List of feeds URL

Bayern Munchen 0 – 4 Real Madrid: Tiki-taka Bayern Rusak Dari Dalam

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Mimpi La Decima, pencapaian gelar kesepuluh Liga Champions dari publik Santiago Barnebeu tinggal berjarak 90 menit. Real Madrid akhirnya kembali menginjak partai final, pencapaian yang terakhir kali mereka capai 12 tahun lalu, yang juga sekaligus menjuarainya di saat yang sama. Kekalahan Bayern Munchen kali ini juga memperpanjang rekor 24 tahun tanpa ada tim yang menjuarai Liga Champions berturut-turut, sejak AC Milan, The Dream Team milik Arrigo Sacchi menorehkan rekor itu di tahun 1990.

Mungkin duel kali ini antara dua klub dengan nama besar di Eropa dengan dua pelatih yang mungkin terbaik saat ini, bisa disebut anti klimaks. Pemain Madrid berhasil terus menunjukkan kemampuan terbaiknya selama laga, namun pemain Bayern hampir tidak pernah terlihat menemukan permainan memikat yang mereka tunjukkan selama musim ini. Pertanyaan besar kenapa kekalahan yang hanya satu gol di leg pertama, berdampak begitu besar secara psikologis terhadap para pemain Bayern.

“Ini pertama kalinya sejak saya melatih disini, saya kecewa dengan pemain saya.” ujar Guardiola setelah Bayern mengalahkan Werder Bremen 5-2 di akhir pekan. “Tidak ada masalah jika pemain bermain baik atau buruk. Masalahnya kali ini kami tidak bermain sebagai tim, seperti yang mereka ditunjukkan musim ini.” lanjutnya.

Sangat tampak jika pemain Die Rotten gagal merespon secara positif kekalahan di Santiago Barnebeu di leg pertama, agar mereka siap untuk membalikkan keadaan di kandang sendiri. Selain itu kepergian sang sahabat dekat, Tito Vilanova empat hari lalu sepertinya cukup menyita perhatian Guardiola, sehingga tidak banyak waktu baginya untuk membenahi mental tim yang sedang ambruk.

Babak Pertama

Guardiola ingin tancap gas sejak peluit kick-off ditiup. Dia ingin melanjutkan skema di akhir babak kedua di Barnebeu, yang merupakan komposisi yang setidaknya kelihatan paling tajam di laga tersebut. Pria 43 tahun ini memasang Thomas Muller sejak awal di belakang Mario Mandzukic. Dengan perubahan ini, Philipp Lahm kembali ke pos fullback kanan, dimana Rafinha, pemain yang digantikan juga merupakan titik lemah dipertemuan sebelumnya. Thiago Alcantara yang sembuh dari cedera belum dimainkan, jadi Bastian Schweinsteiger dan Toni Kroos jadi double pivot di tengah dalam skema 4-2-3-1.

Terkait:  Tiga Catatan Dari Tur Italia Timnas Indonesia U23

Carlo Ancelotti sedikit berjudi antara berusaha tidak kemasukan dan memburu gol away. Entah dia sebelumnya membaca atau tidak arah perubahan Guardiola, tapi sekarang berani memainkan Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale bersamaan dalam skema 4-4-2 ketika bertahan dan 4-3-3 ketika menyerang. Dengan ini Madrid memainkan skema reguler selama di La Liga musim ini, dimana Angel Di Maria kembali ke kiri karena Bale beroperasi di kanan. Isco sementara kembali menghangatkan bench dan Ancelotti mempunyai duo Ronaldo – Di Maria di kiri untuk menekan Lahm.

Di atas kertas, duel akan berlangsung menarik karena masing-masing tim menambah satu pemain bertipe menyerang di starting line-up yang mereka dipakai. Tapi kenyataan berkata lain, dua gol Sergio Ramos di awal laga melalui skema bola mati, membuat kontes ini selesai bahkan sebelum perubahan yang dilakukan kedua pelatih memberikan tontonan yang berbeda.

Dua gol dari Ramos semua berawal dari Mandzukic yang kehilangan penjagaan atas bek Madrid berusia 28 tahun ini. Menderita dua gol hampir berdekatan dengan skema set piece, sebenarnya bukan hal yang biasa bagi Bayern. Dari 22 gol yang mereka derita di Bundesliga musim ini, hanya dua yang berasal dari sundulan.

Tapi bukan hanya Mandzukic yang tampil buruk, tapi hampir semua punggawa Bayern tampil di bawah performa terbaik. Sejak awal kita sudah melihat pemain Bayern tidak bisa menjaga emosi, padahal mereka butuh fokus untuk mengejar gol. Insiden Ribery bertabrakan dengan Dani Carvajal, yang akhirnya berujung tamparan untuk fullback kanan asal Spanyol ini, sudah mengindikasikan pemain Bayern tidak siap untuk laga yang sangat penting.

Dilanjutkan clearence sangat ceroboh dari Manuel Neuer di luar kotak penalti, walaupun masih beruntung Bale tidak mampu menempatkan bola ke gawang yang sudah kosong. Uniknya, Neuer mengulang hal serupa yang kali ini memberi kesempatan untuk Ronaldo di menit 36.

Terkait:  Indonesia U19 3 - 2 Korea Selatan U19: Lebih Kuat Di Tengah Dan Flank

Setelah gol pertama Madrid, permainan Bayern semakin berantakan dengan banyak melakukan pelanggaran tidak perlu. Dante melakukan tackle berbahaya kepada Ronaldo di area tengah, yang akhirnya berbuah kartu kuning. Kroos juga melanggar Bale di area kiri padahal sebenarnya tidak dalam posisi mengancam, freekick hasil insiden ini yang akhirnya menjadi gol kedua Ramos.

Secara taktikal, sebenarnya perubahan yang dibuat Ancelotti juga sedikit lebih unggul daripada milik Guardiola. Lahm masih sering pontang-panting menutup areanya karena harus menghadapi Ronaldo dan Di Maria di saat bersamaan, tapi tidak ada gol yang berawal dari posisi ini. Hasil nyata perubahan oleh Ancelotti ada di gol ketiga Madrid, ketika kecepatan serangan balik trio Benzema, Bale dan Ronaldo tidak bisa disamai Kroos, Dante dan Boateng dalam posisi 3 vs 3, yang berujung gol oleh Ronaldo.

Situasi ketika Bayern menyerang juga tidak terlalu efektif, jika memang Guardiola ingin mendapatkan efek yang dia inginkan dengan memasang Muller. Ribery dan Robben kali ini lebih cepat masuk ke tengah dari biasanya, baik itu ke dalam ataupun menunggu di depan kotak penalti. Hal ini membuat Carvajal dan Contreao cepat masuk, tidak harus lama di flank dan bisa membantu Pepe dan Ramos menghalau crossing yang cukup deras mendarat di depan gawang Iker Casillas.

Semakin bertumpuknya pemain Madrid di tengah membuat sulit Bayern dalam menyerang, tujuh tembakannya berhasil di blok, tujuh menjauhi gawang dan hanya empat yang on target. Dari 18 percobaan tembakan, sebelas diantaranya dari luar kotak penalti Madrid.

Terkait:  Detail dari Tikitaka Guardiola dan evolusi Total Football

Babak Kedua

Perubahan di babak kedua oleh Guardiola tidak banyak membawa level permainan Bayern meningkat karena juga bukan tipe perubahan taktik. Javi Martinez masuk menggantikan Mandzukic, tapi pergantian pemain di dua posisi berbeda ini tidak merubah bentuk serangan Bayern. Guardiola hanya mendorong Muller menjadi striker dan Schweinsteiger menggantikannya menjadi gelandang serang. Yang lebih terlihat malah Guardiola menarik Mandzukic karena kecewa dengan kelalaiannya atas dua gol Ramos.

Sedikit perubahan taktik ada ketika Gotze dan Claudio Pizzaro masuk di saat akhir, tapi tidak ada gol yang dihasilkan. Kita tidak tahu juga seberapa butuh Guardiola dengan gol di saat akhir, ketika game sebenarnya sudah berakhir jauh sebelumnya ketika babak pertama baru dimulai.

Kesimpulan

Bayern Munchen masuk menginjakkan kaki di rumput Allianz Arena dengan kondisi yang sama sekali tidak baik. Kesalahan taktik mungkin masih bisa diperbaiki di tengah laga, tapi jika pemain membawa kondisi psikis yang kurang baik, tentu bukan hal yang mudah dicarikan solusi dalam 90 menit. Situasi yang tidak enak buat Guardiola dalam tempo seminggu ke belakang juga ikut serta membantu timnya untuk tampil lebih buruk.

“Saya membunuh tiki-taka? Tidak, sepakbola tidak pernah mati.” kata Ancelotti setelah laga. Sepertinya memang begitu, karena memang Bayern yang menghancurkan tiki-taka-nya sendiri dari dalam di laga ini.

Apa Pendapatmu?