan satu di tengah untuk menarik melebar backfour lawan. Membuat renggang backfour yang sedang dalam posisi cukup naik memudahkan through pass dari lini tengah Timnas. Umpan sering di arahkan ke flank kiri dan memberi banyak peluang di awal babak kedua. Tapi sayang peluang yang tercipta belum berhasil menambah gol. Mungkin membuang beberapa peluang emas inilah satu-satunya nilai minus dari duet ini. Selebihnya, movement cerdas yang mereka lakukan sebelum diganti oleh Boaz dan Tibo, bisa disebut sangat impresif.

Boaz dan Tibo yang bermain di babak kedua tidak bisa dibilang buruk. Tapi terutama Boaz, dia tidak serajin duet striker sebelumnya ketika harus mencari ruang. Sehingga seringkali dia terjepit diantara dua sampai tiga pemain yang membuat dia sering kehilangan bola. Padahal defence Kyrgyzstan waktu itu sudah sangat berantakan karena lini tengah mereka terus tertinggal untuk mundur setelah melakukan high up pressing. Boaz sempat menjadi gelandang serang menggantikan Bustomi ketika Tan Tan masuk. Satu peluang bagus di dapatkannya sebelum peluit akhir berbunyi.

Maitimo, Bustomi, Taufiq, + Jufriyanto

Maitimo, Bustomi dan Taufiq boleh dibilang penghuni permanen lini tengah Timnas ala Jacksen sejak melawan Liverpool. Apapun skema di depan atau siapapun pemain yang mengisinya, trio ini tetap dipilih sebagai pemain di depan backfour dan menjaga kedalaman. Ketika melawan Filipina, Lilipaly sukses memainkan peran sebagai trequartista di depan trio ini dalam formasi 4-3-1-2. Di babak pertama melawan China, Jacksen memilih Slamet Nur Cahyono sebagai trequartista dalam formasi yang sama dan bisa dibilang gagal melakukan link-up dengan baik karena terlalu pasif. Di babak kedua setelahnya Jacksen merubah skema 4-3-3 atau 4-2-1-3 dengan memasukkan Tibo dan mendorong naik Bustomi untuk meningkatkan pressing ke defence China, dan Timnas pun berhasil memaksakan hasil imbang di laga yang cukup krusial itu.

Terkait:  Turkey U23 0 (6) - (7) 0 Indonesia U23: Full Highlight Semifinal ISG 2013

Kali ini Jacksen tetap mencoba 4-3-1-2 tapi dengan menambahkan Ahmad Jufriyanto sebagai gelandang bertahan. Setelah laga seperti dikutip Goal Indonesia, Jacksen bermaksud menumpuk empat gelandang bertipe bertahan ini untuk memaksa Kyrgyzstan memakai bola panjang untuk simulasi bola panjang China. Sebagai trequartista Jacksen memilih Ahmad Bustomi dari quartet ini, mungkin karena penampilannya cukup baik ketika berada di depan Maitimo dan Taufiq ketika memakai 4-2-1-3 melawan China.

Hasil racikan baru ini ternyata bukan malah membuat Timnas bertahan melawan Kyrgyzstan yang lebih lemah dari China, tapi malah bisa membuat kekompakan dari trio Maitimo, Bustomi dan Taufiq mendominasi dari belakang hingga depan ketika Timnas menguasai bola. Dengan adanya Jufrianto untuk menopang di belakang, trio ini seperti mendapat lisensi untuk menyerang dan terus berotasi dan menciptakan space di defence lawan karena kebingungan melakukan marking.

Sejak melawan Filipina, Taufiq memang aktif bergerak ke kanan dalam skema ini, sekarang dia bisa lebih cepat melakukannya dengan adanya Jufrianto di belakang. Gerakan ke flank kanan ini mengimbangi satu striker yang bergerak ke flank kiri dan menjaga lebar lapangan serangan Timnas. Ketika Kipuw naik, Taufiq akan masuk dan membuat winger serta fullback lawan ikut ke tengah. Situasi ini sering membuat Kipuw tidak terjaga. Serangan dari sisi kanan ini juga sifatnya lebih lambat karena area yang cukup penuh.

Bustomi sebagai gelandang serang melakukan tugasnya sedikit berbeda dengan Lilipaly dan Slamet Nur Cahyono. Karena bukan posisi aslinya, dia tidak terlalu sering melakukan forward pass. Bustomi lebih sering umpan ke belakang dan juga bergerak ke dalam lagi. Space yang dihasilkan dari manuver ini yang sering di obrak-abrik duet striker. Maitimo yang sering memulai dari tengah juga sering sekali mencoba memanfaatkan space ini untuk naik dan tidak terkawal, seperti ketika dia bisa masuk ke kotak penalti dan sayang free headernya hasil umpan Taufiq tidak menemui sasaran. Bustomi sendiri mencoba memaksimalkan perannya dengan speed yang luar biasa cepat ketika Timnas melakukan counter attack untuk membantu masuk ke kotak penalti. Gol pertama menjadi contoh pergerakannya membantu Zulham terbebas dari double marking dan bisa mencetak gol.

Terkait:  Belajar Taktik: High Pressing 4-3-3 Dengan Kontrol Ruang

Jufriyanto sebagai gelandang bertahan bermain baik dengan bisa mengimbangi ritme passing dari ketiga rekannya di tengah. Through pass nya juga cukup bagus dan sempat menjadi peluang. Tapi satu hal yang perlu diperbaiki adalah positioningnya ketika Timnas kehilangan bola kurang bagus. Seringkali dia kesulitan segera menutup gerakan pemain Kyrgyzstan ketika melakukan counter attack karena terlalu jauh. Selebihnya fisik yang dimiliki bisa membantu Timnas menghadapi duel bola atas.

Kesimpulan

Pertandingan ini menampilkan performa terbaik dari beberapa laga yang dilakoni Jacksen F. Tiago dan pasukannya. Fluiditas dari hasil menambahkan seorang gelandang bertahan di tengah dan dua striker yang rajin bergerak membuat permainan Timnas rancak serta bisa nyaman mengontrol serangan di final third.

Tapi apa Jacksen masih memakai skema ini yang sebelumnya belepotan untuk melawan China lagi? Entahlah. Ada satu solusi jika memaksakan memakai skema ini untuk bisa juga menutup flank dan mencegah China melakukan eksploitasi di area itu, yaitu dengan membuat diamond-nya flat ketika bertahan untuk melindungi fullback dengan baik. Semoga Jacksen F. Tiago bisa menemukan formula terbaik untuk mengalahkan China.

Highlights Pertandingan

 

Indonesia 4 – 0 Kyrgyzstan: All Goals And Chances Friendly 2013

2 Responses to Catatan Dari Laga Timnas Melawan Kyrgyzstan (4-0)

  1. suka says:

    saya suka banget analisa ini. Terbaik-terbaik dan logis. Analisa taktik yang dibutuhkan orang banyak, lumayanlah menambah literatur diskusi dengan keluarga soal apa yang seharusnya pelatih timnas lakukan bila melawan tim setife China.

    Semoga banyak orang indonesia yang baca, biar komentator bola di Televisi lebih baik lagi kualitasnya. Dan enggak konyol, palsu, dan usang seperti selama ini. Sotoy pula kadang-kadang.

Apa Pendapatmu?