List of feeds URL

Belajar Taktik: Mendominasi Sepakbola Modern Memakai Formasi 3-4-2-1

download
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Jika ada yang bilang formasi tiga bek sudah tidak mendapatkan tempat di sepakbola modern, mungkin dia harus merevisi pernyataan tersebut. Pada kenyataannya, formasi tiga bek sekarang justru lebih seksi daripada formasi empat bek sebagai aplikasi sepakbola modern.

Ketika kita membicarakan sepakbola modern, perhatian akan selalu tertuju kepada sepakbola menyerang, menguasai lini tengah ataupun penguasaan bola. Fokus kita akan tertuju kepada bagaimana untuk bisa memiliki superioritas di lini tengah dengan menumpuk lebih banyak pemain disana. Dengan lebih banyak pemain di area sentral, maka kita akan lebih dekat dengan tujuan untuk bisa mendapatkan dominasi.

Selain itu, ada tambahan dari Jose Mourinho tentang cara apa yang paling efektif untuk bisa berjaya di era sepakbola masa kini. Pelatih Chelsea tersebut berujar jika transisi adalah kunci untuk bisa memenangi pertandingan. Jika tim kita selalu bisa cepat dalam transisi positif (dari bertahan ke menyerang) atau transisi negatif (menyerang ke bertahan), maka kita akan lebih berpeluang untuk bisa menang.

Tapi entah darimana asalnya, sepakbola modern akhirnya diidentikkan dengan formasi empat bek. Kita akan (dianggap) terlihat kuno jika memakai formasi tiga bek, karena memang semua tim di masa kini umumnya memakai formasi empat bek. Kita juga mempersiapkan para pemain usia muda di akademi agar siap bermain dengan formasi empat bek jika mereka beranjak profesional kelak.

Pada kenyataannya, tidak ada hubungan antara usaha untuk mendapatkan dominasi, atau usaha untuk lebih bagus ketika fase transisi, dengan memakai formasi empat bek. Kita juga bisa mendapatkan keduanya dengan formasi tiga bek. Justru formasi tiga bek sebenarnya lebih nyaman untuk mendapatkan dominasi ataupun transisi yang lebih bagus daripada formasi empat bek.

Satu-satunya kekurangan formasi tiga bek saat ini adalah formasi tersebut kalah populer daripada empat bek. Minimnya pemakai skema ini membuat perkembangannya bisa dibilang sangat lambat, atau mungkin lebih ke stagnan. Tidak banyak yang melakukan variasi dan mengujinya di pertandingan kompetitif, yang membuatnya menjadi terlihat tidak cocok untuk sepakbola modern.

Formasi empat bek sendiri perkembangannya sangat pesat, karena memang sangat populer. Banyak variasi yang dicoba oleh banyak tim dan pelatih, sehingga cukup cepat untuk menemukan formula yang paling ideal. Kita bisa menemukan  4-2-3-1 hasil evolusi dari 4-4-2 yang ingin memiliki pemain yang lebih banyak di tengah. Ada juga 4-3-3 khas Belanda yang lebih dipopulerkan oleh Barcelona. Jika ingin lebih banyak lagi pemain di tengah, kita bisa memilih skema yang tanpa memakai jasa pemain sayap, seperti formasi berlian 4-3-1-2 atau formasi pohon natal 4-3-2-1.

Walaupun tiga bek tidak memiliki suara mayoritas di kancah internasional, bukan berarti skema ini tidak bisa bersaing. Contoh terbaru seperti kesuksesan Juventus ke final Liga Champion Eropa musim lalu bersama Max Allegri, dengan memakai bergantian antara 3-5-2 dan 4-3-1-2. Di Piala Dunia 2014, kita bisa mengaca kepada kesuksesan Louis Van Gaal bersama Belanda yang berhasil ke semifinal dengan memakai 3-5-2. Kostarika di ajang yang sama juga menembus quarter final dengan memakai 5-4-1.

Sebagai dedengkot sepakbola modern, Pep Guardiola sejak musim lalu di Bayern Munchen juga mulai gemar untuk bereksperimen dengan formasi tiga bek dan segala jenis variannya. Apa yang dilakukan Pep tersebut bisa dijadikan sedikit gambaran jika apa yang dinamakan sepakbola modern dan segala jenis pemujaan akan dominasi serta ball possession, tidak ada hubungannya dengan memakai skema empat bek atau tidak.

Terakhir di masa jayanya, formasi tiga bek yang paling populer adalah 3-5-2. Banyak sekali tim kelas dunia yang memakainya. Begitu pula di Indonesia, baik itu tim Nasional dan hampir semua klub di Liga Indonesia kompak untuk memakai formasi ini. Tidak mengejutkan juga jika kita sekarang menyebut istilah tiga bek, gambaran yang langsung muncul adalah formasi 3-5-2.

Sampai sekarang pun dari sedikit tim yang memakai skema tiga bek, 3-5-2 masih menjadi yang paling mendominasi. Formasi ini juga terbukti masih bisa bersaing di era sepakbola modern, seperti pada contoh Juventus dan Belanda di atas. Tapi permasalahannya, mereka belum sampai menjadi yang terbaik dengan menjadi juara. Mungkin tiga bek akan menjadi mainstream lagi jika di waktu itu mereka bisa menjadi juara, namun hal itu nyatanya memang belum bisa terwujud.

3-5-2 vs 4-2-3-1 dan situasi dimana fullback dan winger lawan bisa mengapit wingback.

3-5-2 vs 4-2-3-1 dan situasi dimana fullback dan winger lawan bisa mengapit wingback.

Di beberapa situasi memang 3-5-2 tidak cukup kuat untuk membendung tim-tim yang memakai empat bek, terutama jika formasi yang dipakai lawan juga memakai winger. Hanya ada satu pemain di area sayap, yaitu wingback, yang membuat formasi ini kesulitan menghadang kombinasi winger dan fullback yang beroperasi di area tersebut. Sedangkan dengan hanya memakai tiga gelandang, ternyata tidak cukup ideal juga untuk menutup lebarnya lapangan guna bisa melindungi dua flank dengan kecepatan yang baik.

Tapi jika hanya karena kekurangan tersebut lantas kita meremehkan skema tiga bek, sepertinya bukan merupakan alasan yang cukup relevan. Seperti halnya formasi 4-4-2 yang harus dimodifikasi agar bisa bersaing di area tengah, kita juga bisa memodifikasi 3-5-2 agar bisa menutupi kekurangan di atas. Ada banyak sekali kelebihan dari skema tiga bek yang tidak dimiliki skema empat bek, yang akan cukup dijadikan alasan untuk mengembangkan skema ini.

Ada beberapa varian dari skema tiga bek yang bisa kita temui. Pep Guardiola pernah mencoba 3-2-2-3 di Bayern Munchen. Sedangkan Marcelo Bielsa dulu cukup identik dengan formasi 3-3-1-3 yang menjadi pondasi vertical football miliknya. Beberapa tim seperti Udinese juga gemar memakai 3-4-3 ketika menyerang, yang akan berubah menjadi 5-4-1 ketika bertahan.

Formasi 3-4-2-1 yang dipakai Fiorentina

Formasi 3-4-2-1 yang dipakai Fiorentina

Tapi diantara beberapa variasi tersebut, musim ini Paulo Sousa di Fiorentina memiliki varian yang sepertinya bisa menjadi penantang yang cukup sepadan untuk skema empat bek yang sebelumnya sudah mapan. Fiorentina memainkan formasi 3-4-2-1, dengan dipadu beberapa pergerakan yang membuat sistem yang dipakai begitu fleksibel, sekaligus sangat bagus ketika melakukan dua fase transisi.

Oleh karena itu artikel ini akan coba mengupas formasi 3-4-2-1 beserta cara mengeksekusinya dan sejauh mana sistem ini akan bisa bersaing di sepakbola modern. Jika kita cukup beruntung, mungkin juga kita bisa menemukan formula yang lebih cocok untuk sepakbola lokal, yang di dekade terakhir kualitasnya terus merosot, bersamaan dengan mulai masifnya penggunaan skema empat bek.

Terkait:  Ide Baru Ancelotti Untuk Real Madrid

Sirkulasi Bola Yang Lebih Baik

Asumsi yang berkembang ketika ada tim yang memakai skema tiga bek adalah jika tim tersebut sedang ingin memperkuat pertahanan. Jika kita membandingkan dengan skema empat bek boleh jadi asumsi itu benar, karena akan ada tambahan satu bek tengah ekstra, yang jika ditambahkan dengan dua wingback, kita akan menemukan backline berisi lima pemain saat masuk fase block pertahanan terendah.

Tapi selain (terlihat) lebih kokoh ketika bertahan, skema tiga bek juga menawarkan kelebihan lain yang mungkin tidak disadari, yaitu sirkulasi bola yang menjadi lebih baik ketika dalam fase ball possession. Mungkin hal ini terdengar agak aneh, bagaimana mungkin memperbanyak pemain di belakang justru lebih membantu untuk fase ball possession?

Tentunya kita sudah memahami jika lebih banyak pemain di tengah akan lebih membantu untuk mendapatkan dominasi. Tapi jika sekarang semua tim juga menumpuk pemainnya di area tengah, maka teori tersebut perlahan-lahan akan menjadi tumpul. Sekarang sepakbola sedang berada di dalam polemik tersebut. Yang dijadikan solusi untuk masalah ini adalah dengan memberdayakan pemain belakang agar juga lebih berperan untuk membantu sirkulasi bola.

Pemain belakang sekarang dituntut tidak hanya bagus ketika melakukan tackling, tapi juga harus bagus dalam melakukan berbagai jenis umpan. Istilah yang sering dipakai untuk tipikal bek modern seperti ini adalah ball playing defender. Di catatan statistik, jangan terkejut jika kita  akan mudah menemukan bek tengah sebagai salah satu pengumpan terbanyak dalam satu pertandingan.

Bek akan membantu pemain tengah dalam fase ball possession, yang otomatis akan menambah jumlah pemain yang terlibat dalam sirkulasi bola menjadi lebih banyak. Faktor lain yang juga sangat penting adalah area untuk menjaga penguasaan bola juga akan menjadi lebih luas. Semakin luas area dimana bola bisa bergerak, semakin sulit juga usaha lawan untuk melakukan pressing.

Dalam usaha untuk memperluas area sirkulasi bola tersebut, di skema empat bek sering kita lihat dilakukan dengan cara satu gelandang bertahan turun membelah dua bek tengah yang akan bergerak lebih melebar. Variasi lain yang bisa kita temukan adalah dengan satu gelandang bertahan turun ke salah satu sisi samping lapangan, sedangkan salah satu bek tengah bergeser ke sisi samping yang lain. Kedua variasi tersebut sama-sama membentuk tiga pemain di belakang yang posisinya juga mengisi lebar lapangan.

Bentuk tiga pemain di belakang seperti ini sangat ideal untuk membantu area tengah dalam mengalirkan bola. Jarak ketiganya dalam takaran cukup dekat untuk menjaga umpan agar tetap akurat. Tapi di sisi lain, jarak ketiga pemain ini justru akan membuat lawan kesulitan untuk melakukan pressing, kecuali jika pressing dilakukan sekaligus dengan memakai tiga pemain, yang tentunya akan sangat tidak efisien.

Posisi yang ideal memungkinkan sirkulasi bola oleh 7 pemain. 2 bek tengah yang mengambil posisi di koridor halfspace.

Posisi yang ideal memungkinkan sirkulasi bola oleh 7 pemain. 2 bek tengah yang mengambil posisi di koridor halfspace.

Yang juga perlu diperhatikan adalah posisi dua pemain di sisi luar yang berada di halfspace (area antara flank dan tengah). Dua pemain ini adalah kunci untuk mendapatkan area sirkulasi bola yang lebih luas. Dengan kita mempunyai dua pemain yang berada di half space, sekarang kita memiliki akses umpan kepada ataupun dari fullback dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga kita bisa memastikan akurasinya akan cukup prima.

Bisa kita lihat jika bentuk tiga pemain di belakang seperti ini bisa menghubungkan lebih banyak pemain untuk melakukan sirkulasi bola. Sekarang yang terlibat tidak hanya tiga gelandang saja, tapi kita malah bisa memakai tujuh pemain, dengan area yang juga lebih luas, yang tentunya bola akan lebih sulit direbut dan akan lebih mendekatkan kita dengan dominasi di area tengah.

Jika skema empat bek harus memindah posisi gelandang untuk mendapatkan bentuk ini, tidak demikian dengan skema tiga bek. Bentuk ini sudah didapatkan dari bentuk dasar posisi tiga beknya sendiri, tanpa harus dengan menggeser posisi ataupun menambahkan pekerjaan kepada gelandang bertahan.

Bentuk yang sama tapi memakai formasi 3-4-2-1

Bentuk yang sama tapi memakai formasi 3-4-2-1

Dengan lebih sedikit proses yang harus dilalui untuk mendapatkan bentuk ini, skema tiga bek bisa lebih stabil ketika menyusun serangan karena pemain akan lebih cepat berada di posisi masing-masing. Selain itu tanpa banyak perubahan posisi, tentunya akan lebih membantu untuk menghindarkan pemain dari kebingungan akan sistem bermain.

Jadi dengan menambah satu bek ekstra bukan hanya berfungsi agar lebih kuat ketika dalam fase bertahan, tapi juga sangat membantu ketika dalam fase menyerang. Kita bisa melihat aplikasi ini ketika Antonio Conte membawa Juventus menguasai Liga Italia empat musim dengan sepakbola menyerang memakai 3-5-2.

Bisa dikatakan jika sistem tiga bek kembali relevan dalam sepakbola modern, setelah di evolusi terbarunya ternyata lebih melibatkan bek dalam fase ball possession.

Tiga Bek Memberi Keseimbangan

Selain lebih bagus ketika melakukan ball possession atau dalam proses menyusun serangan, skema tiga bek ternyata juga lebih superior dari skema empat bek dalam hal mengelola keseimbangan antara fase menyerang dan fase bertahan. Transisi dari kedua fase ini tentu saja merupakan momen yang sangat penting, seperti yang sudah dikatakan oleh Jose Mourinho.

Secara sadar ataupun tidak, akhir-akhir ini kita akan lebih sering mendapati sebuah tim sedang dalam problem untuk menyeimbangkan antara fase menyerang dengan fase bertahan. Beragam solusi dicoba untuk mendapatkan fase transisi negatif (dari menyerang ke bertahan) yang lebih solid, agar setelah dalam fase menyerang, lawan tidak bisa menghantam pertahanan kita dengan serangan balik cepat yang berujung gol.

Banyaknya tim yang mengalami problem ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, karena lubang dalam fase transisi negatif merupakan bawaan alami dari sistem empat bek. Problem muncul dikarenakan eksekusi ideal dari sistem empat bek dalam fase menyerang adalah dengan mengijinkan masing-masing fullback untuk melakukan overlap dengan merangsek naik ke depan.

Solusi standar dari masalah ini umumnya dengan membuat fullback untuk naik bergantian. Jika satu fullback naik, maka fullback yang lain tetap di belakang, untuk menjaga agar tidak kurang dari tiga pemain yang berada di lini belakang. Solusi ini cukup bagus, karena bentuk serangan akan tetap bisa mendapatkan solusi lebar lapangan ataupun overload di area flank, tapi juga tetap mempunyai pemain yang cukup di belakang.

2 fullback yang naik turun bergantian dalam 4-3-3

2 fullback yang naik turun bergantian dalam 4-3-3

Tapi ada sedikit kelemahan yang mengintai dengan memakai pendekatan ini. Kita akan membutuhkan stamina yang lebih baik dari fullback untuk siap bergantian naik turun, untuk terus bisa menyesuaikan dengan dimana area serangan berada. Jika satu saja fullback kurang disiplin untuk kembali turun ke posisinya, terutama jika pertandingan memasuki menit akhir, lubang dalam fase transisi negatif tidak bisa lagi dihindari.

Terkait:  Seedorf Dan Masalah Yang Akan Dihadapinya Di Milan

Pendekatan lain yang juga merupakan yang paling pesimis adalah dengan tidak menaikkan kedua fullback sama sekali. Fullback tidak akan melakukan overlap, atau bisa naik tapi hanya sampai batas tertentu, tidak peduli dengan bagaimana situasi fase menyerang yang sedang didapatkan oleh enam pemain terdepan. Dengan begini tentu saja tidak akan ada masalah dalam fase transisi negatif karena selalu ada empat pemain di belakang.

Solusi seperti ini sangat sering kita temui di Indonesia, karena mungkin logika yang dipakai memang yang paling sederhana. Atau mungkin juga di sepakbola lokal tingkat keberhasilan pendekatan ini yang tidak terlalu mengecewakan. Tapi ada sedikit masalah yang mengganggu dengan memakai solusi ini, yaitu solusi ini selalu gagal jika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, baik itu di level Asean ataupun Asia.

Tanpa kehadiran fullback yang naik untuk melakukan overlap ketika menyerang, kita tidak bisa menambahkan dimensi yang lebih baik kepada winger ketika dia menguasai bola. Winger akan jadi sering terpaku di flank dan kesulitan masuk ke tengah atau area penalti jika tanpa ada pemain lain yang membantunya. Jika level lawan cukup baik, hanya serangan satu dimensi dari sayap yang akan kita lihat, yaitu winger melakukan crossing, lagi dan lagi.

Indra Sjafri ketika menahkodai Timnas U19 juga memakai solusi tanpa fullback yang melakukan overlap untuk mendapatkan keseimbangan. Tapi dia tahu efek buruk yang akan didapatkan winger, sehingga memilih memakai satu gelandang yang akan bergerak ke flank untuk membantunya. Di beberapa momen hal ini sukses, di momen yang lain ternyata tidak. Perlu stamina luar biasa bagi sang gelandang untuk terus bisa bergerak menyamping membantu winger, tapi sayangnya kala itu Indra Sjafri hanya memiliki satu saja Zulfiandi.

Pendekatan lain yang juga menjadi yang paling optimis adalah dengan menaikkan dua fullback sekaligus untuk mendapatkan dimensi serangan yang paling baik. Sedangkan untuk keseimbangan, gelandang bertahan yang akan mendapatkan tugas tambahan untuk menutup masing-masing celah yang ditinggalkan fullback. Pendekatan super offensive ini yang umumnya dipakai tim level atas dan juga merupakan salah satu pendekatan yang paling membuahkan hasil.

2 fullback langsung naik dalam 4-3-3, serta gelandang bertahan yang bertugas menutup posisi fullback.

2 fullback langsung naik dalam 4-3-3, serta gelandang bertahan yang bertugas menutup posisi fullback.

Tim yang memakai pendekatan ini memanfaatkan intimidasi kepada lawan dengan dari awal berinisiatif mendorong lebih banyak pemain untuk naik, sembari berharap lebih banyak juga pemain lawan yang akan merespon dengan turun. Tentu saja jika semakin sedikit pemain lawan yang ada di depan, akan berkurang juga ancaman serangan balik. Oleh karena itu cara ini cukup digemari oleh tim yang mempunyai kualitas pemain depan dan tengah yang cukup baik.

Proteksi atas serangan balik akan diberikan oleh gelandang bertahan yang harus siap menutup posisi kedua fullback, tergantung di flank mana serangan balik datang. Bisa kita lihat disini jika ada satu lagi tugas untuk gelandang bertahan, padahal di fase sebelumnya dia juga harus menginisiasi build up serangan dengan turun untuk memperlebar area sirkulasi bola.

Efektifitas peran gelandang bertahan cukup beragam dalam fase ini, karena sangat bergantung kepada kepandaiannya membaca permainan, kecepatannya bergerak, sekaligus skillnya untuk menghadang lawan. Sebenarnya gelandang bertahan bukan solusi nyata di pendekatan ini, karena pemain secerdas Sergio Busquets saja masih sering gagal melaksanakan tugas. Justru intimidasi dengan melempar lebih banyak pemain ke depan sejak awal yang berperan lebih besar dalam MENCEGAH serangan balik berbahaya agar tidak terjadi.

Jika skema empat bek cukup tersiksa dalam fase transisi negatif, hal serupa tidak dialami oleh skema tiga bek. Jumlah tiga pemain di belakang sangat ideal untuk mendapatkan keseimbangan dalam fase ini. Posisi dua stopper yang berada di halfspace ketika dalam fase menyerang, bisa cukup cepat untuk menutup posisi kedua wingback yang naik, sekaligus cukup cepat juga untuk bisa membantu libero jika serangan balik lawan menusuk lewat tengah.

Yang tidak kalah menguntungkan juga adalah eksekusinya yang sangat simpel karena tidak banyak pertukaran posisi. Gelandang bertahan dalam skema tiga bek kembali mendapatkan tugas yang jauh lebih sederhana, daripada gelandang bertahan di skema empat bek. Untuk kesekian kalinya posisi awal tiga pemain di belakang ternyata sangat membantu ketika dalam fase menyerang.

Posisi dari stopper dalam 3 bek sudah ideal untuk menutup wingback yang overlap.

Posisi dari stopper dalam 3 bek sudah ideal untuk menutup wingback yang overlap.

Selain gelandang bertahan, tiga pemain yang akan selalu di belakang juga sangat membantu pekerjaan wingback. Kedua bek sayap selalu bisa lebih leluasa melakukan overlap ketika menyerang. Keleluasaan yang sama tidak dimiliki fullback dalam skema empat bek, karena masih ada spot di belakang yang menjadi tanggung jawabnya. Tentu saja jika bola terlepas wingback tetap harus turun bertahan, tapi tidak harus secepat peran fullback untuk kembali ke posisi.

Tentu kita masih ingat bagaimana ganasnya Aji Santoso dan Anang Maruf ketika melakukan overlap sampai kotak penalti lawan, dan Persebaya masih tetap solid dengan tiga pemain di belakang yang dilapisi dua gelandang bertahan. Sedikit demi sedikit kita akan kembali teringat bagaimana kesederhanaan dari skema tiga bek, dulu bisa berperan penting dalam memberi keseimbangan, sekaligus sangat membantu tujuh pemain di depannya untuk bisa lebih eksplosif memakai semua skillnya ketika menyerang.

Jangan Kalah Di Flank

Di dua fase di atas kita bisa melihat betapa bergunanya memiliki tiga pemain di belakang. Tapi jika kita tetap memakai formasi 3-5-2, kita harus membayarnya di area lain, yaitu hanya ada wingback yang berada di flank. Dulu ketika masih menjadi formasi idola semua tim dan duel 3-5-2 vs 3-5-2 terjadi setiap pekan, kekurangan ini memang tidak tampak. Tapi ketika sekarang umumnya lawan memakai empat bek yang memiliki winger dan fullback di flank, pemakai 3-5-2 bisa sangat kedodoran di area tersebut.

Di sinilah variasi 3-4-2-1 milik Paulo Sousa di Fiorentina menjadi solusi sempurna untuk masalah ini. Sederhananya, formasi ini menyeimbangkan pertarungan di area lain saat bertemu dengan skema empat bek, dengan hanya memakai satu daripada dua striker seperti di 3-5-2. Bentuk paling kuat dari skema empat bek adalah jika mereka hanya memakai satu striker, jadi sistem ini merespon juga dengan hal yang sama.

Terkait:  Real Madrid 3 - 1 Barcelona: Enrique Masih Hijau Untuk Clasico

Memakai hanya satu striker dalam skema tiga bek sendiri bukan merupakan sesuatu yang baru. Varian lain seperti 5-4-1, 3-4-3, atau 3-3-1-3 juga sebenarnya memakai satu striker saja. Tapi ada perbedaan signifikan antara varian-varian tersebut dengan 3-4-2-1, yaitu formasi ini lebih memilih memakai dua gelandang serang (biasa disebut trequartista atau pemain no. 10) daripada memakai dua winger untuk mendampingi striker.

Mungkin perbedaannya terlihat minor saja, tapi dalam aplikasinya ternyata menghasilkan dampak fleksibilitas yang sangat besar, baik itu untuk fase bertahan, menyerang ataupun transisi positif. Dua pemain no. 10 dalam 3-4-2-1 bisa diadaptasi untuk memainkan banyak peran sekaligus, tapi dengan resiko yang cukup rendah.

Peran dua pemain ini dalam variasinya nanti bisa saja menjadi sangat rumit, serupa kompleksitas peran gelandang bertahan dalam skema empat bek. Tapi posisi dua gelandang serang dalam 3-4-2-1 yang relatif lebih di depan, membuat kompleksitas tersebut tidak akan sampai menimbulkan kerusakan fatal terhadap pertahanan, jika sewaktu-waktu mereka membuat kesalahan.

Kunci dari fleksibilitas yang didapatkan dua pemain ini dihasilkan dari area operasi mereka yang seringkali akan berada di masing-masing halfspace. Tidak seperti dua winger yang sering berjauhan dan posisinya akan lebih sering di flank, berada di halfspace akan membuat dua pemain no. 10 dalam 3-4-2-1 bisa cukup cepat jika diharuskan untuk bergerak ke tengah ataupun ke flank.

Opsi marking yang bisa dilakukan oleh dua gelandang serang dalam 3-4-2-1

Opsi marking yang bisa dilakukan oleh dua gelandang serang dalam 3-4-2-1

Bentuk fleksibilitas tersebut akan sangat kelihatan jika tim sedang dalam fase bertahan. Penempatan posisi yang berada di halfspace ternyata sangat strategis untuk bisa mendapatkan akses pressing terhadap gelandang bertahan lawan, sekaligus tetap bisa untuk menjaga jarak agar tidak terlalu jauh terhadap fullback lawan.

Jika fitur paling kuat dari serangan lawan terletak di pivotnya (seringkali gelandang bertahan) baik itu single ataupun double pivot, kita bisa mengunci dua gelandang serang kita agar terus dekat dengan mereka. Jika ternyata area flank yang menjadi kekuatan utama lawan, kita juga bisa menggeser gelandang serang kita untuk memperkuat area tersebut guna membantu wingback.

Bisa kita lihat dalam fase bertahan, fleksibilitas posisi dua pemain ini cukup membantu untuk menyederhanakan tugas tujuh pemain di belakangnya, karena hanya dua pemain ini saja yang mungkin mendapatkan tambahan peran. Dengan tugas mayoritas pemain yang tidak terlalu rumit, ditambahkan dengan keuntungan satu pemain ekstra di belakang karena kita memang memakai tiga bek, fase bertahan ketika memakai 3-4-2-1 sangat bisa diandalkan.

Di fase setelahnya untuk bisa keluar dari tekanan lawan, formasi 3-4-2-1 juga relatif jauh lebih apik dalam melakukannya daripada 3-5-2. Sama seperti dengan fase sebelumnya, penempatan posisi dua gelandang serang akan kembali berperan krusial dalam fase transisi positif ini.

Jika dihitung dari jumlah pemain yang berada relatif di area depan, 3-4-2-1 menawarkan tiga pemain untuk bisa menginisiasi serangan balik. Sedangkan untuk 3-5-2 hanya mempunyai dua penyerang di depan. Tapi karena umumnya dalam 3-5-2 akan terdapat satu gelandang serang, atau jika dalam ilustrasi angka menjadi 3-4-1-2, jumlah pemain depan dalam fase ini boleh jadi berimbang.

Tapi ada keunggulan yang hanya akan dipunyai oleh 3-4-2-1, yaitu posisi ketiga pemain yang ada di depan lebih efektif untuk mengawal bola keluar dari tekanan lawan. Tidak seperti 3-4-1-2 yang ketiga pemainnya cenderung di area tengah dan secara natural semuanya akan membelakangi gawang lawan, 3-4-2-1 memiliki dua pemain yang berada di halfspace yang akan memudahkan ketiga pemain yang ada saling terlihat satu sama lain dan akan memudahkan aksi saling mengumpan.

Dua gelandang serang yang berada di halfspace juga bisa berfungsi untuk mendelay bola jika tidak menginginkan serangan balik cepat. Hal ini akan memberi wingback waktu untuk melakukan recovery posisi untuk kembali naik, setelah biasanya mereka akan turun cukup jauh ketika bertahan.

Koneksi dua gelandang serang dengan kedua wingback juga akan terus berlanjut jika serangan sudah sampai di area sepertiga akhir. Hal ini yang akan menjadi solusi dari lemahnya 3-5-2 jika harus bertarung di flank, yang sebelumnya sudah kita bicarakan jika hanya akan memiliki satu wingback yang berada di area tersebut.

Keunggulan lain di fase ini yang tidak bisa diabaikan adalah 3-4-2-1 sangat mudah untuk membentuk dominasi dengan memakai empat pemain di tengah. Kita bisa memadukan dua gelandang serang dengan dua gelandang bertahan untuk melakukan overload di area sentral sekaligus. Opsi ini akan sangat berguna jika lini tengah lawan cukup bagus.

3-4-2-1 menghasilkan Situasi 4 vs 3 di tengah melawan 4-2-3-1.

3-4-2-1 menghasilkan Situasi 4 vs 3 di tengah melawan 4-2-3-1.

Jika 3-4-2-1 tidak membutuhkan perubahan posisi pemain secara drastis untuk bisa mendapat empat pemain di tengah, skema empat bek harus mengorbankan dengan tidak memakai winger atau striker untuk bisa mendapatkan situasi yang sama. Tentu saja ini keuntungan yang sangat besar bagi 3-4-2-1, karena untuk mendapatkan situasi yang sama sistem ini tidak harus kehilangan peran striker ataupun dua wingback.

Eksploitasi Halfspace

Begitu banyaknya keunggulan 3-4-2-1 dari formasi lain bukan merupakan trik sihir ataupun tipuan mata. Apa yang sebenarnya terjadi adalah formasi ini memanfaatkan dengan sangat maksimal area halfspace guna menyeimbangkan posisi masing-masing pemain secara ideal, baik itu di depan ataupun di belakang. Mungkin juga formasi ini merupakan formasi pertama yang dari bentuk awalnya saja sudah memiliki empat pemain yang berada di halfspace.

Empat pemain yang di posisi awalnya sudah berada di halfspace.

Empat pemain yang di posisi awalnya sudah berada di halfspace.

Halfspace sendiri merupakan alat bantu untuk mendefinisikan area yang berada di antara tengah dan flank. Sederhananya, kita akan mendapatkan dua area baru dari definisi yang selama ini kita kenal yang hanya mengidentifikasi area tengah, flank kanan dan flank kiri. Untuk lebih jelasnya tentang halfspace bisa dibaca di artikel sangat bagus tulisan Ryan Tank di blog Fandom.id.

Selain itu, kembalinya kesederhanaan yang dibawa oleh skema tiga bek akan sangat membantu pemain untuk bisa tampil lebih maksimal, tanpa mereka harus banyak berpikir tentang salah posisi atau segala hal tentang keseimbangan. Skema tiga bek memang akan lebih mudah membuat pemain bermain lebih lepas, yang nanti akan bermuara kepada meningkatnya kreatifitas.

Saya pikir mungkin saja formasi ini adalah jawaban yang tepat dari permasalahan sepakbola lokal, yang setelah sepuluh tahun masih juga kesulitan menerjemahkan masing-masing peran pemain di skema empat bek. Dulu kita bisa menembus ranking 70 FIFA dengan skema tiga bek, lalu menurun setelahnya sampai sekarang. Tapi benar atau tidaknya ada peran dari skema empat bek atas penurunan ini tentu saja masih bisa diperdebatkan.

Tapi yang jelas, untuk kedepannya sistem tiga bek bukan lagi skema kuno. Dengan adanya 3-4-2-1, mungkin saja sistem tiga bek justru adalah masa depan.

4 Responses to Belajar Taktik: Mendominasi Sepakbola Modern Memakai Formasi 3-4-2-1

  1. Overall, thanks lah, info tentang formasi sepak bolanya.

  2. Tapi kenyataannya tidak di semua kondisi bisa menerapkan formasi itu gan.

Apa Pendapatmu?