List of feeds URL

Atletico Madrid Vs Barcelona (0-0): Simeone Menaikkan Level Tapi Gagal Dimaksimalkan

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Untuk ketiga kalinya dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, Atletico Madrid dan Barcelona harus berduel untuk menentukan siapa yang terbaik di daratan Spanyol saat ini. Sebelumnya mereka bertemu dua kali di ajang Super Copa De Espana dan keduanya berakhir draw. Begitu pula di laga kali ini yang menentukan siapa yang berhak menyandang pimpinan klasemen La Liga.

Bentrok dua tim yang sedang dalam level yang sama dan memakai gaya yang bertolak belakang selalu menarik untuk disimak lebih detail, termasuk dalam bigmatch antara Atletico Madrid lawan Barcelona ini. Secara natural laga ini akan banyak dimainkan di area Atletico Madrid karena Barcelona akan mencoba mengontrol lewat keunggulan ball possession dan Atletico akan drop deep sambil menunggu kesempatan melakukan counter attack.

Dua gaya yang berbeda ini juga akan berusaha saling menetralkan. Atletico yang di musim ini mempunyai catatan tertinggi di Eropa dalam hal melakukan tackle dan paling sedikit menerima shot on goal, bisa baik menutup serangan Barcelona. Sebaliknya serangan Barcelona dengan menarik melebar pertahanan Atletico, memudahkan mereka meredam setiap counter attack yang diterima. Situasi seperti ini sudah terjadi di dua pertemuan sebelumnya yang tidak banyak menghasilkan peluang dan gol. Pertanyaannya, perubahan apa yang akan dilakukan oleh Tata Martino dan Diego Simeone untuk membongkar deadlock ini.

f

Dalam kesempatan ini Simeone bisa memainkan starting eleven terbaik yang dimiliki Atletico. Dibandingkan pertemuan sebelumnya hanya berbeda di Tiago yang mengisi posisi Suarez untuk menemani Gabi sebagai pivot, sisa pemain lainnya masih sama. Di pihak El Blaugrana, Tata Martino tidak menurunkan Messi dan Neymar dari awal karena masalah fitnes. Tapi Barcelona masih mempunyai Pedro yang telah mencetak empat gol dari tiga laga terakhir dan Alexis Sanchez yang mencetak tiga gol di dua laga terakhir. Dua pemain ini sedang dalam performa terbaik dan berhasil menutupi ketiadaan Neymar dan Messi yang masih harus absen cukup lama.

Babak Pertama

Sejak menit awal pertandingan, Atletico Madrid langsung memberikan kejutan ke rivalnya, mereka langsung menekan Barcelona ketika menguasai bola sejak dari areanya. Dalam tempo lima menit Atletico langsung mendapatkan dua kesempatan mencetak gol dari usaha Diego Costa dan akselerasi Arda Turan di sisi kanan. Rencana Simeone ini tidak berhasil membuahkan gol cepat, tapi setidaknya membuat Barcelona nervous di 30 menit awal.

Yang menarik adalah bagaimana Atletico mengeksekusi taktik high up pressing kepada Barcelona. Dalam rentang waktu itu mereka tidak membabi buta menekan Barcelona di area mereka seperti yang biasa dilakukan oleh Atlethic Bilbao. Atletico melakukannya dengan cerdas, seperti yang diungkapkan Simeone setelah laga. Mereka hanya akan melakukan high up pressing jika bola dikuasai Victor Valdes. Pressing yang dilakukan juga terbilang sangat efektif. Simeone fokus untuk menutup passing line ke Busquets dan Xavi dengan man marking dilakukan oleh Koke dan Tiago. Iniesta dibiarkan bebas dan lebih memfungsikan Gabi menjadi spareman untuk melakukan intercept serta double cover ke backfour.

Terkait:  Catatan Indonesia Vs Thailand: Timnas Tidak Siap Untuk Game Ini

Pressing dimulai ketika Valdes memberikan bola ke fullback atau bek tengah Barcelona yang bergerak ke pinggir. Tidak ada kesempatan Xavi atau Busquets untuk menerima bola. Satu-satunya free-man di tengah adalah Iniesta dan jika bola sampai ke dirinya, Atletico melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan termasuk dengan pelanggaran. Jika memaksa mengirim bola langsung ke tiga forward Barcelona, Gabi sudah siap membantu melakukan double cover.

Ketika tidak mempunyai momentum untuk melakukan high up pressing, Atletico memilih langsung turun dan merapatkan solid defensive block memakai two banks of four di area yang cukup dalam. Dua winger dalam fase bertahan ini cukup narrow. Masing-masing baru bergerak melebar ketika bola diarahkan ke area mereka. Simeone sendiri juga tidak ingin duet gelandang bertahan Gabi dan Tiago, terlalu banyak bergerak ke flank untuk meminimalisir transisi horizontal yang berlebihan. Untuk menutup celah ketika winger bergerak ke flank, Simeone menginstruksikan satu dari Diego Costa atau David Villa untuk turun. Transisi pertahanan secara vertical pun sudah dikurangi dengan menempatkan defensive block tepat di depan kotak penalti.

Simeone juga mengubah cara Atletico melakukan serangan balik ataupun menyusun serangan. Atletico tidak lagi memakai tenaga Villa untuk melakukan link-up dan memanfaatkan pace Diego Costa untuk sprint ke depan. Kali ini mereka langsung mengincar posisi Jordi Alba di fullback kiri Barcelona. Skema selalu diawali Diego Costa yang menyerang Alba, sebelum akhirnya Costa masuk ke tengah dan Arda Turan yang menempati winger kanan bergantian menekan Alba. Belum cukup dengan itu, Koke yang jika bertahan berada di winger kiri, juga sering mengoverload sisi kanan.

Kombinasi Costa, Arda Turan dan Koke di sisi kanan bekerja cukup efektif. Barcelona sering melakukan covering dengan Mascherano, Alba dan Pedro. Bergeraknya Koke ke kanan mungkin dimaksudkan Simeone agar Juanfran tidak terlalu aktif naik. Sisi kiri Barcelona yang diisi Iniesta, Pedro yang sedang top form dan Alba yang unggul kecepatan bisa menimbulkan banyak masalah jika Simeone tidak menyiapkan satu pemain lebih banyak.

Terkait:  Timnas U23 Menelan Malaysia U23 Walaupun Sempat Limbung

Di 30 menit awal ini Tata Martino tidak cukup banyak melakukan respon. Barcelona terlalu sibuk melakukan koordinasi untuk menutup tekanan Atletico. Walaupun masih unggul catatan penguasaan bola, Barcelona sebenarnya kehilangan kontrol dari yang biasa mereka peragakan. El Barca baru bisa melakukan tekanan jika Atletico sedikit beristirahat dengan drop deep, karena ketika Atletico melakukan pressing naik Barcelona jarang sekali lolos.

Beberapa perubahan dari Tata Martino tampak ketika Barcelona coba menekan di area lawan. Iniesta beberapa kali berpindah ke kanan dan Fabregas memerankan role false 9 dengan bergerak ke kiri. Tapi benteng Atletico relatif tak bergerak karena Simeone telah meminimalkan transisi di defense Atletico. Ada sekali kesempatan ketika jarak dua baris pertahanan Atletico terlalu jauh, Iniesta berhasil menyelinap diantaranya yang diakhiri tembakan ke gawang oleh Pedro. Tapi Barcelona kesulitan mendapatkan kesempatan seperti itu lagi.

Cukup gerah tidak juga mendapatkan gol, Simeone mengubah strategi timnya. Kali ini dia ingin Atletico menekan lewat sisi kiri. Pelatih asal Argentina ini menukar posisi dua winger-nya dengan Arda Turan ke kiri dan Koke ke kanan. Dengan menekan lewat kiri, Atletico mengandalkan kombinasi Villa, Arda Turan dan Felipe Luiz untuk menekan sisi kanan Barcelona. Tapi kombinasi ini tidak terlalu efektif, Atletico mudah kehilangan bola di sisi kiri dan situasi ini memberikan momentum buat Barcelona melakukan counter attack di sisi kanan pertahanan Atletico yang relatif kosong. Tercatat Alba, Iniesta, Pedro dan Fabregas menyuplai tujuh crossing dari sisi ini dan menghasilkan tiga peluang berbahaya untuk Barcelona.

Babak Kedua

Di babak kedua ada beberapa perubahan yang dilakukan kedua pelatih. Diego Simeone mengetahui swap posisi antara Arda Turan dan Koke membawa dampak buruk di akhir babak pertama, dan dia memutuskan keduanya kembali ke posisi awal. Sedangkan Tata Martino langsung berinisatif memasukkan Messi yang menggantikan Iniesta.

Keluarnya Iniesta membuat Fabregas sekarang mengisi posisi gelandang kiri dan Messi menempati role aslinya sebagai false 9. Di awal babak Messi mencoba menusuk dari sisi kanan dan berhasil mendapatkan satu peluang. Tapi itu hanya sekali, selebihnya dia kembali ke tengah dan akhirnya senasib dengan Fabregas sebelumnya yang terjebak rapatnya channel antara dua defensive line Atletico.

Terkait:  Indonesia U23 1 vs 0 Brunei U23: Garuda Muda Masih Kesulitan Menyelesaikan Serangan

Atletico Madrid sendiri semakin intensif untuk melakukan high up pressing, mencoba lagi memaksa pemain Barcelona melakukan kesalahan di areanya sendiri seperti di awal babak pertama. Atletico mendapat sedikit keuntungan dengan digantikannya peran Iniesta oleh Fabregas, seperti diketahui sebelumnya jika Iniesta adalah satu-satunya pemain bebas Barcelona di tengah ketika menerima pressing. Fabregas tidak sebagus Iniesta dalam menempatkan posisi ataupun menahan bola. Atletico sempat tiga kali beruntun memotong passing ke depan Barcelona dan juga berhasil mengkreasikannya jadi peluang.

Masuknya Neymar menggantikan Alexis Sanchez membuat Pedro sekarang beroperasi di kanan. Pergantian ini tidak memberikan perubahan positif bagi Barcelona karena mereka masih memainkan skema yang sama. Perubahan yang signifikan oleh Tata Martino adalah ketika Sergi Roberto masuk menggantikan Pedro. Ketika menyerang, Sergi tetap memainkan role Pedro sebagai winger kanan. Tapi ketika bertahan, Sergi memposisikan diri di tengah menemani Xavi dan Fabregas. Dengan tambahan satu pemain di tengah, Barcelona berhasil meredam pressing Atletico dan memaksakan hasil seri sampai peluit akhir.

Kesimpulan

Menyenangkan melihat bagaimana Diego Simeone memberikan variasi cara bermain kepada Atletico dibandingkan pertemuan sebelumnya. Pressing agresif yang dilakukan berhasil membuat Barcelona terlihat inferior sepanjang laga, kecuali di 15 menit akhir babak pertama. Tapi harus juga diakui jika Pique dan Mascherano bermain dalam level kelas wahid untuk menghentikan Diego Costa. Tidak kaget jika Pique yang akhirnya menjadi man of the match.

Barcelona bisa disebut kehilangan kontrol atas pertandingan ini. Dimana area permainan tergantung bagaimana cara Atletico menyusun skema bertahan. Tata Martino tidak mempunyai modal mumpuni untuk merebut kembali kontrol, walaupun itu setelah menurunkan kedua bintangnya, Messi dan Neymar. Atletico seharusnya mendapatkan lebih dari sekedar hasil imbang, tapi walaupun tidak dalam form terbaik, Barcelona tetaplah lawan yang sulit ditaklukkan.

Apa Pendapatmu?