List of feeds URL

Bola Atas Yang Bukan Lagi Musuh Mengerikan Timnas Indonesia U-19

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Selesai sudah petualangan Timnas Indonesia U-19 di ajang Piala Asia. Jepang menjegal langkah Garuda Nusantara di fase 8 besar dengan skor 2-0 di hadapan 60 ribu pendukung Timnas di stadion Gelora Bung Karno.

Segudang penyesalan yang dirasakan oleh semua personel Timnas karena hanya tinggal selangkah saja mimpi Piala Dunia akan terwujud. Tapi di sisi lain, mereka juga cukup legowo menerima kekalahan ini. Legowo karena kualitas lawan yang menyisihkan mereka memang lebih baik. Juga legowo untuk menerima fakta jika Timnas sudah bermain sangat baik, dengan berbagai peningkatan di banyak aspek permainan di turnamen ini.

Salah satu peningkatan yang Timnas dapatkan adalah mereka bisa memutus stigma jika postur kita yang kalah dibandingkan dengan negara lain, maka lawan akan menghabisi kita dengan bola-bola atas. Iya, dari empat pertandingan dengan lawan-lawan yang relatif lebih tinggi, kita tidak sekali pun kebobolan gol dari heading.

Sebelum gelaran AFC U-19 ini penulis diajak untuk berdiskusi di Twitter soal kelemahan Timnas untuk bola-bola atas. Topik ini memang sangat beralasan karena memang di tahun 2017 sebelumnya, Timnas U-19 berulang kali kalah karena kebobolan gol dari proses sundulan.

Belum lagi secara historis Timnas Indonesia di berbagai level usia juga memang memiliki masalah yang sama, yang tak kunjung menemukan solusi. Serangan lawan lewat bola atas benar-benar jadi mimpi buruk. Jika melawan negara level Asia dengan postur lebih baik dan lawan banyak melakukan crossing, kita cuma bisa banyak berdoa agar tidak kebobolan.

Solusi yang sering diapungkan adalah dengan memilih defender yang memiliki tinggi badan bagus. Tentu cukup rasional, bek yang lebih tinggi, akan lebih bisa menjangkau bola-bola atas. Cuma problemnya tidak terlalu banyak pemain kita yang mempunyai tinggi badan yang cukup.

Jika melihat proses seleksi yang dilakukan Timnas U-19, sempat ada beberapa bek yang cukup tinggi di atas 180 cm. Tapi akhirnya mereka tersisih. Tinggi badan menjadi nilai plus mereka. Namun di beberapa aspek teknis yang lain, seperti fase build up serangan, kemampuan membaca serangan lawan atau kecepatan reaksi dan pengalaman bermain, bek-bek yang relatif lebih pendek lebih unggul.

Akhirnya tim pelatih terpaksa harus menyisihkan bek-bek yang memiliki postur lebih bagus tersebut. Secara keseluruhan memang bek-bek yang lebih pendek relatif masih lebih baik dan lebih siap. Sampai di pemusatan latihan terakhir, tim pelatih dihadapkan ke situasi di mana mereka harus mencari solusi untuk bisa mengatasi bola atas lawan, tanpa adanya bek-bek yang cukup tinggi.

Kenali Masalah Dengan Analisa Video

Proses untuk mencari solusi atas masalah ini, tim pelatih melakukan analisa video dari semua momen di mana Timnas kebobolan dari sundulan. Setelah semua video coba dianalisa, ditemukan fakta jika 80% dari semua gol heading tersebut terjadi dengan situasi lawan free header (tidak ada gangguan duel ketika lawan menyundul).

Hanya sekali yang bek Timnas benar-benar kalah duel heading karena lawan lebih tinggi (gol saat cornerkick Espanyol B). Proses gol tersebut juga terjadi tepat di depan garis gawang di tiang dekat, di mana kiper tidak memiliki kesempatan untuk mencegah bola masuk ke gawang.

Dari angka 80% gol sundulan lawan berasal dari situasi free header, bisa diambil kesimpulan jika tinggi badan bukan lah faktor utama lemahnya pemain kita untuk bisa menghalau crossing. Data yang ada menunjukkan jika problem lebih mengarah ke reaksi pemain kita yang buruk, yang bahkan untuk bisa berdiri tepat di posisi jatuhnya bola saja mereka belum mampu.

Dari data yang ada juga didapati jika akhirnya pemain kita berhasil memaksakan duel ketika bola turun, tidak ada gol yang diderita. Walaupun akhirnya lawan yang menang duel heading, mereka kesulitan mengarahkan bola ke gawang dengan akurat dan dengan power yang cukup. Cuma masalahnya adalah kesempatan untuk bisa duel ini tidak konsisten bisa didapatkan, alias lebih berupa kebetulan.

Jadi situasi minimal yang diharapkan terjadi adalah bagaimana caranya pemain kita bisa melakukan duel heading ketika bola turun, entah akhirnya nanti akan menang atau kalah duel. Yang penting harus duel dulu. Jangan sampai lawan mendapatkan situasi free header dan dengan enak menempatkan bola ke gawang.

Yang lebih penting lagi, tim pelatih membutuhkan kepastian agar duel akan SELALU bisa dilakukan. Jangan sampai sekali pun duel tidak terjadi, karena resiko kebobolan sangat tinggi. Para pemain belakang membutuhkan solusi yang efektif dan yang akan terus secara konsisten bisa mereka eksekusi.

Dengan menilai data yang ada, tim pelatih mulai mendapatkan sedikit gambaran jika tanpa bek dengan postur yang cukup tinggi, problem antisipasi crossing lawan bisa diselesaikan. Solusinya adalah dengan memperbaiki reaksi pemain belakang agar bisa lebih baik, lebih tepat dan lebih cepat jika situasi itu terjadi.

Tentu kesimpulan ini berlawanan dengan solusi yang biasanya kita ketahui, jalan keluar problem bola atas adalah pemain yang lebih tinggi. Keputusan tim pelatih menyisihkan bek-bek jangkung terlihat aneh dengan melihat problem yang ada. Tapi di sisi lain, hasil analisa video mendukung keputusan tersebut. Dengan memperbaiki reaksi pemain, sudah cukup buat Timnas mereduksi ancaman bola atas.

Sebenarnya kita juga bisa mengambil contoh di sepakbola top level dengan membandingakan Sergio Ramos (tinggi 184 cm) dengan Jerome Boateng (192 cm) dan Per Mertesacker (198 cm). Walaupun jauh lebih pendek dari dua bek asal Jerman tersebut, Ramos relatif lebih tangguh saat duel udara. Bek klub Real Madrid tersebut memiliki reaksi sangat baik untuk bisa selalu tepat menempatkan diri di area jatuhnya bola dan melakukan duel.

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Open Play Dan Prinsip Datang Ke Bola

Situasi lawan yang bisa cukup sering bebas ketika melakukan heading menjadi cukup menarik untuk dikupas. Dari video-video tersebut tim pelatih mencoba untuk melihat lebih detail lagi kecenderungan aksi para pemain belakang Timnas secara individual ketika mengantisipasi crossing.

Akhirnya ditemukan dua jenis aksi berbeda dari para pemain belakang. Kecenderungan pertama adalah pemain berusaha mengikuti gerakan penyerang lawan (melakukan man marking) sebelum bola datang. Kecenderungan lainnya adalah mereka mencoba untuk menebak posisi di mana bola akan turun dan bergerak ke posisi tersebut.

Jika diamati dengan seksama, dua jenis aksi dari pemain kita tersebut merupakan penyebab utama kenapa lawan bisa sampai bebas ketika melakukan heading crossing. Jenis aksi pertama yaitu dengan melakukan man marking ke pemain lawan, MUNGKIN ada kesempatan untuk sukses menghalangi lawan untuk melakukan heading.

Sayangnya masih sebatas MUNGKIN, karena syaratnya semua pemain lawan harus di man marking. Jika jumlah lawan yang di dalam kotak penalti hanya satu atau dua, cara ini masih bisa dipakai dengan efektif. Dua bek tengah tinggal terus berusaha menempel lawan, maka mereka akan bisa memastikan untuk bisa selalu terlibat duel.

Tapi jika jumlah lawan lebih dari dua dan berposisi menyebar, ada yang di tiang dekat, tiang jauh dan dari lini kedua, cara man marking jadi sangat susah dilakukan dengan sempurna. Terbatasnya waktu untuk melakukan koordinasi pembagian marking antara bek dan para gelandang menjadi halangan utama.

Jenis aksi lainnya, yaitu dengan mencoba untuk menebak di mana bola akan jatuh dan bergerak ke titik itu, bisa dibilang malah jauh lebih tidak efektif. Jika kita hitung area berbahaya di depan gawang yang sekitar 198 m (11×18 m), jumlah 4 sampai dengan 6 pemain tidak akan pernah cukup untuk menutup luas area berbahaya tersebut. Sekitar 60% area tidak akan tercover oleh pemain kita dan peluang free header lawan akan sangat besar.

Menebak di mana jatuhnya bola crossing sebenarnya pilihan yang lebih umum yang biasanya diambil oleh penyerang lawan. Jika tebakannya benar, mereka akan beruntung untuk bisa melakukan heading. Jika tebakan salah, tidak ada resiko yang ditanggung karena saat itu lawan sedang dalam fase menyerang.

Namun jika cara yang sama dilakukan oleh defender kita dan tebakannya salah (seringnya begitu karena luasnya area yang harus dicover), maka resiko free header lawan jadi sangat mungkin. Alasan ini yang menjadi latar belakang kenapa selama ini bek kita tidak bisa konsisten untuk selalu mendapatkan kesempatan duel. Yang mereka lakukan adalah menebak, dengan kata lain sangat berharap keberuntungan ada di pihak mereka.

Dari dua jenis aksi tersebut tim pelatih menemukan kesamaan, yaitu terjadinya pergerakan. Jenis pertama, pemain bergerak mengikuti lawan. Sedangkan jenis kedua, pemain bergerak ke titik yang ditebak bola akan jatuh. Jika kita bandingkan dengan video aksi Sergio Ramos di bawah, terdapat perbedaan detail kecil yang menurut tim pelatih merupakan jawaban dari problem pemain kita untuk antisipasi crossing ini.

Di video jika kita perhatikan dengan detail, ada momen di mana Ramos justru tidak bergerak sama sekali. Momen tersebut bertepatan dengan ketika winger lawan hendak melepaskan crossing. Secara detail ada tiga tahapan yang akan selalu dilakukan oleh Sergio Ramos setiap kali melakukan antisipasi crossing:

1. Drop dengan CEPAT di posisi tertentu (bisa di titik penalti atau tiang dekat, berkoordinasi dengan bek tengah yang lain).
2. Dilanjutkan BERHENTI sejenak ketika crossing akan dilepaskan.
3. Lalu datang ke bola jika masih berada dalam jangkauan. Entah bola jatuh di depan, belakang atau di sampingnya.

Momen untuk berhenti walaupun sepersekian detik yang dilakukan Ramos inilah yang tidak dilakukan oleh pemain kita. Dengan sempat untuk berhenti, Ramos selalu bisa bereaksi dengan cepat untuk bergerak mengubah arah ke manapun akhirnya nanti bola crossing akan turun.


Sedangkan berbeda dengan yang dilakukan pemain kita, mereka terus bergerak ke arah tertentu tanpa ada momen untuk berhenti. Ini yang membuat reaksi menjadi lambat, terutama untuk bisa mengganti arah jika bola ternyata jatuh di posisi yang berlawan dengan arah gerakan sebelumnya.

Salah satu ciri reaksi pemain yang lambat bisa kita perhatikan saat bola crossing turun, pemain tersebut hanya bisa terdiam, tidak bergerak sama sekali. Sebenarnya ada perintah dari otak untuk bergerak ke posisi bola, namun kaki mereka tidak siap untuk diperintah karena sedang melakukan tugas yang lain.

Tiga tahapan yang dilakukan Ramos di atas adalah yang membuat dia bisa mengaplikasikan PRINSIP datang ke bola untuk antisipasi crossing. Jika dia selalu bisa bereaksi dengan datang ke bola, dia bisa menjamin akan bisa melakukan heading, atau minimal bisa melakukan duel.

Terkait:  Indonesia U19 2 - 0 Filipina U19: Dominasi Penuh Tapi Minim Gol

Reaction Is Everything

Tahapan paling penting yang dilakukan Ramos adalah tahapan kedua, yaitu berhenti sejenak. Berhenti merupakan awal mula dari reaksi, dalam konteks ini adalah reaksi pemain untuk bisa mengubah arah agar bisa bergerak untuk datang ke bola.

Penulis pernah menghadiri workshop di Gresik dengan sebagai pembicara yaitu Coach Eduardo, pelatih kiper Luis Milla saat itu. Eduardo mengomentari jika reaksi kiper kita yang cenderung lambat. Penyebabnya karena mereka sering tidak tahu kapan harus menggerakkan kakinya dan kapan harus berhenti bergerak, yang nanti ditujukan untuk mendukung reaksi yang lebih cepat untuk aksi selanjutnya.

Beberapa momen yang dia contohkan adalah selalu ada aksi melompat kecil yang dilakukan kiper sebelum lawan melakukan shoting. Atau ketika mengantisipasi through pass lawan dan terjadi situasi 1 vs 1, kiper kita tidak tahu kapan harus berhenti ketika lari ke depan, sehingga sering kesusahan mengikuti lawan yang berganti arah atau melakukan blocking jika lawan tiba-tiba melakukan shoting.

Walaupun Eduardo menjelaskan hal ini dalam konteks aksi kiper, penulis bisa menyimpulkan jika reaksi yang cepat akan selalu bisa dilakukan jika di awal aksi, kedua kaki pemain tetap di tanah. Jika salah satu kaki pemain tidak di tanah, semisal sedang berlari atau berjalan, maka reaksi akan selalu lambat karena harus menunggu kedua kaki tersebut menginjak tanah dulu.

Sama seperti untuk situasi defense crossing ini. Karena aksi pemain kita selalu sedang BERGERAK (melakukan man marking atau menebak arah bola) ketika bola diangkat, maka sulit bagi mereka untuk melakukan reaksi secara cepat. Hal ini yang akhirnya membuat lawan banyak mendapatkan kesempatan free header dan kita banyak menderita gol karena situasi ini.

Tahu bagaimana cara agar selalu bisa melakukan reaksi secara cepat untuk mengantisipasi crossing adalah yang membuat Sergio Ramos menjadi bek terbaik dunia saat ini, walaupun dia bukan bek tengah dengan postur paling tinggi. Di sepakbola era sekarang, reaksi adalah segalanya.

Dengan tiga tahapan ini (drop cepat, berhenti sejenak, datang ke bola) Sergio Ramos tidak perlu melakukan man marking atau pun menebak tempat jatuhnya bola. Ramos sendiri yang datang ke bola. Tidak hanya Ramos, prinsip untuk datang ke bola ini juga diterapkan oleh semua pemain bertahan Real Madrid.

Para pemain belakang tinggal berbagi ruang di area sentral depan gawang. Luasnya area berbahaya ini (198 m) tidak menjadi problem. Kadang mereka memang terlihat agak berjauhan. Tapi karena masing-masing siap untuk datang ke bola, jarak di antara mereka bisa ditutup dengan baik dengan reaksi cepat mereka.

Tim pelatih mencoba mengadopsi cara ini untuk memecahkan problem antisipasi crossing para bek Garuda Nusantara. Hasilnya sangat positif. Sejak rangkaian ujicoba bulan September lalu sampai dengan AFC Cup U-19 Oktober ini selesai, Timnas belum sekalipun kebobolan dari heading ketika crossing dilakukan lawan saat open play.

Tentu ini perkembangan yang baik, terutama untuk turnamen selevel AFC Cup dan dengan bermodalkan bek tengah yang tidak terlalu tinggi. Timnas harus melawan negara-negara Arab dan Asia timur yang secara historis adalah momok dengan postur tinggi dan crossing-crossingnya.

Namun dengan reaksi yang lebih baik dari para pemain belakang, yang minimal pemain selalu bisa mengganggu heading lawan dengan duel, crossing bukan lagi hal yang menakutkan buat kita.

Set Pieces Dan Jangan Sampai Lawan Datang Ke Bola

Berbeda dengan situasi open play, tim pelatih menemui problem yang lebih rumit untuk situasi set piece, baik itu momen free kick atau corner kick. Solusi untuk situasi open play seperti di atas tidak bisa dipakai lagi. Penyebabnya jelas, di situasi set piece, pemain lawan juga mengawali gerakan dengan berhenti. Berbeda dengan situasi open play di mana lawan akan selalu dalam kondisi bergerak.

Karena pemain kita dan lawan dapat kesempatan untuk BERHENTI dulu sebelum mulai bergerak, otomatis masing-masing kubu akan memiliki reaksi yang sama baik dan sama cepat untuk bisa datang ke bola. Keuntungan saat open play seperti yang ditulis di atas buat pemain kita tidak bisa didapatkan lagi. Justru kalah postur akan jelas terlihat untuk situasi set piece ini karena dari sisi reaksi kedua pihak seimbang.

Beruntung tim pelatih bisa menemukan solusi yang baik. Mereka memakai logika terbalik untuk PRINSIP datang ke bola ketika antisipasi bola atas. Jika situasinya lawan pasti bisa untuk datang ke bola dan kita akan kalah postur saat duel, maka solusi yang diambil adalah bagaimana caranya agar lawan tidak memiliki kesempatan untuk datang ke bola.

Mekanisme yang dipakai adalah dengan memakai dua pemain untuk melakukan penjagaan zonal di tiang dekat dan depan kiper. Sedangkan pemain lain satu persatu melakukan man marking ke setiap lawan yang sedang berada di dalam kotak penalti.

Jumlah pemain yang melakukan man marking disesuaikan dengan jumlah lawan. Berbeda dengan situasi open play yang waktu untuk melakukan koordinasi man marking sangat sedikit, di situasi set piece waktu yang tersedia cukup banyak. Jadi solusi man marking cukup ideal untuk situasi ini.

Instruksi khusus diberikan tim pelatih kepada para pemain yang melakukan man marking. Mereka harus mengacaukan langkah PERTAMA lawan. Hal ini dimaksudkan agar timing lawan untuk bergerak ke arah bola rusak. Hasil yang diharapkan adalah lawan tidak sampai bisa untuk menyentuh bola.

Terkait:  Timnas U19 Kurang Cekatan Merespon Kalahnya Kualitas Dari Uzbekistan

Jika akhirnya pun lawan berhasil untuk menyentuh bola, power heading yang dipunyai hampir bisa dipastikan akan melemah. Ini efek yang diharapkan dengan menghambat langkah PERTAMA lawan bergerak. Sebaik apapun heading lawan atau setinggi apapun dia, jika momentum awalan geraknya diganggu, maka akan tidak maksimal juga heading yang akan dilakukan.

Walaupun secara postur pemain kita kalah tinggi, jika cara ini dieksekusi dengan baik oleh semua pemain maka keuntungan postur lawan tidak akan berarti. Ditambah ada instruksi khusus juga untuk kiper yang harus selalu keluar memotong bola jika memang memungkinkan.

Sejak event AFF di bulan Juli solusi ini mulai dilatihkan ke pemain. Tapi dalam perjalanannya tidak berlangsung cukup mulus. Pemain berusaha menjalankan sesuai instruksi pelatih, tapi selalu masih ada satu atau dua kekurangan yang masih perlu diperbaiki.

Saat melawan Vietnam di fase grup, yang di tahun sebelumnya Garuda Nusantara kalah karena gol set piece oleh lawan yang sama, kali ini kesalahan yang sama tidak terjadi. Tapi saat melawan Malaysia di semifinal kita kembali kebobolan oleh corner kick.

Problem saat melawan negeri Jiran waktu itu adalah jumlah pemain yang melakukan man marking lawan di dalam kotak penalti kurang satu. Satu lawan tidak terjaga, yang akhirnya pemain lawan yang free tersebut sukses dengan enak datang ke bola dan melakukan heading. Selain itu Malaysia dengan cerdik menempatkan satu pemain di depan kiper kita, sehingga kiper tidak memiliki kesempatan untuk keluar memotong bola.

Sementara problem tersebut bisa diperbaiki, problem lain muncul ketika melawan China di laga ujicoba pada bulan September. Di saat para pemain belakang sudah sangat baik ketika melakukan man marking ketat, satu gelandang kita ternyata cukup longgar ketika melakukan man marking. Gerakan lawan tidak terganggu dan kita kembali kebobolan lewat corner kick.

Ada evaluasi setelah laga tersebut, tapi problem baru kembali tampak ketika ujicoba melawan Jordania di bulan Oktober. Semua pemain sudah melakukan instruksi dengan baik untuk melakukan penjagaan ketat sebelum corner kick . Kemudian lawan berganti taktik corner kick dari long menjadi short. Kebiasaan buruk pemain terulang, dengan hanya memperhatikan bola tanpa memperhatikan lawan.

Short corner kick lawan direspon oleh para pemain dengan melepas marking terhadap lawan karena mereka terpancing untuk segera mendekat ke pojok untuk merebut bola. Beberapa lawan akhirnya bebas tanpa kawalan ketika crossing dilakukan dan kita kembali kebobolan lewat skema corner kick.

Dari semua rangkaian latihan, ujicoba dan koreksi untuk fase defense set piece yang dilakukan dalam tempo tiga bulan, akhirnya pemain berhasil mengeksekusinya hampir tanpa cela selama turnamen AFC Cup berlangsung. Dalam 4 laga, kita tidak satu pun kebobolan dari set piece lawan.

Semua yang direncanakan tim pelatih berjalan baik. Ketika melawan Uni Emirate Arab dan Jepang anak-anak muda ini bahkan sempat dibombardir banyak situasi free kick. Tapi taktik defense set piece yang dipakai bisa dikatakan cukup solid untuk mencegah kebobolan.

Banyak set piece lawan yang tidak berhasil diteruskan menjadi shoting. Beberapa masih berhasil dikonversikan menjadi shoting oleh lawan, namun karena pemain kita dengan baik mencoba mengganggu langkah pertama lawan, tidak ada yang akhirnya berujung gol.

Selama turnamen sering pemain kita diperingatkan oleh wasit karena terlihat memakai tangan untuk menutup gerakan lawan agar bisa kabur dari penjagaan sebelum set piece dilakukan. Hal itu terpaksa mereka lakukan karena mereka tahu resikonya jika ada jarak antara dia dan lawan, maka gangguan ke lawan tidak akan bisa dilakukan.

Tim pelatih bisa memaklumi resiko tersebut karena memang tidak ada hukuman serius dari wasit yang terjadi. Wasit hanya sekedar memberikan peringatan. Dari banyak momen yang diperingatkan wasit tersebut tidak ada yang akhirnya berakhir foul dan berujung hukuman penalti.

Kesimpulan

Ternyata problem antisipasi bola atas, yang merupakan problem sepakbola, bisa diselesaikan dengan solusi sepakbola juga (dengan perbaikan PRINSIP dasar sepakbola yang dimiliki pemain). Pemain dengan postur tinggi TERKADANG bisa menjadi jawaban problem seperti ini. Tapi postur lebih baik saja tidak akan cukup jika PRINSIP dasar sepakbolanya masih belum baik.

Banyak orang yang bilang pemain dengan tinggi badan ideal seperti Hansamu Yama adalah jawaban dari problem bola atas Timnas U-19 yang selama ini menghantui. Yama memang bek yang sangat tangguh saat bola atas. Tapi banyak yang hanya melihat dia dari tinggi badannya saja. Mereka melewatkan bagaimana baiknya Yama memahami PRINSIP datang ke bola untuk bisa memenangkan setiap duel udara.

Apa Pendapatmu?