List of feeds URL

Analisa Pertahanan Juventus Vs Real Madrid: Lebih Lambat Lebih Baik

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Juventus sukses mengamankan jatah laga kandang dengan mengandaskan Real Madrid dalam leg pertama semifinal Liga Champion Eropa. Skor tipis 2-1 jadi hasil akhir dari game yang cukup ketat di area tengah, yang juga tidak terlalu banyak peluang yang tersaji.

Tuan rumah mendapat keuntungan dengan hampir bisa memainkan seluruh pemain terbaiknya. Hanya Paul Pogba yang tidak bisa diturunkan oleh Max Allegri dalam laga ini. Sedangkan sang tamu yang juga juara bertahan turnamen, lebih sial karena tidak bisa diperkuat dua pemain pentingnya, Karim Benzema dan Luka Modric.

Sejak peluit awal Madrid tidak bisa menemukan bentuk permainan terbaiknya. Tempo yang mengalir di lapangan relatif lambat dan situasi ini cenderung lebih cocok buat Juventus daripada untuk Madrid. Tidak mengejutkan jika tim zebra tampil nyaman dan berhasil unggul di menit awal.

Walaupun di akhir babak pertama Madrid berhasil menyamakan skor, tidak ada tanda kepanikan atau pun gelagat inferioritas dari tuan rumah setelahnya. Madrid berusaha menaikkan tempo setelah mencetak gol, tapi cara bertahan Juventus membuat tempo tetap lambat. Madrid kembali dipaksa merasa tidak nyaman dan akhirnya harus kebobolan lagi dan kalah di akhir laga.

Gaya Menyerang Real Madrid

Walaupun beberapa pemain kunci cedera, Carlo Ancelotti tidak mengubah cara bermain timnya, baik itu ketika menyerang atau pun bertahan. Di beberapa game terakhir, cara yang sama masih dipakai di La Liga dan hasilnya positif. Madrid tetap tajam dan sukses mengekor pemuncak tabel, Barcelona, untuk menjaga jarak poin.

Jika dilihat dari cara menyerang, Madrid menjadi salah satu tim dengan variasi menyerang paling komplit saat ini. Selain itu, setiap variasi serangan yang mereka punya juga kualitasnya sulit ditandingi tim lain.

Madrid bisa mencetak gol mudah dari counter attack, memanfaatkan kelebihan kecepatan ekstra para pemain depannya. Cara ini merupakan turunan dari tim warisan pelatih sebelumnya, Jose Mourinho. Tapi Ancelotti menyempurnakan dengan memakai dua pemain tetap di depan ketika bertahan, untuk menajamkan serangan balik.

Jika lawan memakai high up pressing, Los Galacticos juga tidak sungkan build up dari kiper atau mengontrol serangan dari area sendiri. Ketika di fase ini, tiga penyerang konstan menantang offside line, dengan berusaha berlari lebih cepat dari bek lawan untuk menyambut umpan dari tengah yang ditempatkan di area kosong di belakang backline. Cara ini musim lalu memakan korban Bayern Munchen di semifinal Liga Champion.

Jika lawan memutuskan drop deep, bertahan dalam di area sendiri, Madrid akan menggedor lewat kedua sisi sayap. Winger dan fullback melakukan kombinasi bergantian mengisi flank dan half space. Sedangkan gelandang tengah berusaha menghubungkan dua flank dengan satu atau dua umpan cepat, berharap lawan tertinggal ketika defensive block mereka lambat melakukan transisi horizontal.

Dari flank, serangan biasa diakhiri crossing, untuk memanfaatkan keunggulan fisik para striker. Atau juga tembakan di luar box setelah winger melakukan cut inside, dengan memaksimalkan akurasi tembakan jarak jauh Cristiano Ronaldo atau Isco. Walaupun area kosong sudah sempit, Madrid juga masih akan memaksa memakai through pass ke pelari-pelari yang ada jika lawan memilih menahan offside line di depan box.

Terkait:  Membedah China Bagian 2: Melihat Lebih Dekat Gelandang Bertahan China

Madrid juga tidak luput mempunyai senjata dengan memanfaatkan second ball jika crossing yang diluncurkan dimentahkan lawan. Dua gelandang tengah selalu siap melepaskan tendangan jarak jauh jika clearence lawan jatuh di dekat mereka.

Hampir semua fase serangan Madrid mengandalkan kecepatan dengan banyaknya pemain beratribut runner. Selain akurasi umpan cepatnya bagus, pergerakan tanpa bola juga dilakukan dengan cepat. Sulit bagi pemain bertahan lawan melakukan double up jika serangan lawan terlalu cepat. Oleh karena itu skema serangan Madrid sangat efektif.

Juventus Meredam Madrid

Madrid milik Ancelotti jauh lebih komplit daripada milik Mourinho. Tidak mengagetkan juga jika tim ini lebih sukses dari tim sebelumnya. Tidak banyak tim yang bisa meredam brutalnya Madrid ketika menyerang. Namun di laga yang dihelat di Juventus Stadium ini, ternyata tuan rumah berhasil melakukannya dengan sangat elegan.

Allegri menitik beratkan fokus kepada kecepatan umpan dan pergerakan pemain Madrid. Dia benar-benar berusaha membuat lawannya memainkan game lambat agar lebih mudah diredam. Desain pertahanan disiapkan mantan pelatih AC Milan dan Cagliari ini untuk beberapa fase agar situasi yang diharapkannya terjadi di lapangan.

Fase pertama yang disiapkan yaitu ketika Madrid berusaha menyusun serangan dari kiper atau ketika mereka berhasil merebut bola di area sendiri. Juventus melakukan high press di area lawan. Tapi berbeda dengan skema high press milik Bayern atau Barcelona, La Vecchia Signora cukup lunak melakukannya.

1430884377875

Tidak terlalu spesifik siapa harus melakukan marking terhadap siapa. Strategi Juventus ini memang tidak ditujukan untuk sedini mungkin merebut bola di area lawan, namun lebih untuk memperlambat Madrid mendorong bola ke depan. Karena pressing tidak ketat ini juga pemain Madrid masih sering memiliki opsi umpan horizontal, jadi mereka juga tidak repot cepat melakukan umpan panjang ke depan. Tempo otomatis menjadi lambat dan target objektif Allegri tercapai di fase ini.

Fase kedua ketika bola yang dikuasai Madrid mendekati garis tengah. Situasi menjadi sedikit kompleks di fase ini karena para striker Madrid sekarang bisa diakses dengan umpan secara langsung. Allegri juga merasa perlu mengubah formasi yang dipakai agar pendekatannya bisa berjalan.

1430890117693 1430890145100

Juventus menyerang dengan formasi 4-3-1-2, tanpa memakai winger dan mengharapkan lebar serangan dari agresifitas dua fullback. Tapi ketika pertahanan mulai dalam, formasi berubah menjadi 4-4-2 semi flat. Arturo Vidal yang sebelumnya di depan Andrea Pirlo, bergerak turun dan keduanya akan semakin berdekatan. Sedangkan dua central midfielder didorong jadi lebih melebar, berganti peran selayaknya winger.

Modifikasi ini dilakukan dengan maksud agar serangan Madrid yang mulai kerap memakai flank di fase ini bisa dicover. Madrid bisa memindah bola ke flank, tapi untuk memaksa terus menusuk masuk tidak lah gampang. Fullback Juventus akan selalu dengan agresif berusaha menutup sayap Madrid secara vertikal, dengan langsung berada di depan sang lawan, bukan di samping. Sedangkan transformasi satu central midfielder Juve yang menjadi winger, secara natural yang akan berfungsi menutup lawan secara horizontal.

Menutup flank saja tidak lah cukup, karena bola bisa saja dikirim langsung ke depan. Allegri tidak membuat defensive block timnya langsung drop ke belakang di fase ini, karena dia juga tetap ingin pertahanannya rapat dan membuat tempo Madrid tetap lambat. Tapi pendekatan ini bisa beresiko jika Madrid coba mengeksploitasi ruang di belakang backline, seperti yang dipaparkan sebelumnya, yang menjadi salah satu senjata mematikan sang juara bertahan.

Terkait:  Inggris 1 - 2 Italia: Prandelli Tahu Semua Rencana Hodgson

Solusi dari Allegri yaitu walaupun mengawali dengan defensive line agak tinggi, mereka tidak memakai jebakan offside. Setiap pemain belakang harus waspada akan pergerakan forward lawan, jika mereka mulai lari untuk bersiap menyambut bola yang ditempatkan di belakang backline. Setiap bek Juventus wajib tetap di depan penyerang Madrid dan haram jika sampai dalam posisi sejajar. Sentuhan pertama bola juga harus oleh mereka, bukan oleh pemain Madrid.

Di awal Madrid beberapa kali ingin mencoba menyerang memakai cara ini. Tapi karena kali ini tidak efektif dan justru bola jadi terlepas, setelahnya mereka enggan memakainya lagi. Hasilnya Madrid pun jadi harus memutar bola lebih lama di tengah, sebelum benar-benar bisa masuk area lawan dengan bola yang masih lengket di kaki.

Fase bertahan terakhir yaitu jika Juventus benar-benar harus drop deep di sekitar kotak penalti sendiri. Di fase ini kecepatan Madrid sudah bukan ancaman bagi si Nyonya Tua karena area yang ada cukup sempit dan jebakan offside pun tetap tidak dipakai. Ancaman tersisa menjadi lewat crossing dan pergerakan dari sayap yang diakhiri tembakan.

1430893511881 Screenshot_2015-05-07-08-39-43

Untuk mengantisipasi crossing, Allegri memakai dua antisipasi sekaligus. Yang pertama dengan mencegah agar crossing jangan sampai terjadi. Fullback yang dekat dengan bola bisa sangat melebar di flank, walaupun relatif harus berjauhan dengan bek tengah. Cara ini mirip dengan pendekatan Diego Simeone di Atletico Madrid. Mereka bertugas jangan sampai crossing dilakukan. Jika pun harus terjadi, sebisa mungkin tidak dari posisi terlalu dalam agar jarak crossing semakin jauh.

Antisipasi crossing kedua yaitu tetap  menjaga superioritas jumlah pemain di dalam box. Allegri menginstruksikan agar Andrea Pirlo dan winger di flank jauh juga ikut masuk ke box. Jika crossing benar-benar terjadi, minimal ada lima pemain Juventus, yang seringkali hanya bertarung dengan dua atau tiga pemain Madrid di kotak 16 meter.

statszone

Dalam catatan statistik, Madrid sempat meluncurkan 29 crossing, termasuk freekick dan cornerkick. Terhitung hanya dua kali yang menemui sasaran dan lainnya terbuang percuma. Selain Juve selalu superior di dalam box, mayoritas posisi crossing yang tidak terlalu dalam, lebih memudahkan pemain tuan rumah menghalaunya. Dua crossing yang akurat dilakukan di posisi yang ideal.

Untuk mencegah ancaman dari winger yang melakukan dribble ke tengah dan melalukan shoting, Allegri memakai satu winger terdekat dengan bola untuk membantu fullback di flank. Satu elemen tambahan lagi yaitu Vidal akan memilih sisi terdekat dengan bola jika harus sejajar dengan Pirlo untuk melapisi pertahanan dari ancaman ini.

Di akhir pertandingan, Allegri coba mengunci kemenangan dengan berganti memakai 3-5-2. Stefano Sturaro digantikan pemain internasional Italia, Andrea Barzagli. Walaupun formasi berganti, eksekusinya masih sama dengan sebelumnya karena Juventus relatif bertahan cukup dalam dan mengundang Madrid melakukan crossing. Satu bek ekstra yang baru masuk tidak memberi kesempatan Madrid untuk berkutik.

Terkait:  Tiga Lapis Pertahanan Atletico Madrid Dan Pragmatisme Diego Simeone

Tidak Sempurna

Pemilihan taktik yang dilakukan Allegri bisa dikatakan brilian. Di pertemuan kedua tim ini sebelumnya musim lalu, Juventus yang masih dilatih Antonio Conte tidak berkutik atas Madrid yang relatif pemainnya sama. Waktu itu Conte memilih memakai 4-3-3 yang akan jadi 4-5-1 ketika bertahan. Conte tidak berusaha memperlambat tempo dan Madrid tetap bisa bermain dengan nyaman.

Walaupun performa Bianconeri sangat bagus dan taktik milik Allegri berhasil, bukan berarti di laga ini mereka tidak memiliki kelemahan. Tidak ada sistem di sepakbola yang tidak memiliki kelemahan. Semua hanya masalah waktu sebelum para rival membacanya.

Allegri yang mengkonsentrasikan pemain di kedua flank, sebenarnya membuat area tengah relatif kosong. Seperti di prosesi gol Madrid yang diawali tusukan Isco di area tengah. Defensive shape Juventus langsung panik antara menutup area tengah atau flank. Untungnya Isco yang atribut dribbling-nya aduhai tersebut lebih sering beroperasi di kiri daripada di tengah.

Kosongnya area tengah juga memudahkan Toni Kroos menghubungkan kedua flank. Positifnya, Allegri sudah dari awal membuat defensive shape-nya sangat melebar melalui positioning dua fullback. Sekali lubang ini jadi masalah dalam prosesi sebelum tandukan James Rodriguez menghantam mistar. Karena cepatnya aliran bola horizontal Madrid, dua fullback Juve tidak sempat bergerak melebar dan defensive block terpaksa narrow, menyempit ke tengah. Beruntung momen ini tidak sampai membuat mereka tertinggal.

1430894078662

Ada kelemahan lain tapi lebih ke personal error. Leonardo Bonucci sempat tertinggal mengawal gerakan lari Ronaldo dan dia terpaksa memasang offside trap yang akhirnya gagal. Beruntung tembakan sang pemain terbaik dunia masih melenceng walaupun sudah 1 vs 1 dengan Gianluigi Buffon. Patrice Evra juga melakukan error serupa terhadap Gareth Bale di kiri sebelum momen tandukan James menerpa mistar.

Peluang Di Leg Kedua

Walaupun menang, Juventus kurang beruntung karena harus merelakan Madrid mendapat gol away. Selisih satu gol di situasi ini tidak menjadikan peluang Juventus lebih dari 50% karena leg kedua harus dihelat di Santiago Barnebeu.

Ancelotti pastinya akan melakukan analisa kekalahan ini dan celakanya buat Juventus, fase knockout seperti ini adalah taman bermain miliknya. Hal paling awal yang mungkin akan dilakukan Don Carlo adalah bagaimana caranya untuk memaksakan game berlangsung dengan tempo cepat, karena ini adalah separuh masalah timnya kali ini.

Ada peluang juga Allegri akan memakai jurus parkir bus dari awal. Tapi saya tidak yakin itu adalah cara yang tepat untuk melangkah ke final.

Apa Pendapatmu?