List of feeds URL

Bournemouth 0 – Liverpool 4: Kemenangan Yang Terlalu Mudah Untuk The Reds

Author: Daniel Tjirbon (twitter: @daniel_tjirbon)

Pekan lalu pasukan Anfield melawat ke markas Bournemouth dalam lanjutan Liga Premier Inggris. Kali ini mereka berhasil menuntaskan misi mereka untuk membawa pulang tiga poin.

Di atas kertas, ini merupakan duel yang menarik. Mempertemukan dua tim bermazhab menyerang. Bournemouth, meski tim kecil, mempunyai gaya bermain yang menyerang, sedikit berbeda dengan tim-tim medioker Liga Inggris lainnya.

Tapi ekspektasi untuk melihat laga yang seru, saling adu taktik, ternyata tidak terjadi. Liverpool terbilang sangat dominan selama 90 menit, baik saat menguasai bola ataupun saat tidak menguasai bola.

Laga ini perlahan-lahan membuat boring buat para fans netral, tapi menjadi laga yang super asik buat para Liverpudlian. Ditambah lagi dengan aksi magis Coutinho membumbui laga ini.

Presing tinggi Bournemouth

Guna menghambat build up serangan Liverpool dari bawah, tim asuhan Eddie Howe menerapkan presing tinggi, dari formasi 4-4-2 secara temporer berubah menjadi 4-3-3. Ini terjadi ketika salah satu dari gelandang sayap naik ke depan nyaris sejajar dengan dua penyerangnya untuk mengarahkan build-up Liverpool ke salah satu sisi.

Menarik bahwa Bournemouth menggunakan mekanisme option-oriented dalam high press-nya. Tidak seperti tim-tim lain yang terapkan man-oriented high press.

Dalam option-oriented high press, memungkinkan satu pemain Bournemouth bisa mengontrol dua orang lawan sekaligus. Terdengar efektif dan menjanjikan. Tapi apa yang terjadi di lapangan tidak seperti kedengarannya (dijelaskan nanti, di bawah).

Presing tinggi Liverpool

Liverpool juga terapkan presing tinggi kepada tuan rumah. Ini membuat Bournemouth kesulitan untuk membangun serangan dari bawah. Bournemouth pun dipaksa melakukan umpan-umpan direct ke depan. Defoe tercatat 3-4 kali gagal merespon umpan-umpan direct tersebut.

Selain itu, Bournemouth tampak terlalu mengandalkan Andrew Surman sebagai motor build up, yang mana ini mudah dimatikan oleh Liverpool. Di mana di lini tengah, Liverpool unggul jumlah pemain 3 vs 2.

Terkait:  Fiorentina 0 - 1 Juventus: Solusi Tidak Komplit Montella

Ada momen ketika Henderson terlalu bersemangat melakukan presing, naik ke depan meninggalkan posisinya. Bournemouth pun mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Henderson, meski kemudian mengalami kegagalan di fase penyelesaian akhir.

Peluang Kedua Kubu

Liverpool beberapa kali bisa mengakses Mohamed Salah di sisi jauh. Mencoba menghasilkan peluang dari situasi 1 vs 1. Tapi Bournemouth relatif bisa meredamnya.

Liverpool akhirnya memecah kebuntuan, ketika Coutinho yang bermain di sayap kiri mencoba untuk turun ke bawah mengambil bola. Dia diikuti lawan tapi dengan skillnya bisa melepaskan diri, melakukan umpan one-two, kemudian mengeluarkan aksi magisnya, meliuk-liuk di sekitaran halfspace mengelabui kepungan lawan lalu melepaskan tendangan keras menghunjam gawang.

1-0 buat Liverpool dan Bournemouth berusaha untuk bisa cepat bangkit. Defoe nyaris menyamakan kedudukan kalau saja tembakannya tidak menghantam tiang.

Bournemouth juga mendapatkan peluang dari bola mati, dari sepak pojok maupun tendangan bebas. Tapi tidak ada yang spesial dari set peace mereka. Liverpool relatif mudah mengatasinya.

Masalah Bournemouth

Terus menekan Liverpool, Bournemouth justru mendapat banyak masalah karena pressing yang tidak efektif. Membebankan pressing hanya kepada tiga orang (dua striker plus salah satu sayap) bukanlah sesuatu yang ideal. Gelandang tengah Liverpool selalu bisa bebas menerima bola dari para bek, karena ketiadaan presing dari lini kedua Bournemouth. Kalaupun ada presing dari lini kedua, Bournemouth tidak secara konsisten menerapkannya.

Dalam situasi Bournemouth yang tidak mendapat akses pressing dan dalam kondisi lini belakangnya yang naik, pemain-pemain Liverpool dengan keunggulan tekniknya bisa leluasa memainkan bola dan mendapat ruang yang luas di belakang bek. Ruang ideal yang bisa dieksploitasi kedua sayap-sayap cepat mereka, terutama Mohammad Salah. Gol kedua Liverpool dan gol-gol selanjutnya seperti hanya menghitung waktu.

Terkait:  Barcelona 2 - 1 Real Madrid: Barca Menikam Madrid Yang Masih Mencari Bentuk

Babak 2

Ketinggalan 3-0, Bournemouth memasukkan tenaga baru, Fraser menggantikan Pugh. Pergantian yang tidak mengubah formasi ataupun cara bermain. Bournemouth ternyata masih juga menjumpai masalah yang sama, yaitu build up yang terganggu. Kiper Asmir Begovic dipaksa memainkan bola-bola panjang yang berujung hilangnya penguasaan bola, selain juga karena struktur tim yang tidak memadai untuk memenangkan output dari bola-bola panjang tersebut.

Pressing tinggi yang dilakukan pun masih sama, masih setengah hati. Pressing lini pertama dengan tiga orang terdepan tidak diikuti intensitasnya oleh dua lini pressing (lini gelandang dan lini bek) di belakang mereka.

Sedangkan buat Liverpool, situasi 3-0 ini sangat nyaman buat mereka. Mereka tidak lagi ngoyo dalam melakukan pressing.

Menggunakan mid-high block 4-1-4-1, mereka membiarkan satu-dua bek tuan rumah bebas. Kedua pemain sayap lebih merapat ke tengah, menutup jalur umpan ke arah halfspace. Pressing tidak seintens seperti di babak pertama. Namun hal berbeda ditunjukkan bek kiri Robertson yang kini lebih agresif memarking Jordon Ibe, yang di babak pertama sering dalam keadaan bebas menerima bola. Menguntit Ibe yang turun jauh ke belakang, memastikan Ibe tidak bisa menerima bola dengan bebas dan enak.

Tanpa perbaikan strategi dan tanpa sedikit mencoba bermain pragmatis, sulit buat Bournemouth untuk bisa mengejar ketertinggalan di laga ini. Tim tuan rumah hanya jadi santapan lezat buat anak-anak Anfield yang agresif dan lapar, mengingat di dua laga sebelumnya The Anfield Gang hanya mendapat hasil imbang.

Apa Pendapatmu?