List of feeds URL

Alasan Kenapa AFC Asian Cup Tidak Semenarik Biasanya

Author: Aun Rahman (twitter: @aunrrahman)

Menerima sodoran dari Azeez Haydarov, Odil Ahmedov, gelandang Uzbekistan yang saat itu bermain untuk klub Rusia, Anzhi Makhackhala, melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti, yang menghujam gawang Qatar yang dikawal oleh Qasem Burhan. Gol Ahmedov ini merupakan gol pembuka pagelaran Piala Asia 2011 di Qatar.

Kejuaraan konfederasi Asia ke-15 yang diadakan kedua kalinya di Qatar, menghasilkan Jepang sebagai kampiun setelah mengalahkan Australia di Final dengan skor tipis 1-0. Sekaligus sebagai pembuktian kualitas tim yang dianggap sebagai generasi emas Tim Nasional Sepakbola Jepang, yang berisikan Shinji Kagawa, Keisuke Honda, dan Atsuto Uchida.

4 tahun berselang, Piala Asia kini diadakan di tempat yang tak biasa, si anak baru, Australia berkesempatan untuk menyelenggarakan kejuaraan konfederasi 4 tahunan yang mempertemukan tim tim terbaik di zona konfederasi Asia menurut FIFA. Setelah resmi menjadi Anggota Asian Football Confederations pada 2006. Peraturan zona konfederasi FIFA memang agak berbeda dengan peraturan geografis pada umumnya, yang memungkinkan Australia bermain di Zona Asia.

Tetapi ada yang sedikit berbeda dengan Piala Asia yang kali ini diadakan di 5 kota besar di Australia yaitu Sydney, Melbourne,Brisbane,Canberra, dan Newcastle. akan dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana

“Apakah anda ngeh kalau dalam waktu dekat ini sedang diadakan Piala Asia di Australia?”

Kalau anda tipe orang yang sangat update bisa jadi sadar, tapi bagaimana dengan yang baru bisa buka berita ketika waktunya benar benar senggang? bisa tanya ke beberapa teman anda, apakah dia tahu sekarang ini sedang ada Piala Asia, pasti diantara kemungkinan besar menjawab “oh udah mulai ya piala asia” atau “oh iya? Wah baru tau lah, kok kurang ya gaung-gaungnya”

Terkait:  Apa Yang Terjadi Cristiano?

Ada kesan yang sedikit berbeda pada Piala Asia kali ini, tidak semenarik biasanya? Bisa jadi.

Berikut beberapa alasan mengapa Piala Asia 2015 tidak semeriah biasanya.

Australia Sebagai Tuan Rumah

Tidak ada yang salah dengan hal ini, tetapi di Australia, sepakbola belum menjadi olahraga kesukaan masyarakat, popularitas sepakbola di Australia masih kalah jauh dibandingkan rugby atau tennis, yang membuat animo penonton di negara tuan rumah sendiri masih kurang hype.

Menjadi tuan rumah sebuah event olahraga internasional, tentunya bukan untuk pertama kalinya bagi Australia, seperti yang kita tahu, Australia pernah menjadi tuan rumah olimpiade pada tahun 2000, tetapi menjadi tuan rumah event sepakbola internasional merupakan cerita lain, Australia minim sekali pengalaman terkait pengadaan event sepakbola internasional

Sekalipun prestasi Australia di tingkat Asia sudah cukup baik, Western Sydney Wanderers menjadi tim asal Australia pertama yang menjadi kampiun Liga Champions Asia 2013-2014

Kompetisi Eropa sedang memasuki Jendela Transfer

Salah satu yang membuat sepakbola menjadi lebih ramai adalah perpindahan pemain. perpindahan pemain di awal tahun lebih sering disebut sebagai transfer musim dingin, yang berlangsung dari awal hingga akhir bulan januari. Dan seperti superioritas sepakbola eropa masih menjadi patokan, karena hal tersebut maka transfer musim dingin sepakbola eropa menjadi pusat perhatian penikmat sepakbola

Memang pada kenyataanya transfer musim dingin, tidak seheboh jendela transfer pada bulan Juni, tetapi terkadang, transfer awal tahun memunculkan kejutan-kejutan transfer yang tidak diduga. Transfer musim dingin juga digunakan oleh klub klub eropa untuk memperkuat tim-nya agar bermain lebih maksimal di paruh kedua musim.

Tercatat ada beberapa transfer musim dingin yang cukup menghebohkan jagat sepakbola Eropa, yaitu Fernando Torres dari Chelsea ke Liverpool pada 27 Januari 2011, Juan Mata dari Chelsea ke Manchester United pada 24 Januari 2014, dan termutakhir diantaranya adalah keberhasilan Inter Milan mendatangkan Xherdan Shaqiri dan Lukas Podolski, tidak lupa juga kepindahan Wilfried Bony dari Swansea ke Manchester City.

Terkait:  Australia Mengangkangi Sepakbola Asia

Sepakbola Asia sedang mengalami kemunduran

Harus diakui sepakbola Asia berjalan mundur dibandingkan 5 sampai 10 tahun kebelakang. Pada Piala Dunia 2014 Brasil saja, tim perwakilan Asia luluh lantak, 4 tim perwakilan Asia menjadi juru kunci di babak penyisihan grup, Jepang, Korea Selatan, dan Iran hanya berhasil mengumpulkan 1 poin dari 3 pertandingan. Australia lebih mengenaskan lagi, tergabung di Grup B, Australia dihajar oleh kontestan lain tanpa bisa meraih satu kemenangan pun.

Hal ini merupakan kemunduran bagi sepakbola Asia yang pada tiga edisi Piala Dunia sebelumnya selalu bisa menempatkan wakilnya lolos dari babak penyisihan, bahkan pada Piala Dunia 2002, Korea Selatan berhasil menembus 4 besar, sekalipun memang ada faktor keberuntungan sebagai tuan rumah kala itu,

Ditambah fakta bahwa tidak ada lagi pemain asal Asia yang bermain di ‘klub besar’ dengan kompetensi tinggi. Jepang yang disebut sebagi Tim Terkuat Asia saat ini pun, para pemainnya seperti Shinji Kagawa di Dortmund, maupun duo milan Keisuke Honda dan Yuto Nagatomo “hanya” bermain di Tim yang performanya sedang amat menurun. Atsuto Uchida masih berusaha menyegel tempat utamanya di Schalke 04, Maya Yoshida masih saja tersingkir dari tim utama Southampton, sekalipun Dejan Lovren sudah dilego ke Liverpool. Pasca pensiunnya Park Ji-Sung, Korea Selatan terlihat amat kesulitan untuk bermain di level yang lebih tinggi. Andalan Korea Selatan saat ini Ki Sung-Yueng hanya bermain untuk Swansea City, sementara pewaris Ji-Sung, Son Heung-Min masih berusaha memaksmalkan potensi yang dimilikinya di Leverkusen.

Tidak adalagi pemain Asia seperti Park Ji-Sung ataupun Shunsuke Nakamura yang bermain di level tertinggi, bahkan Three Lungs Park tercatat sebagai pesepakbola Asia pertama yang mengangkat trofi Liga Champions Eropa pada 2008 bersama Manchester United.

Terkait:  Rudi Garcia, Julius Caesar Dan Roma Yang Baru

Tidak ada Tim Nasional Indonesia disana

Yeah, bagi kita penikmat sepakbola di Indonesia, keberadaan timnas menjadi salah satu faktor penarik kenapa mau nonton suatu kejuaraan, walaupun mungkin hasilnya selalu memilukan. Selain keinginan untuk menyaksikan pertandingan level tinggi walaupun hanya di tingkatan Asia.

Masih belum hilang tentunya dalam ingatan animo dukungan supporter bagi tim nasional sepakbola Indonesia ketika berlagai di Piala Asia 2004, bahkan ada kehebohan yang lebih besar lagi pada Piala Asia 2007, ketika itu Indonesia menjadi Tuan Rumah bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Banyak alasan lain mengapa Piala Asia edisi kali ini tampak tidak semenarik biasanya. Tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak menikmati turnamen yang digelar di Australia ini. Toh Piala Asia kali ini nyatanya memecahkan rekor turnamen tanpa hasil imbang tertinggi, yang sudah bertahan selama 85 tahun.

Saat tulisan ini dibuat, Piala Asia 2015 sudah melewati fase penyisihan grup, yang diantaranya meloloskan tim kuat Jepang, masih ada waktu untuk menikmati perkembangan sepakbola Asia, sebelum berakhir di Australia Stadium, Sydney, pada 31 Januari 2015. Asian Pride!

Apa Pendapatmu?