List of feeds URL

Barcelona 2 -1 Manchester City: Beberapa Kesalahan Halangi The Citizen Balas Dendam

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Usaha dari anak asuh Pellegrini untuk menebus kekalahan dua gol di leg pertama akhirnya pupus. Mereka harus tersingkir menyakitkan dari Liga Champions setelah Barcelona membungkam mereka lagi dengan skor 2-1 di Camp Nou.

City datang dengan persiapan yang sangat cukup ke Catalan walaupun sebelumnya harus kalah oleh Wigan di FA Cup. Pernyataan sang kapten, Vincent Kompany bahwa mereka terlalu memberi respek kepada Barcelona di leg pertama, mereka rubah di pertandingan kali ini. City memainkan sepakbola yang sangat berani, baik itu dari defensive line, tackle maupun offside trap.

Pellegrini mengembalikan Kolarov sebagai fullback kiri dan di depannya diisi oleh Milner. Untuk menggantikan Demichelis yang terkena hukuman, pelatih asal Chile ini memakai tenaga Lescott daripada Javi Garcia. Nasri dipilih sebagai starter daripada Navas di winger kiri. Sergio Aguero diplot menjadi striker tunggal di depan dalam skema 4-2-3-1.

Tata Martino tidak banyak mengubah starting line-up anak asuhnya, hanya Neymar yang sekarang menggantikan Pedro di depan. Tapi perubahan ini tampak cukup signifikan di lapangan, karena sekarang Barcelona sekilas memainkan 4-3-1-2 dengan Messi dan Neymar berduet di depan disokong Fabregas di belakangnya. Iniesta coba memberi lebar lapangan di kiri, tapi tidak se-advance seperti positioning Pedro atau Tello di skema standar Barcelona.

Penggunaan dua striker dan Fabregas dimaksudkan untuk menjaga superioritas ketika bertahan atas double pivot City dalam posisi 3 vs 2. Hal ini untuk mengakomodasi tidak leluasanya Busquets untuk naik melakukan pressing seperti di laga lain, kali ini dia di keroyok Silva dan Nasri yang terus masuk ke dalam melakukan overload.

Kelebihan Dan Kekurangan 4-3-1-2 Barca

Dengan memakai skema ini, Barcelona membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melewati pressing City. Di skema standar mereka yang memakai dua wide forward, menemui lawan yang memakai ekstrem high defensive line seperti yang diterapkan City bukanlah perkara sulit. Kali ini mereka tidak bisa meneror backline rival dengan pelari cepat macam Pedro atau Sanchez. Tapi Barcelona masih memiliki satu kelebihan pemain di tengah dengan adanya Fabregas.

Terkait:  Real Madrid 3 - 4 Barcelona: Sama Tajam Di Depan Rapuh Di Belakang

Ketika berhasil masuk sepertiga akhir area City, Barcelona juga dipaksa bermain dengan cara baru dengan skema ini. Klub yang sedang di posisi tiga klasemen La Liga ini tidak mempunyai natural winger untuk menarik melebar fullback lawan. Alhasil serangan yang mereka lalukan terpusat di tengah.

Tapi pairing Neymar dan Messi yang dipakai kali ini ternyata berjalan cukup positif. Mereka bergantian mengambil bola dengan turun dan yang lainnya menahan dua bek tengah City agar tidak melakukan tracking. Dengan sibuknya Yaya Toure dan Fernandinho menghadapi banyak pemain di tengah, Neymar dan Messi selalu bisa menerima bola dengan posisi langsung menghadap gawang Joe Hart. Membiarkan dua pemain dengan skill mewah mendapatkan kesempatan seperti ini, sama dengan artinya bencana. Peluang Barcelona banyak didapat dari prosesi ini.

Di sisi lain, skema ini tidak mendukung Barcelona melakukan pressing cepat ketika kehilangan bola. Tanpa winger, mereka kesulitan menyentuh dua fullback City dalam momen yang tepat. Akhirnya mereka dipaksa sharing ball possession 56% dan 44% dengan City karena sulitnya melakukan pressing dan terpaksa packing defense di area sendiri.

Defence Berani City Dan Peran Aguero

Dengan niat tidak memberikan respek terlalu banyak dan membutuhkan gol, City menaikkan garis pertahanan mereka cukup ekstrem, nyaris menyentuh garis tengah. Mereka menerapkan ini dengan pola 4-4-2 dengan Aguero dan Silva di depan. High block seperti ini memaksa backline City memenuhi semua lebar lapangan dan membuat jarak tiap unit tidak berdekatan.

Situasi ini membuat pemain City sering menghadapi lawan yang membawa bola dalam posisi 1 vs 1. Untuk menutupi renggangnya jarak tiap pemain, Pellegrini membekali pemainnya dengan instruksi untuk cepat melakukan tackle bila pemain lawan lepas. Iniesta paling sering menjadi korban tackle berani dari para pemain City. Total tim yang bermarkas di Etihad Stadium ini melakukan 54 tackle, walaupun hanya 18 yang sukses.

Terkait:  PSG 2 - 1 Chelsea: Kemenangan Bermodal Narrow Attack

Selain itu The Citizen juga berani mengambil resiko dengan offside trap yang dipasang. Mereka beruntung asisten wasit menganggap Jordi Alba terperangkap offside ketika tiga pemain belakang City bersamaan naik mengambil garis ujung kotak penalti sebagai offside line.

Karena Barcelona tidak melakukan high up pressing, City dihadapkan pada situasi untuk membongkar pertahanan Barcelona di areanya. Ada yang menarik yang dilakukan Tata Martino untuk merespon Nasri yang melakukan overload ke tengah. Dia memilih memakai Xavi untuk membantu Busquets daripada Iniesta yang posisinya awalnya se-area dengan Nasri.

Efeknya adalah Milner menjadi free-man dalam setiap serangan City. Dengan Kolarov yang melakukan overlap, City selalu mendapati posisi 2 vs 1 melawan Alves. Serangan City terus masuk dari sisi kiri dengan crossing baik bola atas maupun bawah dari Kolarov, namun sayang jarang menemui sasaran karena Aguero cukup pasif.

Pasifnya penampilan Aguero cukup disayangkan. Barcelona tidak terlalu bagus ketika bertahan terlalu dalam, tapi mereka melakukannya secara kolektif dengan banyak pemain. Kehilangan satu pemain seperti Aguero malah menjadi kelemahan buat City untuk melawan superioritas jumlah dari lawan ketika bertahan. City hanya melakukan tiga attempts di babak pertama dan semuanya dilakukan oleh tiga gelandang serang.

Babak Kedua

Pergantian Aguero dengan Edin Dzeko memberi dampak positif buat City. Keterlibatan Dzeko dalam setiap serangan City langsung memberi lima peluang dan dua on target. Setelah tendangan Messi yang membentur tiang, Barcelona semakin tidak nyaman di belakang dan City terus coba masuk dari sisi kiri dengan Dzeko yang juga mengawali dari sisi itu.

Terkait:  Susah Payah Ancelotti Mengantar Madrid Meraih La Decima

Berhasil menguasai kontrol game secara penuh, City sedikit lupa atau kehilangan konsentrasi ketika bertahan. Untuk pertama kalinya Barcelona mendapatkan break setelah berhasil merebut kembali bola dari pemain City yang tidak cepat melebarkan posisi. Kombinasi Yaya Toure dan Fernandinho tidak dalam posisi yang benar dan blunder Lescott membantu Messi mendapatkan gol pertama untuk Barcelona.

Setelah ketinggalan, Pellegrini menjalankan plan B yang memakai dua striker dengan masuknya Negredo. Masuknya Navas juga melengkapi skema baru ini untuk memberikan tambahan natural winger di kanan. Tapi sayangnya, belum lama setelah perubahan ini, Zabaleta terkena kartu merah dan membuat peluang City untuk lolos ke perempat final tertutup seutuhnya.

Kesimpulan

Kesempatan begitu langka melihat Barcelona memainkan 4-3-1-2 dan kredit buat Tata Martino berani memakainya untuk di laga cukup penting seperti ini. Neymar kelihatan cukup nyaman dengan ruang yang lebih bebas dari biasanya, begitu juga Messi yang tidak lagi terisolasi di antara defender lawan seperti laga bigmatch Barcelona biasanya.

Pellegrini telah mengeluarkan semua yang dipunyai timnya untuk mengejar ketertinggalan. Namun ada dua hal yang menghalangi City memenangi laga ini, pemilihan Aguero sebagai starter dan sekejap lupa cara defending the ball yang berakibat gol Messi.

Apa Pendapatmu?