List of feeds URL

Belajar Taktik: High Pressing 4-3-3 Dengan Kontrol Ruang

hp
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Dengan semakin banyaknya tim yang memakai taktik menyusun serangan dari belakang, maka berkembang pula antisipasi untuk taktik tersebut, yang sering disebut juga dengan high pressing. Ketika lawan sedang mencoba memainkan bola di area sendiri, kita coba meladeni juga dengan menempatkan banyak pemain di area lawan tersebut.

Mengutip apa yang diucapkan oleh Pep Guardiola, di sepakbola ada dua macam kontrol. Jika sebuah tim sedang menguasai bola, maka mereka sedang mendapatkan kontrol atas bola. Sedangkan untuk sang lawan yang sedang tidak menguasai bola, maka mereka sedang menikmati kontrol atas ruang. Karena high pressing termasuk dalam fase bertahan, maka taktik ini akan bermain-main dengan yang disebut ruang.

Pengertian atas mengontrol ruang ini harus kita jadikan patokan selama memainkan high pressing. Ada beberapa tim pengguna taktik high pressing yang mengabaikan pedoman kontrol atas ruang ini, yang berakibat mereka kehilangan kontrol dalam fase bertahan dan lawan bisa menghantam mereka dengan kontrol atas bola yang dimiliki.

Seperti di artikel yang sempat saya tulis buat Kickoff Indonesia, Pep Guardiola di buku Pep Confidential, mengatakan jika high pressing adalah taktik yang terhitung dalam takaran aman untuk bertahan. Menurutnya taktik ini aman karena memang dilakukan di area yang jauh dari gawang sendiri, yaitu dengan menekan lawan langsung di area mereka.

Apa yang diucapkan Pep memang benar adanya. Tapi yang perlu diperhatikan adalah jika yang dia katakan itu dalam konteks jika sistem high pressing yang dipakai memakai sistem yang dibangun olehnya sendiri. Sedangkan nyatanya, banyak tim yang memakai taktik ini justru berakhir dengan memberikan momentum serangan secara cuma-cuma kepada lawan, terutama jika bola berhasil melewati garis pertahanan terakhir yang dibentuk.

Jadi kita harus sedikit berhati-hati ketika memakai taktik ini, karena jika terjadi kesalahan dalam aplikasinya, justru akan jadi bumerang untuk pertahanan kita. Tapi bukan berarti juga sebaiknya kita tidak usah memakainya sama sekali. Ada banyak sekali keuntungan dengan menerapkan high pressing, yang akan sayang sekali untuk diabaikan. Tinggal bagaimana cara kita menerapkannya dalam permainan dan kita tetap bisa menjaganya dalam konteks aman.

Kerugian Dan Keuntungan

High pressing termasuk taktik yang terhitung baru (populer) dalam sepakbola. Garis pertahanan dinaikkan sampai hampir menyentuh garis tengah lapangan, dengan tujuan agar pemain tengah dan depan bisa menekan di daerah lawan. Dengan situasi ini, bek akan dipaksa bertahan tapi di posisi yang mungkin kurang familiar buat mereka.

Bek harus bertahan di garis tengah, yang tentu saja akan berbeda cara mengeksekusinya dengan jika mereka bertahan di dalam atau di depan kotak penalti. Mereka bukan saja harus siap menghadapi serangan dari arah depan, tapi juga harus siap lari melindungi area seluas separuh lapangan di belakangnya. Disini tidak cukup hanya bek yang berbadan kokoh dan bagus dalam tackling. Mereka juga harus mempunyai atribut kecepatan, yang nanti akan siap diadu dengan penyerang lawan.

Syarat penting ini yang sering tidak dipunyai bek-bek tradisional. Contohnya ketika Andre Villas-Boaz sewaktu di Chelsea mengajak John Terry dan Gary Cahill untuk memainkan taktik ini dan hasilnya sangatlah buruk. Akhirnya di Eropa banyak yang memakai pemain bertipikal gelandang bertahan sebagai bek untuk penerapan high pressing. Para gelandang tersebut lebih bisa diharapkan efektifitasnya daripada memakai bek tradisional, karena mereka memang lebih akrab jika diharuskan bertahan di sekitar garis tengah.

Area separuh lapangan di belakang garis pertahanan ini memang harus dipertimbangkan matang-matang, karena akan selalu memberikan lawan tempo menyerang yang selalu cepat kalau bola bisa melewati garis pertahanan. Jika lawan memiliki beberapa penyerang dengan kecepatan yang bagus, taktik ini justru bisa menjadi kelemahan buat pemakainya.

Kekurangan lain adalah berkurangnya waktu istirahat bagi pemain setelah fase menyerang berakhir. Pemain dituntut untuk tetap menjaga intensitasnya, dengan melanjutkan ke fase bertahan yang secara konstan melakukan pressing di area lawan. Kondisi istirahat yang dimaksud tidak akan ditemui jika dibandingkan dengan tim yang memakai taktik bertahan dengan menunggu lawan jauh di area sendiri.

Biasanya untuk tim yang memakai high pressing, kondisi istirahat justru didapat ketika mereka sudah berhasil merebut bola dari lawan dan mulai masuk dalam fase ball possession. Jika bola berhasil direbut di area tengah, mereka menurunkan tempo dengan ball possession agar level intensitas tidak terus tinggi.

Seperti hal lain di sepakbola, dibalik kerugian selalu ada keuntungan. Dengan memakai high pressing setelah dalam fase menyerang, para pemain tidak harus turun terlalu jauh sampai ke area sendiri. Dengan tidak harus turun terlalu jauh, sedikit stamina akan bisa disimpan dan akan bisa menutup konsekuensi dari kerugian berkurangnya waktu istirahat, seperti yang disebutkan sebelumnya.

High pressing juga membawa keuntungan jika lawan memiliki penyerang yang bagus dengan sundulan. Dengan menetapkan garis offside yang jauh dari gawang sendiri, otomatis keunggulan striker lawan tersebut jadi tidak berguna, karena dia akan lebih sering berada di posisi yang tidak bisa secara langsung mengancam gawang kita.

Selain itu, taktik ini bisa mencegah lawan untuk menemukan ritme permainan mereka. Dengan terus mengganggu penguasaan bola lawan, diharapkan ritme lawan akan sulit terbentuk, daripada jika kita membiarkan lawan dengan santai saling mengumpan tanpa gangguan di area sendiri. Tanpa ritme, bisa dipastikan organisasi menyerang mereka akan terganggu.

Seperti yang dijelaskan di artikel Mengontrol Tempo, bisa memaksa lawan untuk tidak memainkan ritme mereka sendiri, berarti akan memaksa mereka bermain tidak dalam kondisi ideal. Tanpa situasi yang mereka harapkan, kita akan lebih sering menemui situasi salah umpan atau salah pengertian antar pemain lawan. Dengan memaksakan situasi yang tidak ideal ini kepada lawan, bola nanti akhirnya akan jadi lebih mudah berpindah penguasaan.

Keuntungan terakhir adalah mudahnya kita untuk bisa mendapatkan situasi fast break, dan situasi ini tidak akan bisa didapatkan tanpa kita melakukan high pressing terlebih dahulu. Keuntungan mendapatkan situasi fast break ini adalah yang paling berharga daripada yang lain, karena ini adalah situasi yang paling ideal untuk bisa mencetak gol di sepakbola.

Terkait:  Belajar Taktik: Memahami Skema Build Up Serangan Dari Kiper

Fast break akan didapat ketika lawan kehilangan bola saat masih di area sepertiga akhir pertahanan sendiri atau tidak jauh dari kotak penaltinya. Dengan mendapatkan bola di area ini, kita bisa langsung menekan lawan di saat mereka sebenarnya tidak dalam fase bertahan, dan kondisi ini yang membuat efektifitas fast break menjadi sangat tinggi untuk menjadi gol.

Fast break jauh lebih efektif untuk menghasilkan gol daripada serangan balik, karena posisi ketika memulai serangan yang jauh lebih dekat dengan gawang lawan. Tidak terhitung banyaknya Lionel Messi menuai gol yang berawal dari situasi fast break.

Mengontrol Ruang

Jadi kita sudah mengetahui kerugian dan keuntungan jika memakai high pressing. Karena kita tidak mau kalah dengan cara yang konyol setelah memakai taktik ini, kita harus menemukan cara untuk mereduksi potensi kerugian yang diakibatkan terlebih dahulu. Untuk menguranginya, kita harus benar-benar memahami konsep tentang mengontrol ruang ketika memakai taktik ini.

Kontrol atas ruang memang akan selalu menjadi milik tim yang sedang tanpa bola. Definisi sederhananya, tim yang sedang bertahan berhak menentukan dimana area duel akan berlangsung. Hal ini akan berlawanan dengan kontrol atas bola yang dimiliki oleh tim penyerang, yang nantinya mereka berhak menentukan bagaimana situasi duel akan terjadi.

Seperti jika kita memakai strategi bertahan total dengan menumpuk 10 pemain di sekitar kotak penalti sendiri, berarti kita sedang mengajak lawan untuk berduel di area tersebut. Sedangkan lawan yang akan menentukan bagaimana dan seperti apa duelnya akan berlangsung, dengan banyak crossing, banyak tendangan jarak jauh, umpan-umpan panjang, atau dengan banyak umpan datar menyusur tanah.

Untuk taktik high pressing ini, kita menentukan area duel agar terjadi di area lawan dengan memanfaatkan aturan offside. Dengan bek kita yang berdiri hampir di garis tengah, maka penyerang lawan juga terpaksa akan mengikuti ke posisi itu, demikian juga deretan pemain di belakangnya akan terpaksa ikut terdorong terus ke belakang, karena mereka tentunya tidak ingin posisinya saling menumpuk satu sama lain.

Inilah bentuk fungsi pertama dari kontrol ruang yang kita miliki. Memaksa lawan hanya bisa memainkan bola di areanya sendiri. Dengan mendorong lawan menjauhi gawang kita sampai garis tengah seperti ini, apakah sudah bisa dikategorikan aman? Belum tentu. Skenario terburuk dari situasi ini adalah jika lawan ternyata berhasil menemukan penyerangnya melalui umpan, baik itu umpan datar di depan backline kita, atau umpan lambung yang seringkali ditargetkan di belakang backline kita.

Hampir semua pemain tengah kita akan agresif di area lawan. Setiap bola yang bisa didapatkan pemain depan lawan akan berbahaya, walaupun kita masih menyisakan bek kita untuk menghadang mereka. Luasnya area untuk berakselerasi akan sangat menguntungkan pihak penyerang dan otomatis jadi mimpi buruk buat para pemain bertahan.

Untuk menghindari situasi ini, desain high pressing harus benar-benar bisa mencegah lawan memberikan umpan langsung ke kaki pemain depan mereka. Jika yang disodorkan adalah umpan lambung atau umpan daerah, maka kita harus mencegah bola memantul liar di rumput dan menjadikan situasi fifty-fifty. Kita harus bisa membuat pemain belakang selalu bisa menyentuh bola terlebih dahulu dimanapun bola akan jatuh.

Mengelabui Superioritas

Sesuai dengan formasi 4-3-3 yang kita jadikan model, kita akan memakai empat bek, tiga gelandang dan tiga pemain depan. Sedangkan untuk lawan, kita akan memakai formasi 4-2-3-1 sebagai model, dengan alasan formasi ini merupakan yang paling banyak dipakai saat ini.

high-pressing-2

Klik gambar untuk memperjelas.

Di posisi awal, dua fullback kita akan menempel ketat dua winger lawan yang berada masing-masing di areanya. Sedangkan dua bek tengah kita akan menjaga satu stiker lawan. Pendekatan man marking kita gunakan sedari awal untuk mencegah umpan langsung tepat ke kaki para pemain depan lawan. Empat pemain belakang ini juga akan berperan membentuk dan menjaga garis offside yang posisinya tidak jauh dari garis tengah.

Dengan situasi lini belakang seperti ini di awal, kita memiliki satu masalah di area lawan. Dengan memakai empat pemain di belakang, akan hanya tersisa enam pemain lagi, yang tersusun tiga sebagai gelandang dan tiga sebagai pemain depan. Sedangkan buat lawan dengan tiga pemain terdepan sudah kita jaga, mereka masih mempunyai tujuh pemain untuk melakukan build up, serta ditambah lagi satu kiper yang juga harus kita hitung, karena memang kita sudah mendorong mereka jauh sekali turun.

Akan terjadi 6 vs 8 di area lawan dan situasi kalah jumlah ini akan menjadi kurang ideal bagi kita, terutama jika lawan bisa cukup bagus ketika mengalirkan dan memindah bola ke seluruh area yang tersedia. Yang perlu diperhatikan disini, kita akan kalah jumlah jika semua area bisa dialiri bola. Tapi jika kita bisa memaksa lawan agar tidak bisa memakai semua area yang tersedia, kita masih mempunyai kesempatan untuk tidak (tampak) kalah jumlah pemain.

Fase Bola Di Area Kiper

high-pressing-3

Fase awal high pressing

Di fase awal atau ketika bola masih dikuasai oleh kiper, posisi ideal dari tiap pemain sebelum melakukan progresi bisa dilihat seperti di ilustrasi. Disini kita memanfaatkan kontrol atas ruang, dengan mengurung pemain tengah lawan agar bola tidak disodorkan kepada mereka.

Ada banyak keuntungan dengan mengawali dari block tidak terlalu tinggi tapi rapat di tengah seperti ini. Kita bisa mengisolasi tiga pemain tengah mereka, sekaligus bentuk ini tidak terlalu sulit diingat setiap posisinya. Yang juga tidak kalah penting, posisi berdekatan akan memudahkan pemain berkomunikasi untuk melakukan koordinasi.

Block sempit di tengah dan posisi dua bek tengah lawan yang tidak terjaga

Block sempit di tengah dan posisi dua bek tengah lawan yang tidak terjaga

Tapi mengambil posisi seperti ini berdampak dua bek lawan tidak terjaga. Mungkin tampak tidak terlalu baik, tapi sebenarnya kita masih bisa mengambil beberapa keuntungan dengan melepas mereka di awal. Jika kita langsung mendekati mereka, seringkali lawan akan membatalkan fase build up dan memilih melakukan tendangan gawang jauh. Justru jika fase ini batal terlaksana kita malah merugi, mengingat banyaknya keuntungan dari high pressing seperti yang disebutkan di atas.

Terkait:  Sepakbola Ladang Opini Dan Permainan Opini

Alasan lainnya dengan membiarkan tiga pemain lawan paling belakang tidak terjaga adalah dari delapan pemain lawan di areanya, tiga pemain ini adalah yang secara natural sejak awal sudah menghadap ke depan. Dengan melepas mereka terlebih dahulu, sebenarnya kita memberikan mereka kesempatan agar melakukan umpan panjang ke depan, jika mereka mau.

Tapi tentu saja ini hanya pancingan, karena dari posisi mereka berada, akan cukup sulit untuk membuat umpan yang bisa melewati backline kita. Dengan begitu bola akan sangat mungkin jatuh di depan backline, yang tentu saja kita sudah siap dengan keunggulan jumlah pemain nantinya dimanapun bola akan jatuh.

Untuk kemungkinan terburuk jika bola bisa melewati backline, kita sudah mengantisipasi dengan posisi gelandang bertahan kita yang cukup dekat dengan empat bek. Di fase ini gelandang bertahan no. 6 dibuat tidak melakukan man marking. Kita memanfaatkan striker kita sebagai pengganti, yang akan mengawali posisi dengan menutup satu gelandang lawan. Situasi 5 vs 3 di belakang tentu cukup ideal untuk merebut penguasaan bola jika bola akhirnya dilambungkan ke depan.

Gelandang bertahan no. 6 lebih dekat ke backline dan dua winger lebih ke tengah.

Gelandang bertahan no. 6 lebih dekat ke backline dan dua winger lebih ke tengah.

Yang perlu diperhatikan juga adalah posisi dua pemain sayap kita yang merapat lebih ke tengah daripada memposisikan diri jauh di pinggir seperti normalnya. Dengan memberi posisi di area half space, akan cukup strategis buat pemain sayap karena posisi ini akan membuat mereka lebih multi fungsi.

Jika bola akhirnya di lambungkan, mereka tetap bisa membantu baik itu fullback ataupun gelandang bertahan, tergantung dimana bola akan jatuh. Menjaga jarak dengan fullback lawan juga untuk memancing agar lawan berani mengalirkan bola ke samping. Ke sisi mana bola nanti akan dialirkan tidak terlalu masalah, desain merapat ke tengah ini memang dimaksudkan agar block pressing bisa bergeser ke flank manapun dengan cepat.

Posisi strategis winger dan antisipasi 5 vs 3 di belakang untuk long pass

Posisi strategis winger dan antisipasi 5 vs 3 di belakang untuk long pass

Progresi Dengan Menjebak Di Flank

Jika lawan tidak mau melambungkan bola ke depan, maka kita harus membiarkan mereka mengalirkan bola. Dengan situasi yang masih kalah jumlah pemain, kita masih harus menggunakan kelebihan kontrol atas ruang untuk tetap membuat bola agar hanya bisa dimainkan di ruang yang lebih sempit.

Karena sebelumnya kita sudah mengunci agar bola tidak dialirkan ke pemain tengah lawan, maka opsi untuk lawan adalah dengan mengalirkan bola melalui jalur flank. Disinilah kita akan mempersempit area permainan, dengan jalan mencegah agar bola tidak bisa dengan mudah berpindah ke flank yang lain.

Sebagai progresi pertama, striker akan melakukan pressing terhadap kiper lawan dan dari sini kita akan melihat ke sisi flank mana bola akan dimainkan. Bersamaan dengan saat kiper lawan melepas umpan, kita harus menggerakkan block pressing kita untuk menutup semua opsi umpan agar bola tidak bisa dipindahkan ke sisi flank yang lain.

Empat pemain lawan yang bisa menghubungkan 2 flank

Empat pemain lawan yang bisa menghubungkan 2 flank

Pemain lawan yang berada di area tengah adalah pemain yang bisa mengakses flank seberang dengan umpan pendek. Seperti di ilustrasi, kita bisa melihat ada empat pemain yang bisa menjadi jembatan antar flank tersebut, yaitu tiga gelandang dan satu kiper. Ketika kita menggerakkan block pressing, keempat pemain lawan tersebut harus tetap tertutup agar tidak sampai menjadi opsi umpan.

Progresi pertama, pressing striker kepada kiper

Progresi pertama, pressing striker kepada kiper

Peran paling penting akan diemban oleh striker no. 9 kita. Ketika dia bergerak melakukan pressing ke kiper, dia harus tetap menutup jalur umpan ke pemain no. 6 lawan yang sebelumnya dijaganya. Setelah bola dipindah ke samping ke bek tengah lawan, dia juga harus berganti menutup jalur umpan agar bola tidak dikembalikan lagi ke kiper. Di saat melakukan beberapa gerakan simultan tersebut, sang striker juga harus melakukannya dengan kecepatan yang bagus, agar bek tengah lawan yang menerima bola merasa terprovokasi dari samping dan tidak sampai sempat membuat ancang-ancang memberikan umpan jauh ke flank seberang.

Setelah kita bisa mengunci kiper lawan dari opsi umpan, ketiga gelandang lawan juga harus kita jaga dengan menggeser beberapa man marking dari fase sebelumnya. Fitur paling penting disini bisa dilihat dari posisi winger kita yang sebelumnya memang lebih menjorok ke tengah. Sekarang mereka bisa berguna untuk mengawal satu gelandang lawan, dan yang terpenting mereka bisa melakukannya dengan cepat.

Grafik pergeseran block pressing, man marking dan winger jauh yang sekarang man marking gelandang lawan

Grafik pergeseran block pressing, man marking dan winger jauh yang sekarang man marking gelandang lawan

Kecepatan dalam transisi block pressing dalam situasi ini memang sangat krusial. Rentang waktu mulai dan selesainya harus bersamaan dengan waktu bola mulai dilepas oleh kiper, sampai dengan bola tiba di kaki bek lawan. Tapi untungnya, dari desain awal block pressing yang kita susun, tidak ada pemain yang harus bergerak lebih dari 10 meter. Sehingga seharusnya transisi block pressing kita juga akan bisa dieksekusi dengan sangat cepat.

Posisi setelah transisi block pressing dan man marking ke gelandang lawan

Posisi setelah transisi block pressing dan man marking ke gelandang lawan

Di hasil akhir transisi seperti yang terlihat di ilustrasi, pemain yang akhirnya akan melakukan man marking kepada ketiga gelandang lawan adalah no. 6, 7 dan 10. Pemain no. 11 sebagai winger terdekat akan menutup jalur umpan kepada fullback lawan, sembari memprovokasi agar pembawa bola merasa panik. Sedangkan gelandang kita no. 8 akan melakukan backup semisal bola disodorkan kepada fullback lawan. Beberapa fullback memiliki skill dribbling yang cukup bagus, kita harus mengantisipasi ini sedari awal.

Akhirnya kita akan menemui situasi 6 vs 6 di dalam area seperempat lapangan. Superioritas jumlah pemain lawan di fase ini sukses kita buat tidak tampak, dengan mengkondisikan dua pemain mereka di flank seberang yang sekarang tidak bisa diakses oleh umpan.

Bentuk baru dari kontrol atas ruang setelah progresi pertama dan 6 vs 6 di area seperempat lapangan.

Bentuk baru dari kontrol atas ruang setelah progresi pertama dan 6 vs 6 di area seperempat lapangan.

Di situasi ini juga kita bisa melihat ada tiga man marking yang dilakukan terhadap gelandang lawan dan tiga pemain yang hanya menutup jalur umpan. Sebenarnya man marking sendiri adalah pendekatan paling pesimis di desain ini dengan menganggap tiga gelandang lawan mempunyai kualitas yang sangat bagus.

Terkait:  Membedah China Bagian 3: Melihat Defensive Work China Dan Cara Membongkarnya

Jika sebenarnya gelandang lawan tidak cukup bagus, kita bisa mengurangi jumlah man marking dan lebih memperbanyak pemain yang hanya menutup jalur umpan. Kita bisa membuat lapangan terlihat lebih penuh dan lebih sempit dengan memakai lebih sedikit man marking, dan situasi seperti itu seharusnya akan lebih menambah kepanikan lawan.

Memprediksi Arah Umpan

Sampai di tahapan ini semua terlihat cukup baik untuk high pressing kita. Area yang cukup sempit dan terlihat penuh dengan pemain kita, akan membuat bola jadi lebih mudah terlepas dari penguasaan lawan. Kita tinggal menghitung opsi umpan yang mungkin diambil oleh bek lawan, sehingga pemain kita tidak melewatkan kesempatan untuk memotong umpan tersebut.

Dari rangkaian aksi kita selanjutnya, satu hal yang kita harus sangat berhati-hati adalah striker no. 9 yang dalam rutinitas pressingnya bisa terlalu jauh dari kiper lawan. Seperti direncana awal kita sebelumnya, kita tidak menginginkan bola bisa pindah ke flank seberang karena area main akan jadi terlalu luas.

Bola bisa kembali ke kiper lawan lewat gelandang bertahan no. 6

Bola bisa kembali ke kiper lawan lewat gelandang bertahan no. 6

Kemungkinan bola bisa kembali ke kiper adalah jika bola diberikan ke gelandang bertahan no. 6 lawan, lalu dengan satu sentuhan dia memantulkan bola ke kiper. Disini kecepatan dan kecerdasan dari striker kita dalam membaca permainan akan sangat menentukan keberhasilan taktik ini.

Striker harus tahu kapan harus menutup jalur umpan ke kiper

Striker harus tahu kapan harus menutup jalur umpan ke kiper

Sebenarnya jika melihat dari posisi bek lawan yang sedang membawa bola, striker kita tidak perlu juga untuk melakukan pressing terlalu dekat. Asalkan kita bisa mencegahnya mengambil ancang-ancang untuk mengumpan ke flank seberang, opsi umpan yang dimilikinya hanya ke arah vertikal, dimana di area itu sudah penuh dengan pemain kita.

Jika dia memutuskan untuk melakukan umpan jauh ke depan, jarak terjauh dari kemungkinan bola akan jatuh akan di sekitar garis tengah. Oleh karena itu bersamaan dengan saat block pressing kita bergeser tadi, kita juga bisa sekaligus menggeser empat bek kita agar rapat di sisi flank tempat bola berada. Superioritas di lokasi bola mendarat sudah pasti jadi milik kita dan bola hampir pasti akan kita kuasai.

Kemampuan memprediksi kemana umpan akan diarahkan bukanlah sesuatu yang asal tebak, tapi merupakan konsekuensi positif dari kontrol atas ruang yang kita lakukan sebelumnya. Dengan kelebihan bisa mengetahui kemana bola akan diarahkan, pemain kita akan bisa lebih cepat bereaksi dari pemain lawan, yang tentunya akan sangat membantu untuk merebut penguasaan bola.

Kemungkinan lokasi terjauh jika long pass dilakukan dan superioritas jumlah pemain di lokasi tersebut

Kemungkinan lokasi terjauh jika long pass dilakukan dan superioritas jumlah pemain di lokasi tersebut

Ada pemahaman yang kurang tepat tentang aksi pressing yang dilakukan oleh banyak tim, khususnya di Indonesia. Banyak yang mengartikan pressing adalah aksi untuk merebut bola. Padahal jika dilihat di lapangan, eksekusi paling efektif dari pressing adalah untuk mengarahkan, mengarahkan serangan lawan ke area yang akan mempersulit mereka mempertahankan bola.

Jauh lebih sering proses bola berpindah penguasaan adalah lewat salah umpan, aksi intercept, ataupun umpan yang membuat bola fifty-fifty, daripada dari proses yang langsung melakukan tackle kepada lawan. Begitu pula aksi pressing dalam taktik high pressing, yang seharusnya didasari ide untuk mengarahkan kemana bola akan dialirkan.

Menyesuaikan Backline Dengan Naiknya Posisi Bola

Dua kemungkinan proses bola sampai di kaki fullback lawan

Dua kemungkinan proses bola sampai di kaki fullback lawan

Kemungkinan terakhir yang bisa dijadikan opsi umpan oleh bek lawan yang menguasai bola adalah dengan memberikan bola, baik itu yang tepat di kaki ataupun umpan daerah di depan fullback. Bola juga bisa ke fullback lawan dengan melewati gelandang bertahan no. 6 lawan terlebih dahulu. Kita sudah menyiapkan gelandang no. 8 disini untuk melakukan double up kepada winger kita.

Walaupun sudah ada dua pemain yang mengawal, kita butuh sedikit penyesuaian untuk mengantisipasi jika fullback lawan tersebut tiba-tiba mengirimkan umpan jauh ke belakang backline kita. Kita tidak menginginkan ada adu balap lari berlebihan di situasi tersebut, karena kita ingin bek kita selalu bisa menyentuh bola terlebih dahulu agar tidak menjadi liar.

Ketika bola bisa naik dari posisi sekitar garis gawang di fase sebelumnya, berarti jangkauan umpan panjang lawan yang dalam takaran akurat akan berubah menjadi lebih jauh. Jika kita tidak menyesuaikan lagi garis pertahanan yang kita bentuk, akan ada peluang pemain depan lawan akan mendapatkan bola terlebih dahulu jika mereka cukup cepat.

Menurunkan garis offside agar lebih dekat dengan lokasi bola jatuh

Menurunkan garis offside agar lebih dekat dengan lokasi bola jatuh

Melihat situasi ini, ada solusi dengan 4 bek kita menurunkan garis offside beberapa meter, setelah bola berhasil dipindah oleh lawan ke posisi yang lebih ke depan. Dengan cara itu bek kita akan selalu bisa sampai tepat waktu ke posisi bola jatuh dan peluang menyentuh bola terlebih dahulu cukup besar.

Solusi di atas bisa kita pakai, tapi ada satu kelemahan yang justru bisa menjadi sangat fatal. Ketika backline memutuskan untuk turun, ada ruang kosong yang akan terbentuk antara barisan belakang dengan para pemain tengah yang sedang melakukan pressing di area lawan.

Ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan lawan

Ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan lawan

Jika beberapa penyerang lawan yang terdekat juga mengikuti, yang artinya masih akan dalam penjagaan bek kita, maka pertahanan akan baik-baik saja. Tapi jika ternyata ada satu penyerang lawan yang bergerak ke ruang kosong yang baru tercipta dan ternyata bola diarahkan ke area kosong tersebut, maka artinya kita sudah memberi kesempatan bagi lawan untuk keluar dari block pressing.

Ada solusi yang sangat ideal, yang juga tidak terlalu beresiko untuk situasi ini, yaitu dengan membuat satu bek tengah kita yang sedang tidak melakukan marking, untuk turun beberapa meter dan berperan sebagai libero. Cara ini bisa dilakukan juga karena superioritas jumlah pemain yang sudah kita ciptakan sebelumnya di lini belakang.

Salah satu bek tengah kita akan turun bersamaan dengan bola yang sedang diumpankan ke fullback. Dengan berperan sebagai libero di momen ini, dia akan selalu menjadi pemain yang tercepat menyentuh bola (karena jarak lari yang memang akan jadi lebih pendek dari pemain lain) jika fullback lawan mengirimkan bola ke belakang backline. Dia tetap bisa langsung kembali ke barisan jika situasi tersebut tidak terjadi.

Bek no. 3 berperan sebagai libero jika bola lawan berpindah ke posisi yang lebih maju.

Bek no. 3 berperan sebagai libero jika bola lawan berpindah ke posisi yang lebih maju.

Dengan cara ini kita bisa tetap menjaga jarak antara lini belakang dan lini tengah, sekaligus bisa mengantisipasi jika bola dikirim ke area kosong ke belakang backline. Kita akan tetap bisa membuat bek kita bisa menyentuh bola terlebih dahulu, tanpa harus membuka ruang di depan backline.

Bagaimana dengan jebakan offside yang rusak karena ada satu bek yang turun? Tidak ada aturan yang mewajibkan kita harus terus menyiapkan jebakan offside selama 90 menit, bukan?!

2 Responses to Belajar Taktik: High Pressing 4-3-3 Dengan Kontrol Ruang

  1. fran says:

    Adakah kemungkinan dalam fase build-up awal, no 3 berhasil long pass ke no 4? Kalo mungkin, pemain no 7 yg harus mengambil atau menurunkan blok pressing ke struktur awal?

    • Kemungkinan selalu ada, dalam hal ini mungkin dikarenakan striker yang kurang cepat melakukan pressing. Kalau memang terjadi, pergeseran block pressing tetap dilakukan. Tapi no. 7 tetap memakai rencana awal, yaitu cover fullback lawan. Striker harus balik buat tutup passing lane ke kiper, ini sama juga dengan rencana awal. Bola di no. 3 atau no. 4 lawan tidak akan terlalu berbahaya, jadi kita masih bisa paksakan taktik ini tetap berjalan dalam level aman.

Apa Pendapatmu?