List of feeds URL

Bournemouth 2 – 1 Everton: Tren Positif Everton Terhenti

Author: Daniel Tjirbon (twitter: @daniel_tjirbon)

Melalui gol telat Fraser, Bournemouth berhasil membungkus kemenangan 2-1 atas tamunya Everton yang sedang on fire. Sekaligus menjauhkan mereka dari posisi relegasi.

Seperti di laga boxing day kebanyakan, demi menjaga kondisi kebugaran tim, rotasi pemain diterapkan kedua kubu. Rotasi ini menyebabkan kedua pelatih harus memutar otak dengan hanya memainkan pemain mereka yang paling fit.

Everton menikmati posesion di menit-menit awal dan presing tinggi Bournemouth yang tidak efektif

Build up Everton coba diganggu oleh Bournemouth yang menerapkan zonal marking, tapi dengan gampang Everton mengakalinya dengan Schneiderlin yang turun di antara 2 bek tengah, menciptakan situasi 3 vs 2 (dua bek tengah + Schneiderlin vs dua penyerang). Cara lain yang serupa adalah Schneiderlin menempatkan dirinya turun ke sebelah kanan seperti seorang full back. Lagi-lagi menciptakan situasi 3 vs 2. Jika situasi 3 vs 2 belum juga cukup untuk mengatasi pressing tinggi lawan, Gueye sesekali turun ke bawah untuk menjemput bola, tanpa diikuti lawan.

Melalui skema-skema tadi, Everton bisa dengan mudah lepas dari presing tinggi tim tuan rumah. Namun, Everton belum sanggup untuk lebih jauh mengkapitalisasi kelemahan dari blok tinggi yang dibangun tuan rumah.

Tertekan tapi banyak peluang

The Cherries justru menunjukkan hal yang bagus pada saat mereka menerapkan blok menengah. Dengan dibantu dua penyerangnya, Bournemouth berusaha memproteksi jalur tengah agar tidak mudah dimasuki lawan.

Di awal-awal menit, Bournemouth yang harus lebih banyak bertahan justru beberapa kali mendapat peluang melalui serangan balik. Hanya kesalahpahaman antar pemain di dekat area kotak penalti lah yang membuat peluang mencetak gol hangus seketika. Selain melalui open play, tuan rumah juga mendapat peluang melalui tendangan bebas dan beberapa sepak pojok. Melawan Everton yang menggunakan mix-marking dalam situasi corner defend, Bournemouth mempunyai skema dismarking (upaya mengelabui pengawasan/penjagaan lawan) sepak pojok yang menarik. Meski begitu, belum bisa tercipta gol dari skema ini.

Terkait:  Banyak Pelajaran Dari Kekalahan Timnas U19 Atas Myanmar

Everton pada saat off possession

Dalam fase tidak memegang bola, Everton jarang melakukan presing tinggi, mereka lebih fokus membangun blok menengah dan menerapkan man-marking. Jika sedang dalam mode presing tinggi, Everton mencoba mengarahkan build up Bournemouth ke salah satu sisi atau ke area tengah. Calvert-Lewin memblok jalur pasing Ake kepada rekannya sesama bek tengah.

Lennon mempresing kiper Begovic, mengarahkan build up The Cherries ke salah satu sisi atau ke area tengah lapangan, di mana Everton menang jumlah orang di area tersebut.

Serangan Bournemouth

The Cherries mencoba menginisiasi serangan dengan build up dari bawah maupun melalui pasing langsung ke depan. Bola-bola direct ke arah depan bisa mereka menangkan melalui perebutan bola kedua.

Saat di final third, Bournemouth jarang melakukan crossing, padahal 2 striker mereka cukup ideal (tinggi) untuk dijangkau. Mereka lebih memilih melakukan crossing mendatar, cutback atau bola disirkulasi kembali ke area tengah. Opsi lainnya adalah membiarkan invert winger mereka untuk berkreasi; memberikan umpan, melepas tembakan, atau melakukan kombinasi.

Gol pertama Bournemouth tercipta lewat long kick dari kiper Begovic. Bola bisa diamankan kubu Everton, tapi dengan counterpress, pemain-pemain tuan rumah berhasil membuat McCarthy melalukan eror. Kesalahan pasing McCarthy membuahkan counter dan gol buat tuan rumah.

Babak Dua

Reaksi positif Everton dan penasarannya Big Sam

Tertinggal satu gol, Big Sam melakukan perubahan. Rooney gantikan McCarthy, mengubah pola 4-5-1 menjadi 4-4-2 dan berusaha sesering mungkin melakukan presing tinggi. Perubahan ini beberapa menit kemudian terbayar, The Toffies berhasil menyamakan skor 1-1 lewat Idrissa Gueye, setelah Sigurdsson yang memosisikan diri di halfspace berhasil mengintersep umpan dari Francis yang ditujukan kepada Jordon Ibe.

Terkait:  Kedalaman Menyerang (Depth Attacking) Trio Gelandang Timnas PSSI U19

Sukses menyamakan kedudukan, Big Sam tidak puas. Berusaha membuat serangan Everton lebih berwarna, Big Sam memasukkan Niasse si mobile striker menggantikan Calvert-Lewin. Niasse bergerak ke kedua sisi lapangan untuk menginisiasi sekaligus mengoverload serangan sayap tim tamu.

Overload sayap juga dilakukan oleh kedua gelandang sayap Everton. Misal ketika Everton melakukan overload sayap kiri, Lennon si sayap kanan ikut bergabung ke sayap kiri. Dan sebaliknya ketika melakukan overload sayap kanan, Sigurdsson si sayap kiri ikut bergabung ke sayap kanan.

Di formasi 4-4-2 atau 4-4-1-1 ini, Everton mengubah cara pressingnya. Kalau sebelumnya di babak pertama mereka lebih mengarahkan build up tuan rumah ke area tengah lapangan, kini mereka mengarahkan build up tuan rumah ke sisi lapangan. Fokus memproteksi area tengah karena sekarang mereka tidak lagi mempunyai keunggulan jumlah pemain di area situ.

Di situasi imbang 1-1, kini Everton jadi tim yang tampak di atas angin. Benar saja, tak lama mereka berhasil mendapat satu-dua serangan balik yang cukup menjanjikan berkat kehadiran Rooney sebagai pemain penghubung di belakang striker.

Tapi sepertinya Big Sam masih belum puas dengan keadaan ini. Dia memasukkan Bolasie, menggantikan Gueye. Rooney kini diplot sebagai gelandang tengah. Bolasie di sayap kiri, sedangkan Sigurdsson pindah ke area di belakang striker, yang sebelumnya ditempati Rooney.

Hadirnya Bolasie sempat memberikan harapan cerah. Kombinasinya dengan si penyerang mobile Niasse di sisi lapangan sangat ciamik dalam membongkar pertahanan lawan. Namun, pergantian posisi dari beberapa pemain ini berefek pada situasi transisi positif (transisi dari bertahan ke menyerang) Everton. Kali ini serangan balik yang mereka dapat tidak berjalan maksimal seperti sebelumnya, meski mereka masih mempertahankan pola 4-4-1-1.

Terkait:  Moyes Sukses Membuat Guardiola Tidak Tampak Jenius

Pun, sepak pojok yang didapat Everton, yang selalu diarahkan ke tiang jauh, juga masih belum berhasil menambah keran gol.

Pendekatan Bournemouth yang fleksibel

Tampak jelas pendekatan Eddie Howe di pertandingan ini lebih fleksibel. Mereka tidak memaksakan diri untuk menerapkan cara bermain sepakbola yang mereka inginkan. Tidak seperti saat mereka digasak Liverpool dengan nahas 4-0 beberapa pekan sebelumnya.

Butuh tiga poin penuh dan dikejar waktu, Bournemouth main direct sejak dari kiper. Presing tinggi coba terus digalang. Untuk meningkatkan efektifitas presing, lini gelandang ikut naik melakukan presing. Dua kali build up tim tamu digagalkan, sekaligus membuahkan kans bagus buat The Cherries untuk menambah gol.

Akhirnya gol penentu kemenangan yang ditunggu-tunggu publik Vitality Stadium hadir. Berawal dari Schneiderlin yang melakukan pemindahan bola dari area halfspace kiri ke sayap kanan jauh. Bola sampai tujuan ke sayap kanan tapi gagal diamankan, seketika menghasilkan serangan balik dan gol kedua Ryan Fraser di laga ini pun tercipta. Gol yang sedikit banyak terbantu oleh deflect dari Keane.

Skor akhir 2-1. Kemenangan yang sangat pantas buat pasukan Eddie Howe. Bournemouth lebih banyak mendapat peluang bagus di laga penutup paruh musim ini. The Cherries akhirnya berhasil mempersembahkan kado manis buat para fansnya, setelah sebelumnya tidak pernah menang delapan kali beruntun di Liga Premier Inggris.

Sementara bagi Everton, ini adalah kekalahan pertama mereka sejak ditukangi Sam Allardyce.

Apa Pendapatmu?