List of feeds URL

Bangku Cadangan

football-sketch
Author: Arvian Bayu (twitter: @arvianbayu)

Aku paham betul, semua pemain yang duduk dibangku cadangan itu gatal sekali kakinya, aku paham betul ketika gol terjadi, ia juga ingin disoraki, dipuja-puja para penonton juga fans layar kaca. Aku paham betul ketika jelang waktu habis, ia tak kunjung nampak akan dimasukkan oleh pelatih, aku paham betul ketika kawan gagal eksekusi peluang, aku paham betul ketika kawan yang berada dilapangan berbuat kesalahan.

Semacam pesan dari bangku cadangan, bukan kesepian, tapi soal kebersamaan untuk kemenangan. Mereka ada untuk menggantikan, kadang juga bisa membuat perubahan sehingga meraih kemenangan, kadang juga bisa berbuat kelalaian, sehingga tim mendapatkan kekalahan.

Dari 8 pemain yang duduk di bangku cadangan, hanya tiga yang boleh dimasukkan, bayangkan ketika 8 pemain itu berdoa bersama-sama agar dimasukkan. Entah doa mereka apa saja, mendoakan kawan yang sedang berlaga 3 doa diantaranya akan dikabulkan. Mendoakan kawan yang bermain agar cedera lalu si pendoa menggantikanya, agar kawan membuat blunder lalu ia mengulangi blunder yang sama. Sudahlah, Ini tentang sebuah kebersamaan yang tak perlu kau tanyakan lagi.

Eros, adalah seorang gelandang bertahan yang gelisah, setiap kali ia hanya memanaskan bangku cadangan. Ia biasanya bermain dalam masa injury time. Fajar, seorang bek, hanya masuk dengan tugas merusak ritme permainan lawan. Sementara aku, hanya segelintir doa yang mengalir agar striker kami, dari Bayangkaki FC tak juga mencetak gol.

Sore itu petandingan menarik tersaji, Bhirawa FC vs Bayangkaki, pertandingan yang semula akan digelar di Lapangan Taap berubah venue ke Stadion Batoro Katong. Lapangan Taap disinyalir tak kuat menampung suporter kedua kesebelasan. Aparat kemanan diturunkan untuk menjaga jalanya pertandingan apabila terjadi kerusuhan, kedua suporter sering terlihat bentrok tiap kali bermain. Tak tanggung-tanggung, kali ini aparat keamanan yang menjaga ada sekitar 1500 personil.

Aku masih memanaskan bangku cadangan bersama Rendy, striker baru kami, serta dua penjagal hebat yang tak kenal kompromi ketika menghadang lawan, Eros dan Fajar. Kami terkadang membuat lomba kecil-kecilan, siapa dari doa kita yang sampai pada tuhan dan dikabulkanya. “Doa yang sampai itu bagaimana? Wong kita sama-sama ndak tahu” Bisik Rendy padaku sambil mengikat tali sepatu yang terlepas. Stadion penuh, kedua suporter yang sejak awal pertandingan normal menjadi riuh karena salah satu pemain Bhirawa FC mendapatkan kartu merah. “Wasit goblog…wasit goblog…wasit goblog” suporter Bhirawa FC yang dikenal paling militan ini pun melemparkan kekesalanya kepada wasit yang memimpin pertandingan karena mereka pikir, wasit membela tim kami, namun hanya itu saja, tak berlebihan, pertandingan berjalan kembali seperti semula.

Terkait:  Gold Cup Tidak Sekedar Amerika Serikat Dan Meksiko

Skor kacamata menyudahi babak pertama. Unggul jumlah pemain, Coach Seno, pelatih kami ingin menambah daya gedor lini depannya, kesempatanku dimasukkan semakin tinggi. Akhirnya aku masuk diawal babak kedua. Inilah waktukku, akan aku tunjukkan kemampuanku sebenarnya, aku akan cetak gol supaya dapat posisi inti di tim ini, kakiku sudah gatal, pantatku sudah sangat amat panas duduk di bangku cadangan lama-lama.

“Goooooolll… Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, pemain bernomor punggung 17, Mahesa Putra mencetak gol yang akhirnya merubah jalanya pertandingan dalam tensi tinggi ini semakin menarik, bagaiamana komentar anda tentang gol yang dilesatkan oleh pemain supersub, Mahesa Putra, Bung Supri?” Begitu kira-kira yang dibicarakan oleh penyiar televisi, Bung Tjokro, aku hafal betul dengan nada-nadanya yang khas, mengiringi aku mencetak gol. Doaku terkabul hari itu.

Seluruh tribun timur bersorak karena golku, mereka juga menyalahan kembang api, para pemain merangkulku, sepertinya kita akan menang, atau mungkin bahkan juara. Pertandingan penting seperti ini adalah adu harga diri, kemenangan adalah harga mati, tak mengenal kata imbang. Ketika kau menciptakan gol, maka namamu akan dikenang, ketika kau melakukan hal konyol, maka akan dihujat habis-habisan, tak jarang teror pun sering menimpa pemain yang melakukan kesalahan yang berakibat timnya tak mampu memenangkan pertandingan. Ini pernah terjadi pada pemain senior kami 5 tahun lalu. Akibat melakukan gol bunuh diri, Sofyan Munir, dituduh sebagai biang keladi pengaturan skor.

Karena hal kecil itu, keluarganya pernah diancam akan dibunuh oleh suporter garis keras Bayangkaki. Tak hanya itu, ia dipastikan tak bisa bermain lagi karena kakinya patah akibat sengaja ditabrak dari belakang dengan motor oleh seorang suporter sehabis latihan di lapangan Sekayu. Kata mereka, itulah hukuman setimpal karena harga diri mereka hancur. Begitu menyeramkan bagi kami ketika hal yang tak diinginkan menimpa kami. 5 menit lagi waktu akan habis, suporter sudah meneriakkan kemenangan, menejer tim yang duduk di tribun pun mulai harap-harap cemas, berharap skor 1 – 0 ini akan bertahan hingga akhir laga, bangku cadangan pun memanas, penonton dilayar kaca baik dirumah maupun di warung kopi ketar-ketir.

Coach Seno memasukkan nama Rendy, striker baru kami, karena sepertinya skor 1 – 0 tak memuaskanya, ball possession ada pada kami, kami memegang kendali pertandingan, tak mungkin lawan dengan 10 pemain mampu menyamakan kedudukan atau bahkan membalikan keadaan, apalagi waktu yang semakin tipis. “Kuasi bola sepenuhnya, jangan biarkan lawan merebut!” Teriak Supryono, kapten tim kami. Dari pinggir lapangan juga terdengar intruksi Coach Seno untuk menahan bola selama mungkin “Bola itu milik kami, jangan biarkan lawan mencoba merebut, apalagi sampai dikaki mereka”.

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Rendy akhirnya masuk menggantiakn Edwin, striker masuk menggantikan striker. Rendy dijatuhkan oleh bek lawan didalam kotak pinalti, benar juga feeling Coach Seno, dengan memasukkan satu amunisi baru, membuat kami semakin beringas, skor 2 – 0 didepan mata. Rendy sendiri yang mengambil ancang-ancang untuk melakukan tentangan 11 meter. Seisi tribun timur, dimana tempat suporter Bayangkaki hening, pelatih terlihat murung, menejer tim diatas tribun mengelus dada, bersamaan dengan Bung Tjokro yang masih saja nyrocos “Aaaah sayang sekali kesempatan didepan mata terbuang percuma, tendangan pinalti yang dilakukan oleh Rendy melambung jauh, sayang sekali Bayangkaki tak bisa menambah keunggulan mereka kali ini”

Esok hari, di koran-koran, Rendy seperti menjadi pesakitan oleh beberapa koran lokal dan suporter. Headline kali ini menampilkan wajah Rendy yang kecewa setelah gagal mengeksekusi pinalti dan diatas kepalanya berjudul “Mana Golmu, Boeng?” Kekesalan suporter tak sampai situ saja, suporter meminta jajaran tim untuk membangku cadangkan Rendy sampai kejuaraan Bupati Cup ini berakhir. Itu sebagai bentuk hukuman. Alhasil Rendy tak akan dipasang di pertandingan final melawan Putra Katong 3 hari kedepan.

Stadion sudah siap, upacara penutupan juga sudah digelar, Bupati juga turut hadir menyasikan jalanya pertandingan dari tribun VIP, Batoro Katong. Putra Katong yang dianggap tidak akan sampai final malah sampai final, beberapa pengamat sepak bola lokal memprediksi, Bhirawa FC vs Bayangkaki yang akan sampai final, namun keduanya sudah bertemu di semi final. Maka secara gengsi, serta tensi, final ini tak akan menghadirkan kejadian-kejadian menarik.

Pertandingan berjalan dengan tempo lambat, kedua tim terlihat hati-hati dalam melakukan penyerangan maupun bertahan. Tribun penonton 80% diisi oleh suporter Bayangkaki, 20% mereka adalah suporter Putra Katong. Alhasil, teriakan dukungan hanya terdengar oleh suporter Bayangkaki yang terlihat memerahkan stadion. Skor 0 – 0 menutup jalanya babak pertama.

Terkait:  Quote: Sacchi

Peristiwa yang cukup membuat bingung terjadi, ketika bola mengalir bebas tak ada yang mengejar tiba-tiba bola itu masuk dengan sendirnya ke gawang Putra Katong, seperti sedikit ada tendangan tapi tak jelas dari mana asalnya, kiper yang saat itu tak siap akhirnya kecolongan, papan skor pun berubah, seiring dengan bingungnya para pemain, wasit, penonton didalam stadion, juga penonton yang melihat melalui siaran televisi lokal, juga radio dengan penyiar yang nge-rap ketika menyiarkan. Gol tetaplah gol meski itu misteri, sebab, Maradona pernah melakukan gol ajaib yang dikenal dengan peristiwa gol tangan tuhan. Kami hari ini, menyaksikkan sendiri ada campur tangan tuhan dalam pertandingan ini. Namun dari bangku cadangan, aku, Coach Seno, dan beberapa pemain di bench melihat Rendy yang melakukan tendangan kearah gawang lantas berbuah gol, serta kemenangan bagi Bayangkaki.

Coach Seno yang duduk paling kanan melihat ke arah samping kiri, aku dan para pemain melihat kearah kanan, melihat Rendy terdiam, dengan tatapan kosong serta tangan menggenggam, seperti menggenggam kemenangan. “Apa yang terjadi kali ini tak wajar” Gerutu Coach Seno sambil melihati Rendy yang tak bergerak pada waktu itu. Namun wasit sudah mengesahkan gol itu, para pemain merayakanya, flare dari penonton sudah menyala, stadion jadi berwarna merah menyala dari cahaya flare, lapangan penuh asap, penonton layar kaca bersuka cita dengan kemenangan Bayangkaki, sekaligus menjadi juara, di penentuan Golden Gol. Sementara Kami, dibangku cadangan, melihat Rendy mencetak gol dan membawa pulang piala itu, menggotongnya ke beberapa sudut stadion, merayakanya bersama suporter yang sangat antusias, tak henti meneriakkan “Rendy…Rendy…Rendy”.

Kami masih terdiam, tak bergerak sedikitpun memandangi ia yang tak juga bergerak. 30 Menit setelahnya, tim mempersembahkan gelar untuk Rendy, pemain yang mengalami gagal jantung saat duduk di bangku cadangan. Namun ia sudah membawa piala itu jauh dari sebelum para pemain tahu jika Rendy sudah meninggal, sebelum suporter di stadion pecah dengan tangisan mereka, sebelum penyiar televisi mengabarkan kematiannya, ia sudah membawanya sendiri sebelum tim mempersembahkann gelar ini untuknya, ia membawanya ke sebuah tempat, dimana ia akan bermain bola terus menerus.

Apa Pendapatmu?