List of feeds URL

Barcelona 0 – 0 Atletico Madrid: Perubahan Positif Tata Martino Tapi Tetap Miskin Gol

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Barcelona berhasil menjuarai Supercopa De Espana 2013 setelah menang gol tandang dari dua laga dengan agregat gol 1-1 melawan Atletico Madrid. Dua duel awal Tata Martino lawan Simeone yang berlangsung sangat ketat dan mungkin akan jadi pola yang sama di pertemuan selanjutnya musim ini.

Akan sulit memahami laga ini sebelum flashback ke leg pertama satu minggu sebelumnya di Vicente Calderon. Laga ini secara taktikal lebih cocok di sebut babak ketiga dan keempat daripada pertarungan yang benar-benar baru. Review leg pertama bisa baca disini.

Formasi

810

Tata Martino meneruskan formasi babak kedua di leg pertama dengan memasang Neymar dan Cesc Fabregas. Tapi kali ini Cesc menggantikan posisi Iniesta di gelandang kanan bukan menggantikan Messi. Dengan formasi dasar 4-3-3 tidak ada perubahan lain di starting lineup Barcelona.

Simeone tidak mengubah starting eleven Atletico, dia hanya menukar posisi Arda Turan dan Koke dalam formasi 4-5-1 atau 4-2-3-1 saat menyerang. Sekarang Arda Turan berada di tengah dan Koke di sayap kiri. Kelihatannya Simeone ingin Arda Turan lebih terlibat dalam serangan Atletico setelah penampilan luarbiasa di liga melawan Rayo Vallecano.

Fabregas Effects

Tata Martino merubah cara bermain Barcelona setelah berada dalam posisi yang kurang menguntungkan di leg pertama. Barcelona kesulitan masuk menembus lima gelandang Atletico. Masuknya Cesc Fabregas membuat Barcelona lebih bisa masuk ke dalam pertahanan Atletico daripada peran yang di lakoni Iniesta. Fabregas seringkali selalu berusaha di belakang Gabi dan Suarez. Beda dengan Iniesta di leg pertama yang hanya di depan baris tengah Atletico dan akhirnya membuat Messi terisolir.

Terkait:  Tiga Lapis Pertahanan Atletico Madrid Dan Pragmatisme Diego Simeone

Selalu mengawali dari posisi kiri karena memang itu posisi dia saat bertahan, Fabregas terus bergerak menyusuri channel antara dua baris pertahanan Atletico. Beberapa kali juga Fabregas sampai di sisi kanan membantu Sanchez dan Alvez jika Messi tidak sedang berada di situ. Gerakan Fabregas ini cukup efektif membuat midfielders Atletico repot yang akhirnya memberi ruang kepada Xavi. Tercatat Xavi melakukan 104 umpan daripada di leg pertama yang cuma 77 umpan. Dengan hidupnya lagi permainan Xavi, Barcelona bisa sering dalam posisi yang  bagus saat menyerang. Bola di final third Atletico sebanyak 36%, lebih sering daripada ketika di leg pertama yang cuma 33%.

Walaupun tidak mempunyai posisi yang tetap, Tata Martino tetap membutuhkan Fabregas untuk jadi gelandang kiri Barcelona. Fabregas mempunyai peran khusus jika bola berada di kaki Neymar atau Alba di kiri. Dia akan berlari di depan posisi Neymar dan berusaha melepaskan Neymar dari kawalan Juan Fran dan juga Alba dari kawalan Diego Costa. Hal ini cukup sukses, walaupun sangat jauh di kiri Neymar bisa mencatatkan dua shot sama seperti Messi.

Busquets Effects

Sama seperti leg pertama untuk menghindari marking David Villa terhadap busquets yang mengganggu distribusi bola, Tata Martino menarik Busquets kebelakang dan formasi menjadi 3-4-3 saat menyerang. Karena tidak adanya Iniesta untuk menyuplai bola ke depan, kali ini Busquets berada di kiri bertukar posisi dengan Mascherano. Di awal laga Barcelona langsung mendapat ritme yang bagus. Busquets juga sempat memberi through pass cantik kepada Messi yang mungkin juga salah satu peluang terbaik Barcelona.

Terkait:  Cardiff 3 - 2 Manchester City: Telat Panas Harus Dibayar Mahal Pellegrini

Tapi formasi ini tidak berlangsung lama. Counter attack Atletico dari sisi kiri yang selalu diawali oleh Arda Turan dan Koke jadi mudah sekali masuk karena Busquets sering terlalu jauh untuk jadi first man defence buat Barcelona. Akhirnya Busquets selalu kembali ke tengah jika bola sudah berada di final third Atletico. Tata Martino melihat ini tidak terlalu beresiko karena sekarang dua bek tengah (Pique dan Mascherano) juga lebih sedikit pegang bola dari pada di leg pertama. Tercatat Pique melakukan 21 umpan lebih sedikit dan Mascherano melakukan 8 umpan lebih sedikit dari leg pertama.

Busquets yang lebih naik juga membuat David Villa redup, hanya membuat satu shot. Tapi keputusan Simeone untuk menggeser Arda Turan ke tengah cukup mampu menutupi hal ini. Arda Turan lebih hidup di tengah, lebih mudah juga overload ke kanan di awal babak kedua. Arda Turan bisa membuat tiga tembakan, dan satu yang on target di babak pertama merupakan best chance di laga ini.

Atletico Butuh Gol

Babak pertama yang tanpa gol memaksa Atletico harus lebih menyerang di babak kedua. Arda Turan sekarang bisa bergerak ke kanan atau ke kiri. Dua fullback nya, Felipe Luis dan Juan Fran juga sekarang di dorong naik.  Beberapa menit Atletico bisa mengurung Barcelona dan melepaskan tembakan walau gagal menjadi gol. Situasi ini membuat Sanchez tertahan di tengah dan akhirnya digantikan oleh Pedro yang lebih mobile. Pedro dengan fresh legs dan punya area main lebih luas karena bisa tukar posisi dengan Alves, membuat Barcelona sedikit bisa keluar dari tekanan.

Terkait:  Johan Cruyff Menjelaskan Formasi Diamondnya

Didorong naiknya permainan Atletico membawa bencana ketika Felipe Luis harus mendapat akumulasi kartu kuning. Memang bukan hal yang ideal untuk memakai high defense line ketika menghadapi Barcelona. Beberapa kali dia harus bertemu langsung dengan Dani Alves ketika Pedro bergerak masuk.

Kesimpulan

Barcelona lebih baik dalam mengalirkan bola, bisa masuk lebih dalam ke pertahanan Atletico dengan adanya Fabregas. Tapi model pertahanan Atletico dengan dua line yang sangat rapat di depan kotak penalti tidak pernah membuat pertahanan mereka out played oleh Barcelona. Barcelona hanya membuat delapan shot dan satu on target, jauh dari rata-rata mereka musim ini 18 shot per match. Di pertandingan liga sebelumnya Malaga juga sukses hanya kalah satu gol melawan Barcelona dengan model defence seperti ini, walaupun tidak serapi Atletico.

 

* Semua data statistik dari Whoscored.

Apa Pendapatmu?