List of feeds URL

Belajar Taktik: Membangun Tembok Kokoh 4-4-2 Ala Diego Simeone

article-2617221-1D7B8E4F00000578-841_634x463
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Jika kita sedang membahas pertahanan terbaik yang saat ini ada di tanah Eropa, kita tidak akan bisa mengeluarkan Atletico Madrid dari salah satu pengisi daftar tersebut. Tim yang dibesut Diego Simeone tersebut mungkin satu-satunya tim yang ditakuti bukan dari kemampuan menyerangnya, tapi justru karena solidnya pertahanan yang mereka susun.

Diego Simeone berhasil mengangkat Atletico Madrid ke level paling atas sepakbola Eropa, setelah pada musim 2013/2014 berhasil menjadi finalis Liga Champions, serta sukses meruntuhkan dominasi Barcelona dan Real Madrid di pentas La Liga. Musim lalu memang mereka sedikit menurun, tapi menjadi sebuah kewajaran jika melihat pemain kunci yang dimiliki terus diborong klub-klub lain yang secara finansial lebih mapan setiap musimnya.

Walaupun begitu, sampai sekarang tidak akan ada tim yang berani memandang Atleti sebelah mata, karena atribut yang membawa mereka dulu berjaya masih melekat erat, yaitu pertahanan yang sangat solid, yang memang benar-benar susah ditembus. Selama Simeone masih disana, sepertinya level Atleti sebagai klub kelas satu masih akan terus terjaga.

Simeone dan sistem bertahan yang dibangunnya adalah pondasi utama yang mengangkat Atleti beberapa bar dari yang seharusnya, karena pemain-pemain yang dipakai sebenarnya kebanyakan bukan pemain bintang. Oleh karena itu tidak mengejutkan jika pemain Atleti yang akhirnya dibeli oleh klub lain, menjadi pemain biasa saja setelahnya, karena sebenarnya yang membuat mereka bersinar sebelumnya adalah sistem milik Simeone.

Selain Atleti menjadi tim yang cukup disegani, penghargaan lain atas kecerdasan Simeone adalah sistem bertahan yang dipakainya sekarang menjadi tren dikalangan tim papan atas Eropa. Carlo Ancelotti ketika menangani Real Madrid mengadaptasi sistem Simeone setelah enam bulan berkompetisi di ajang yang sama. Max Allegri juga memakai sistem bertahan serupa musim lalu, yang akhirnya berhasil membawa Juventus sebagai runner up Liga Champions.

Bentuk dasar blok pertahanan 4-4-2 Simeone

Bentuk dasar blok pertahanan 4-4-2 Simeone

Pertahanan yang dibangun Simeone memakai formasi 4-4-2 flat sebagai pondasi awal. Formasi ini memang bisa dipandang sudah mulai uzur di sepakbola modern, diantara dominannya pemakai sistem satu penyerang. Tapi karena Simeone sendiri tidak terlalu tertarik untuk bisa mengusai lini tengah secara berlebihan, dia tidak terlalu masalah dengan tetap memakai dua penyerang sekaligus.

Tapi bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan pertahanan seperti milik Simeone jika kita memakai formasi lain. Ancelotti dengan rapi sukses memadukannya dengan formasi menyerang Madrid yang memakai 4-3-3. Ketika harus bertahan lebih dalam, formasi Madrid akan bertransformasi menjadi 4-4-2 flat dengan Gareth Bale turun ke baris kedua, meninggalkan Karim Benzema dan Cristiano Ronaldo yang tetap berada di depan.

Transformasi 4-3-3 menjadi 4-4-2 Ancelotti di Madrid

Transformasi 4-3-3 menjadi 4-4-2 Ancelotti di Madrid

Hal serupa juga dilakukan Allegri di Juventus, yang ketika menyerang memakai formasi 4-3-1-2. Ketika blok pertahanan dalam fase terendah, gelandang serang akan turun sejajar tiga gelandang yang berada di belakangnya untuk membentuk 4-4-2 flat. Tentunya untuk sistem empat bek lain seperti 4-2-3-1 juga akan mudah berubah menjadi 4-4-2 flat ketika bertahan, dengan membuat gelandang serang tidak turun, tapi justru akan mengambil posisi sejajar dengan striker.

Kenapa harus memakai 4-4-2 flat?

Dengan semakin banyaknya tim yang meninggalkan 4-4-2 sebagai formasi dasar, jumlah tim yang bertahan memakai 4-4-2 juga semakin jarang kita temui, selain tim yang ketika menyerang memakai formasi itu juga. Tim pemakai 4-2-3-1 dan 4-3-3 umumnya akan cenderung bertahan memakai 4-5-1, karena mengikuti arah natural winger dan gelandang serang ketika bergerak turun.

Di variasi lain, 4-3-3 ketika bertahan bisa menjadi 4-1-4-1 dengan menyisakan satu gelandang bertahan yang melindungi area yang berada di antara bek dan baris kedua. Sedangkan variasi dari 4-2-3-1 juga ada yang menjadi 4-4-1-1, dengan menyisakan gelandang serang sebagai penghubung dengan striker yang sendirian agak jauh di depan.

Dibandingkan dengan beberapa pilihan formasi bertahan di atas, 4-4-2 flat seperti yang dipakai Simeone, memiliki keuntungan yang tidak dipunyai formasi yang lain. Tapi keuntungan yang didapat harus disertai dengan sebuah catatan, yaitu bentuk dan eksekusinya harus serupa dengan yang dipakai oleh Atletico Madrid. Jika bentuk dan eksekusinya berbeda, keuntungan yang sama tidak akan didapatkan.

Jarak 25 meter antara 3 line yang membentuk blok pertahanan.

Jarak 25 meter antara 3 line yang membentuk blok pertahanan.

Dari bentuknya, 4-4-2 flat milik Simeone tidak ada yang spesial, hanya pertahanan berlapis tiga seperti pada umumnya. Tapi satu poin yang harus diperhatikan disini adalah jarak antara baris belakang dan baris terdepan harus tidak lebih dari 25 meter. Di manapun posisi bola dan seperti apapun cara lawan menyerang, jarak ini tidak boleh berubah.

Jika penyerang sedikit bergerak naik melakukan pressing, maka garis pertahanan harus ikut bersamaan naik. Jika garis pertahanan turun, misalnya ketika mengantisipasi umpan panjang lawan, maka striker juga harus tetap menjaga jarak dengan juga mengikuti bergerak turun. Jika anda masih ingat dengan sistem bertahan Arrigo Sacchi, maka akan mudah untuk mengambil kesimpulan jika Simeone adalah penganut metode pelatih legendaris Italia tersebut.

Cara bertahan ala Sacchi ini bisa menerjemahkan dengan sangat sempurna definisi Pep Guardiola, yang mengatakan jika tim yang sedang tanpa bola, berhak untuk menikmati kontrol atas ruang. Dengan bentuk 4-4-2 rapat seperti ini, kita bisa mencegah lawan untuk bisa masuk melalui tengah, yang merupakan ruang yang paling vital untuk mencetak gol.

Di fase awal, garis pertahanan yang diambil akan tidak jauh dari kotak penalti. Akan ada bantuan dari garis kotak penalti sebagai penanda, yang akan sangat berguna bagi pemain belakang untuk memandu mereka dalam menentukan posisi yang tepat. Selain itu, garis pertahanan di posisi tersebut juga dimaksudkan untuk memperluas area proteksi terhadap gawang.

Terkait:  Barcelona 1 - 1 Atletico Madrid: Duel Taktik Level Top Di Laga Penentuan Gelar

simoene442-4

Seperti dalam ilustrasi, jarak antara garis pertahanan dan kiper akan membentuk ruangan nomer satu. Jarak yang dihasilkan akan berkisar kurang lebih 15 meter. Ruangan berukuran sedang ini bisa dikatakan cukup untuk melindungi area di depan gawang. Jika lawan memutuskan melambungkan bola di belakang bek, atau memberikan umpan terobosan datar, kemungkinan besar akan sangat mudah bagi kiper untuk mengantisipasinya untuk mendapatkan bola terlebih dahulu.

Di ruangan kedua, yaitu antara bek dan gelandang, jarak yang terbentuk tidak akan lebih dari 13 meter. Ruangan ini hampir pasti tidak akan bisa diakses oleh lawan tanpa bola harus berpindah penguasaan. Jarak yang dihasilkan dalam takaran ideal untuk membuat lawan ragu-ragu mengirim umpan ke area tersebut. Dalam prakteknya, bahkan tim selevel Barcelona yang memiliki Lionel Messi pun tidak berkutik di ruangan ini.

Akses pressing 4 pemain di ruangan kedua.

Akses pressing 4 pemain di ruangan kedua.

Yang membuat ruangan ini akan sangat steril adalah kita akan cukup mudah untuk melakukan pressing dengan memakai empat pemain jika lawan berani masuk ke area tersebut. Kerapatan secara vertikal tiap baris dan secara horizontal dari posisi pemain yang mengisi baris tersebut, memungkinkan pressing cepat langsung dari empat pemain bisa terjadi. Situasi yang sama tidak akan didapatkan oleh formasi 4-1-4-1, tapi masih bisa didapatkan oleh formasi 4-5-1 asalkan kerapatan kedua barisnya sama.

Di ruangan ketiga, kita masih bisa mendapatkan situasi pressing empat pemain jika lawan berada tepat di tengah, karena kita memang memposisikan kedua striker kita tepat di depan barisan gelandang. Sedangkan di posisi agak menyamping, kita cuma mendapatkan akses pressing tiga pemain, tapi tentu saja situasi tersebut sudah sangat baik. Hal yang sama tidak akan didapatkan oleh formasi yang hanya menyisakan satu pemain tepat di depan gelandang, seperti 4-5-1 atau 4-4-1-1.

Ruangan keempat, atau area yang berada di depan kedua striker adalah area yang dimaksudkan tanpa pressing. Jadi tidak ada kewajiban bagi striker untuk berpindah posisi dengan naik melakukan pressing. Area ini sengaja dilepas untuk tetap menjaga bentuk pertahanan agar tidak rusak. Membiarkan lawan bebas di area tersebut tidak akan berdampak buruk bagi pertahanan karena tentu saja tidak ada akses langsung untuk bisa mengancam gawang kita.

Perimeter 40 meter dari gawang dan posisi dua pivot lawan yang harus lebih turun karena tertutup dua penyerang.

Perimeter 40 meter dari gawang dan posisi dua pivot lawan yang harus lebih turun karena tertutup dua penyerang.

Bisa kita lihat jika 4-4-2 flat rapat yang dipakai Simeone membentuk perimeter sekitar 40 meter untuk melindungi gawang. Desain ini akan memaksa kontrol serangan lawan minimal harus berjarak 50 meter dari gawang kita, jika mereka ingin mendikte ritme aliran bola dengan nyaman.

Posisi ideal bagi pivot serangan yang biasanya diperankan oleh gelandang bertahan untuk membagi bola, kali ini sudah tercover sempurna oleh posisi dua striker kita. Mau tidak mau mereka harus mengambil posisi lebih ke belakang, yang juga artinya akan lebih susah mengakses pemain yang berada di depan dengan umpan akurat.

Situasi yang sama tidak akan diperoleh jika formasi bertahan memakai 4-5-1, karena akan hanya ada satu penyerang kita di depan blok pertahanan. Satu saja pemain di area ini masih terlalu mudah bagi lawan untuk mengakalinya, seperti dengan memakai dua pivot sekaligus untuk menciptakan situasi 2 v 1.

Lain halnya dengan ketika ada dua striker kita di area tersebut. Jika lawan ingin mencari superioritas, maka harus memakai tiga pemain sekaligus untuk bisa memutar bola dengan nyaman dalam situasi 3 v 2. Tentu terlalu banyak pemain di area tersebut akan memaksa lawan untuk mengurangi pemain di area lain.

Gelandang serang harus turun untuk menjemput bola dan tersisa lebih sedikit pemain lawan di depan.

Gelandang serang harus turun untuk menjemput bola dan tersisa lebih sedikit pemain lawan di depan.

Jika yang ditugaskan adalah pemain yang seharusnya lebih di depan, seperti gelandang serang yang harus turun untuk menjemput bola, berarti intimidasi ruang yang kita lakukan terhitung sukses. Secara tidak langsung kita berhasil mengurangi pemain lawan yang bisa mengancam di dekat gawang.

Selain lebih sedikit pemain di depan, kontrol serangan yang terlalu jauh akan mempersulit lawan untuk bisa mendapatkan dimensi serangan yang baik, karena akan lebih banyak umpan vertikal yang dipakai agar serangan bisa mendapatkan progresi. Umpan vertikal tentu saja lebih sulit untuk dikontrol, apalagi diantara blok rapat yang sebelumnya sudah kita susun.

Desain Menyempit Ke Tengah

Jika kita perhatikan lagi dari desain yang dipakai, baik barisan pertahanan dan barisan gelandang, keduanya mengambil posisi awal dengan menyempit ke tengah. Jadi selain tiap posisi pemain rapat secara vertikal, mereka juga akan rapat secara horizontal.

Bentuk menyempit ini akan meninggalkan kedua flank terbuka dalam fase awal. Desain seperti ini akan memberi beberapa keuntungan sekaligus, yang keuntungan yang sama tidak akan didapatkan jika kita sejak fase awal sudah membagi rata setiap pemain agar menutup semua area horizontal yang ada.

Desain blok pertahanan menyempit ke tengah dan 2 flank yang dibiarkan terbuka.

Desain blok pertahanan menyempit ke tengah dan 2 flank yang dibiarkan terbuka.

Keuntungan pertama adalah kerapatan yang dihasilkan sangat bagus untuk bisa melindungi area paling vital bagi gawang. Oleh karena itu kita akan dengan mudah untuk mendapatkan situasi pressing memakai empat pemain, jika lawan cukup berani mencoba masuk ke area tersebut, atau mengirim umpan ke pemain yang berada di depan.

Konsekuensi positif untuk kita setelah mencegah lawan untuk berani mencoba masuk lewat tengah adalah kita akan lebih mudah untuk menebak kemana selanjutnya arah serangan lawan. Seperti halnya melakukan kontrol ruang dalam artikel high pressing sebelumnya, kita akan mendapatkan bonus untuk bisa mengetahui lebih awal kemana arah bola selanjutnya.

Terkait:  Indonesia U19 3 - 2 Korea Selatan U19: Lebih Kuat Di Tengah Dan Flank

Jika desain pertahanan tidak dibuat intimidatif terhadap ruang seperti ini dan cenderung untuk membagi rata pemain secara horizontal, lawan bisa mencoba masuk dari sisi manapun karena jarak dari tiap pemain secara horizontal akan cukup melebar. Dengan begitu ada peluang kita akan kesulitan mengontrol arah serangan lawan, yang dengan kata lain kita tidak memanfaatkan dengan baik kontrol atas ruang yang kita miliki.

Arah serangan dari lawan paling mungkin akan bergerak ke flank, karena disanalah kita biarkan area tersebut tetap terbuka. Bola bergerak akan ke flank kanan atau ke flank kiri, bisa kita menebak dari lebih berat kemana posisi awal bola sebelumnya. Perpindahan bola dari flank satu ke yang lain dengan cepat akan cukup susah, karena kita sudah menutup area ideal untuk melakukannya dengan posisi dua striker kita.

Keuntungan yang didapat jika kita bisa dengan mudah menebak kemana arah serangan lawan adalah kita bisa menyiapkan pressing trap (jebakan pressing) sebelum bola sampai di area tersebut. Dengan kata lain, desain yang dipakai Simeone ini juga sudah memiliki pressing trap sejak awal.

Pressing trap yang sama akan sulit didapatkan jika kita memakai 4-5-1 ketika bertahan. Lima pemain di tengah walaupun dibuat serapat mungkin posisinya, masih akan cukup melebar dan memenuhi lapangan secara horizontal. Jika kita tidak memancing ruangan terbuka untuk lawan di fase awal, kita akan sulit untuk meyakinkan mereka agar mau masuk area tersebut, dan rencana pressing trap tidak akan terwujud.

Jika kita tidak menyiapkan pressing trap ketika bertahan memakai zonal marking, maka entah bagaimana kita bisa mendapatkan kesempatan untuk merebut bola. Seringkali hasilnya pemain kita tidak sabar terlalu lama tanpa bola, lalu mulai berlari kesana kemari melakukan pressing dan meninggalkan zona yang sebenarnya harus dia jaga.

Tiga Gelombang Pressing

Dua fase yang dipakai Diego Simeone di atas merupakan metode yang sama persis dengan yang dipakai oleh Arrigo Sacchi, baik itu ketika berjaya menanggani AC Milan maupun Timnas Italia. Tapi untuk fase setelahnya, yaitu ketika dalam fase menutup flank, Simeone menambahkan dengan inovasi miliknya sendiri, yang membuat sistem miliknya lebih cocok untuk sepakbola modern.

Sisa-sisa metode yang dulu dipakai Sacchi saat ini masih bisa kita lihat di beberapa tim di Bundesliga dan La Liga. Mereka bertahan sama dengan dua fase di atas dengan memakai 4-4-2 rapat menyempit ke tengah dan mengeksekusi pressing trap di area flank. Ketika bola mulai masuk ke flank, winger terdekat akan memimpin blok pertahanan untuk bergeser ke flank, sembari juga tetap menjaga kerapatan.

Transisi blok horizontal metode Sacchi

Transisi blok horizontal metode Sacchi

Sebenarnya metode transisi horizontal blok pertahanan seperti itu masih cukup efektif. Tapi seiring dengan semakin intensif dan semakin cepatnya tempo yang dipakai di sepakbola modern, menjaga stamina pemain agar siap untuk bisa terus bergeser ke kanan dan ke kiri dengan cepat sambil menjaga kerapatan, merupakan tantangan tersendiri.

Simeone memang masih memakai metode dari Sacchi untuk dua fase awal, tapi di fase selanjutnya untuk mengeksekusi pressing trap, dia memiliki resep agar blok pertahanan tidak harus terus bergeser ke kanan dan ke kiri sejak sejak awal. Selain akan menguntungkan dalam menjaga stamina pemain, blok yang tidak terlalu sering bergeser akan lebih memudahkan organisasi dan menjadikannya tetap terlihat solid.

Bentuk pertahanan yang terlalu mudah bergerak tidak akan menjadi pertahanan yang solid, karena akan memperbesar kita kehilangan bentuk pertahanan terbaik. Semakin sedikit pemain yang harus bergerak, terutama pemain yang di area tengah, akan semakin sulit juga bagi lawan untuk mendapatkan ruang bebas ketika mendapatkan peluang.

Solusi yang dipakai Simeone ketika lawan mulai masuk ke flank adalah dia tidak memakai winger terdekat untuk menjadi pemain pertama yang melakukan pressing. Simeone justru memakai fullback sebagai pemain yang pertama harus menutup lawan, sedangkan winger masih tetap menjaga posisi awalnya.

Pergerakan pressing yang dilakukan oleh fullback, yang selalu menutup dari arah vertikal.

Pergerakan pressing yang dilakukan oleh fullback, yang selalu menutup dari arah vertikal.

Hal yang sama juga akan dilakukan oleh tiga pemain lain di barisan belakang, mereka tidak akan mengikuti fullback untuk bergerak secara horizontal ke flank. Bersama dengan gelandang yang lain, tiga bek tersisa hanya akan menurunkan garis pertahanan dengan sedikit masuk ke kotak penalti, untuk mulai mengantisipasi lawan melakukan crossing.

Bisa kita lihat di momen ini jika di awal bola sampai di flank, blok pertahanan berhasil dibuat tidak perlu bergeser, karena aksi fullback yang akan berperan sebagai pemain yang menutup lebar lapangan. Situasi ini menjadi upgrade signifikan untuk sistem yang diperkenalkan oleh Sacchi, karena sekarang hanya satu saja pemain yang harus bergerak. Jika lawan melakukan backpass dan bola dipindah ke flank jauh, aksi yang sama juga akan dilakukan oleh fullback kita di flank jauh, yang artinya juga kita masih tetap bisa meminimalisir pergeseran pemain.

Tugas dari fullback di fase ini sebenarnya cukup sederhana, tapi sangat krusial. Situasi yang harus dipastikannya akan terjadi adalah dia harus cukup cepat ketika bergerak ke flank agar bisa menutup lawan secara vertikal (lihat ilustrasi di atas), sehingga bola tidak bisa dibawa lebih jauh masuk ke dalam. Jika fullback tidak cukup cepat dan gagal menutup secara vertikal, maka kemungkinan bentuk paling ideal pertahanan akan sulit didapat.

Terkait:  Sepakbola Ladang Opini Dan Permainan Opini

Fullback akan berperan sebagai gelombang pressing pertama di fase ini. Tugasnya adalah untuk memastikan setelah bola berada di flank, lawan tidak bisa menyisir naik secara vertikal melalui flank, tapi justru menggiringnya untuk bergerak ke tengah. Alasan untuk memaksa lawan bergerak ke tengah adalah karena kita sudah menyiapkan pressing lanjutan.

Winger sebagai gelombang pressing kedua.

Winger sebagai gelombang pressing kedua.

Di situasi ini pemain sayap kita baru akan bergerak dan memainkan peran sebagai gelombang pressing kedua. Dengan memanfaatkan hasil kerja fullback yang sudah memaksa lawan hanya bisa bergerak ke tengah, arah gerakan pemain sayap kita yang justru datang dari arah tengah akan sangat mempersulit posisi pemain lawan yang berada di flank. Jika respon lawan terhitung lambat, kita bisa dengan mudah mendapatkan situasi 2 v 1.

Urutan pressing dari fullback dan pemain sayap yang seperti di atas, sangat ideal untuk menghadapi tipikal inverted winger yang umum dipakai di sepakbola modern, yang sering kali justru melakukan dribbling masuk ke tengah sebelum langsung melakukan tembakan. Kita bisa menutup lawan langsung dari dua arah dan situasi ini akan mematikan potensinya untuk melakukan dribbling cut inside. Dalam prakteknya, pemain  sekelas Ronaldo dan Neymar akan mati kutu jika berada di area ini.

Dua striker sebagai gelombang pressing ketiga.

Dua striker sebagai gelombang pressing ketiga.

Opsi lain dari pemain lawan adalah dengan membawa bola turun, atau melakukan backpass, untuk mengembalikan lagi bola ke belakang. Di momen ini kita akan memakai dua striker kita sebagai gelombang pressing ketiga. Posisi awal yang sudah berada di tengah bisa menjamin kecepatan yang bagus ketika mereka akan melakukan pressing ke flank.

Kemungkinan lain yang mungkin terjadi adalah apabila fullback lawan cukup cepat naik untuk membantu rekannya dan membuat situasi menjadi 2 v 2. Simeone sudah mengantisipasi kemungkinan ini sebelumnya. Persiapan pertama adalah dengan memastikan pressing pertama yang dilakukan fullback kita selalu mencegah lawan naik secara vertikal. Sedangkan persiapan lainnya yaitu backline telah diturunkan lebih awal untuk mengantisipasi datangnya crossing.

Dengan kita sudah menutup opsi umpan pendek hampir ke segala arah, kemungkinan mereka akan memilih opsi crossing akan cukup tinggi. Hal itu tidak terlalu masalah, karena kita juga memiliki opsi dengan menumpuk sampai bisa lima pemain di dalam kotak penalti, tergantung seberapa kuat lawan ketika menyambut crossing.

Antisipasi fullback lawan overlap dan kemungkinan early crossing yang berpeluang terjadi.

Antisipasi fullback lawan overlap dan kemungkinan early crossing yang berpeluang terjadi.

Selain itu dengan menutup secara vertikal sejak awal agar bola tidak dibawa lebih ke dalam, kita bisa memastikan jika crossing yang dilakukan akan selalu early cross, atau crossing yang dilakukan dari posisi yang belum di samping kotak penalti. Crossing dari posisi ini jauh lebih mudah diantisipasi, karena jarak tempuh bola menjadi lebih jauh dan akan mudah ditebak. Selain itu sudut bola yang dihasilkan juga akan cukup sulit untuk langsung bisa dibelokkan ke gawang dengan kecepatan pantulan yang bagus.

Kelemahan Dan Antisipasi

Sistem bertahan milik Simeone ini didesain sangat bagus untuk bisa mengantisipasi banyak model serangan lawan dan juga dengan baik memanfaatkan kontrol atas ruang yang dimiliki. Hal yang paling penting tentunya adalah sistem ini sudah terbukti di level top.

Tapi seperti sistem lain, sistem ini juga masih memiliki kelemahan yang bisa dieksploitasi. Lubang bisa terbentuk ketika fullback melakukan pressing dan mulai terpisah dengan tiga bek lainnya. Jarak yang dihasilkan antara fullback dan bek tengah bisa berakibat fatal jika lawan bisa melihatnya. Ini adalah satu-satunya efek buruk yang dihasilkan.

Namun walaupun lawan bisa menemukan lubang ini, untuk bisa memanfaatkannya bukan perkara gampang. Hanya winger yang sejak awal berada di halfspace yang bisa masuk ke lubang ini, yang artinya sejak awal fullback lawan harus agresif mengambil posisi naik menggantikan winger mereka agar bisa menarik fullback kita keluar.

Lubang yang bisa dimanfaatkan.

Lubang yang bisa dimanfaatkan.

Selama ini hanya beberapa kali saja lubang ini berhasil di eksplotasi lawan. Selain lawan harus benar-benar merencanakan ini sebelumnya, fullback lawan juga hanya memiliki kesempatan satu sentuhan saja untuk memindah bola ke rekan wingernya. Dia akan beradu kecepatan dengan pressing dari dua arah yang datang.

Jadi untuk mencegah lubang ini terbuka, kita harus memastikan setiap gelombang pressing akan dieksekusi dengan cepat. Pemain harus mulai bergerak bersamaan dengan bola yang akan dilepas oleh lawan untuk menuju flank. Sehingga ketika bola sampai di kaki pemain lawan, pressing dari dua arah yang kita lakukan juga sudah siap untuk mencegah bola diarahkan ke lubang tersebut.

Sebagai catatan tambahan, posisi awal garis pertahanan tidak harus selalu tepat di depan garis kotak penalti. Jika kemampuan lawan untuk mengekploitasi ruangan antara kiper dan bek tidak terlalu bagus, kita bisa menaikkan garis pertahanan terlebih dahulu sesuai kebutuhan. Blok pertahanan yang lebih tinggi akan membantu kita agar tidak melewatkan kesempatan melakukan high pressing jika passing lawan tiba-tiba belepotan.

Hal yang paling menguntungkan untuk kita adalah sistem ini cukup mudah untuk diaplikasikan, karena memang cukup sederhana. Selain itu, hampir semua sistem yang memakai empat bek, walaupun kita tidak memakai 4-4-2 flat sebagai formasi menyerang, bisa cukup gampang untuk mengadaptasi sistem ini khusus untuk fase bertahan saja.

Situasi unik yang diakibatkan kemudahan sistem ini untuk diadaptasi adalah Carlo Ancelotti berhasil mengalahkan Simeone di final Liga Champions dua musim lalu dengan mencontek sistem ini. Sedangkan Allegri juga mengalahkan Ancelotti satu musim setelahnya di ajang yang sama, juga dengan memakai sistem hasil inovasi Simeone. Mereka sukses memadukan fleksibilitas formasi lain ketika menyerang dengan kokohnya 4-4-2 flat ketika bertahan.

Jadi sudah sepantasnya kita semua mengucapkan, Grazie Simeone.

2 Responses to Belajar Taktik: Membangun Tembok Kokoh 4-4-2 Ala Diego Simeone

  1. fransucipto says:

    Misal lawan pakai 1-3-4-3, RW narrow dan WB naik hingga posisinya sejajar dengan RW ATM. Apakah pressing-nya RW ATM yg ambil atau tetap tunggu WB lawan naik sampai FB ATM bisa pressing??

    • Saya belum pernah lihat Atleti lawan formasi ini, tapi sebenarnya ini contoh kasus yang bagus. Lawan yang pakai 3-4-3 seperti di pertanyaan, atau bisa disebut 3-4-2-1, memang berpeluang merusak bentuk defense 4-4-2 flat karena posisi nanggung dua wingernya.

      Jika disuruh memilih, sebaiknya tetap fullback yang cover wingback lawan dan winger kita yang cover winger lawan. Alasannya, di situasi ini nanti yang harus divariasi cuma peran winger kita, tidak keseluruhan bentuk pertahanan. Kita punya empat gelandang, seharusnya satu divariasi, formasi masih stabil. Apalagi dua gelandang lawan seharusnya sudah dicover dua striker kita. Plus tiga gelandang yang lain bisa tetap narrow, itu yang paling penting.

Apa Pendapatmu?