List of feeds URL

Arab Saudi 1 – 0 Indonesia: Bertahan, Bertahan, Kebobolan Dan Kalah

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Timnas Indonesia harus kembali menelan kekalahan dari Arab Saudi. Lawatan ke Dammam dalam rangkain akhir kualifikasi pra Piala Asia 2015 Australia, gagal dimanfaatkan untuk menambah poin ataupun memperbaiki peringkat FIFA yang sebelumnya dijadikan target.

Pertandingan kali ini menjadi tanda awal era kembalinya pelatih Alfred Riedl menukangi Timnas. Dengan pergantian pelatih sekali lagi, selama pra Piala Asia ini tercatat Timnas bergantian dikomandoi empat pelatih: Nil Maizar, Rahmad Darmawan, Jacksen F. Tiago dan yang terakhir Alfred Riedl.

Kembalinya pria asal Austria ini terasa spesial karena diharapkan bisa membawa kembali euforia gemilangnya Timnas di ajang AFF Cup 2010 lalu. Beberapa pemain andalan sang pelatih pun kembali dipanggil memperkuat tim, diantaranya seperti Firman Utina, Cristian Gonzales, Hamka Hamzah, Zulkifli Syukur dan M. Ridwan.

Masuknya muka-muka lama ini sebelumnya menimbulkan beberapa spekulasi akan formasi yang akan dipakai. Asisten Widodo C. Putro sempat menyebutkan akan memakai 4-4-2, sebelum diralat lagi setelah tiba di Arab Saudi dengan 4-2-3-1. Ketika susunan starting line-up keluar, yang tampak di atas kertas agak berbeda, Timnas akan memakai 4-3-3. Namun ketika pertandingan berlangsung yang tampak di lapangan Riedl menyusun timnya lebih mirip 6-3-1.

Starter yang ditampilkan agak mengejutkan karena beberapa pemain penting di era Riedl sebelumnya tidak diturunkan. Gonzales digantikan Greg Nwokolo dan diapit Ferdinand Sinaga di kiri serta Zulham Zamrun di kanan. Di tengah tidak ada nama Firman atau Bustomi, pemain yang dipilih kelihatannya yang lebih diutamakan mempunyai fisik bagus daripada bertipe passer untuk mendikte lini tengah. Trio Maitimo, Emanuel Wanggai dan Ahmad Jufrianto bertugas mengawal empat bek di belakangnya.

Dengan susunan ini tidak kaget jika akhirnya Timnas memilih bertahan daripada bertarung di tengah. Tapi yang mengejutkan adalah bagaimana Riedl memposisikan dua wingernya yang sangat ke belakang. Sementara Arab Saudi sendiri memakai 4-4-2 dengan double pivot yang dalam serta mengandalkan kombinasi winger dan fullback untuk menyokong dua striker di depan. Walaupun begitu, fullback Arab Saudi terlihat tidak begitu Agresif naik. Sepertinya pelatih Juan Ramón López Caro lebih mengutamakan keseimbangan daripada skor besar.

Terkait:  Pressing Game: Indonesia U19 vs Myanmar U19

Pendekatan Timnas

Sejak peluit awal laga, Timnas memilih menunggu rival di areanya. Defence low block dengan dua fullback, Zulkifli dan Novan Setya rapat dengan duet bek tengah. Ahmad Jufrianto dan Wanggai tetap dekat dengan backline, sedangkan Maitimo coba menekan double pivot Arab Saudi. Dengan rapatnya backfour, Timnas memiliki proteksi sangat baik terhadap duet striker lawan dalam situasi 4 vs 2. Sedangkan untuk menutup dua winger lawan, Timnas memilih memberikan tugas itu ke Ferdinand dan Zulham.

Dampak dari positioning dua sayap Timnas ini adalah Greg jadi seorang diri di depan ketika melakukan counter attack. Greg cukup cerdik mencari ruang untuk menerima bola, tapi menghadapi tiga, empat atau bahkan lima pemain lawan sekaligus sangat tidak ideal. Maitimo yang menjadi pemain terdekatnya juga bukan tipe pemain yang memiliki kecepatan dalam skema serangan balik. Kondisi ini kita dapati selama 90 menit dan tidak ada serangan yang menemui sasaran.

Masalah Arab Saudi

Kombinasi Timnas yang drop deep, memakai enam pemain untuk menyusun backline, tidak perlu susah build-up attack dengan langsung mencari Greg jika menguasai bola, membuat Arab Saudi sedikit frustasi. Hal itu membuat defence Timnas sedikit sekali melakukan transisi baik itu secara vertikal maupun horizontal, yang akhirnya membuat pertahanan sangat solid. Belum lagi pemilihan pemain dengan postur bagus di tengah sangat membantu menghalau crossing yang masuk.

 

Juan Ramón López Caro pun terhitung lambat membaca situasi, atau bisa juga disebut kurang jeli. Dua winger terlalu lama di flank daripada memberikan peran itu untuk fullback, sedangkan dirinya masuk ke tengah menemani striker. Mereka hanya coba menggedor memakai empat pemain, sedangakan Timnas bisa menumpuk delapan pemain di dalam kotak penalti. Kehati-hatian tim berjuluk elang hijau ini tidak menghasilkan apa-apa sampai Timnas menggantikan Zulham dengan Firman Utina. Masuknya Firman menggeser Maitimo yang sekarang mengisi posisi Zulham, tapi pergantian role ini kurang berjalan mulus. Ketika Novan berusaha naik melakukan pressing, Maitimo kurang bisa membaca ini seperti yang dilakukan Zulham, yang akhirnya menjadi awal gol kemenangan Arab Saudi oleh Muwallad.

Terkait:  Seedorf Dan Masalah Yang Akan Dihadapinya Di Milan

Masalah Timnas

Taktik ultra defensive yang dipakai Timnas akhirnya gagal memaksakan hasil imbang. Saya tidak tahu dimana letak hal positif yang diperoleh tim Garuda dari kesempatan langka melawan tim di luar ASEAN hanya dengan bertahan total, apalagi Timnas tidak lagi terbeban apapun.

Sayang sekali Alfred Riedl menolak bernostalgia dengan kehebatan tim lamanya ketika menyerang. Laga ini juga meruntuhkan pondasi yang dibangun Jacksen F. Tiago yang berani adu otot dan taktik ingin menekuk China di kandangnya ataupun ingin mengalahkan Irak walaupun sudah pasti tersingkir. Perlawanan yang dilakukan tim Rahmad Darmawan atas lawan yang sama di GBK pun jauh lebih positif daripada hanya menyerang dengan satu pemain seperti ini.

Kesimpulan

Jadi mana yang harus dievaluasi, bertahan sembilan pemain yang masih kebobolan atau menyerang dengan satu pemain yang gagal mencetak gol?

2 Responses to Arab Saudi 1 – 0 Indonesia: Bertahan, Bertahan, Kebobolan Dan Kalah

  1. Frank Suhaimin says:

    Mas, saya ingin request analisis taktik gak? Saya punya video pertandingan sepakbola dan saya minta tolong mas menganalisis dan dapat di kirimkan hasil analisanya ke email saya?

Apa Pendapatmu?