List of feeds URL

Akui Saja, Indonesia Memang Belum Layak

Author: Riezky Maulana (twitter: @rizmauu_)

Sekali lagi Indonesia bertemu dengan Malaysia di Piala AFF. Sayangnya Garuda Muda yang kali ini mewakili nama Indonesia tidak bisa terbang tinggi karena ditaklukkan Harimau Malaya.

Sudah sepekan lebih sejak Kamis, 12 Juli 2018 di Gelora Delta Sidoarjo dalam perebutan tiket ke Final Piala AFF U-19 Indonesia kalah. Hal yang menyedihkan adalah ketika Indonesia harus kalah 4-3 dalam drama adu pinalti. Padahal, Indonesia sempat unggul cepat di menit ke-2 lewat gol Egy Maulana Vikri. Apa daya Indonesia tidak bisa mempertahankan keunggulan, kapten Malaysia, Muhammad Syaiful berhasil menyamakan kedudukan selang 12 menit dari gol yang diciptakan oleh Egy dan memaksanya sampai ke babak adu pinalti.

Entah mengapa duel antar dua negara tetangga tersebut selalu menyisakan cerita tersendiri. Antara lain adalah kutukan Indonesia yang dalam beberapa tahun ke belakang seperti memiliki kesulitan ketika berhadapan dengan Malaysia. Untuk kategori U-19, Indonesia sudah bertemu lima kali dengan Malaysia di Piala AFF dan sayangnya belum ada yang membuahkah kemenangan. Tiga hasil seri dan dua kekalahan. Patut kita tunggu kapan rekor buruk kontra Malaysia bisa terpatahkan.

Next Year Will Be Our Year. Itu adalah kata-kata yang sering dikeluarkan oleh pendukung Liverpool ketika di akhir musim. Ketika harapan di awal musim bahwa Liverpool akan menjuarai Liga Inggris untuk menghapus puasa gelar yang sudah terlalu lama. Itu adalah frasa paling bijaksana untuk menghibur diri yang kecewa ketika ternyata sebuah ekspetasi tidak berjalan mulus sesuai dengan realita yang ada. Mungkin kalimat bijak tersebut juga sudah layak dipakai oleh para pendukung Indonesia. Entah saya tidak tahu.

Bill Murray mengatakan bahwa sepak bola selalu mengandung emosi dan fanatisme. Sifat fanatisme sepak bola adalah unik karena orang yang berada di dalamnya rela untuk membela tim kesayangannya dengan pengorbanan yang tidak kecil, baik tenaga dan dana

Terkait:  Quote: Tata Martino

Setiap tahun para pendukung timnas selalu menyuarakan aura positif ketika “Garuda” hendak mengikuti sebuah turnamen atau pun menjalani sebuah pertandingan. Ada saja hal-hal baru yang membuat kami para suporter bisa tetap mempercayai bahwa Indonesia akan kembali terbang tinggi, bahkan bisa menaklukan dunia. Coach Indra Sjafri selalu berkata, “Target Indonesia adalah masuk ke Piala Dunia.”

Sebenarnya bukan pesimis ketika mendengar ucapan tersebut, tetapi terdengar terlalu naif ketika kita hanya mengiyakan ucapan tersebut tanpa melihat realita yang ada di depan mata.

“Boleh Kalah dari Tim Manapun, Asal Tidak dari Malaysia.”

Dalam pidato kenegaraan tahun 1947, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Wikana mengatakan bahwa, sebuah hasil olahraga tidak bisa dilihat dari hasil pertandingan saja; olahraga adalah pembangunan “op lange termijn” bagi perjalanan bangsa dan negara.Olahraga harus dikembangkan secara merata dan menjadi kebiasaan (Tjakram, no. 11, 9 Februari 1947).

Dalam buku Olahraga dan Pendidikan Jasmani dalam Wajah Keutuhan NKRI (2011), Malobulu mengatakan bahwa sepakbola pada sisi sosial berperan dalam menanamkan nilai-nilai dan norma kehidupan yang patut untuk direnungkan dan diterapkan. Lebih jauh lagi, olahraga bahkan dapat menunjukan karakter dan identitas sebuah bangsa.

Konflik Indonesia-Malaysia dalam realitasnya bukan hal baru, ditelaah secara historis, konflik antara kedua negara pernah terjadi pada periode 1963-1966. Indonesia-Malaysia terlibat konflik pada masa tersebut karena dipicu oleh perbedaan perspektif keduanya terkait rencana integrasi sebagian wilayah Kalimantan Utara (Sabah, Sarawak dan Brunei) kedalam Federasi Malaysia. Menteri Luar Negeri Indonesia, Subandrio mengumumkan politik konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963.

Pada saat itu pula publik Malaysia tidak tinggal diam. Mereka menyerukan aksi Anti-Indonesia dan menyerukan Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tunku Abdul Rahman untuk menginjak Burung Garuda. Soekarno yang pada saat itu sangat marah menyuarakan sebuah gerakan yang sangat kita kenal namanya sampai sekarang, yaitu Ganyang Malaysia.

Terkait:  Terima Kasih Jose Mourinho

Kalau kita lapar itu biasa”

Kalau kita malu itu djuga biasa”

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang adjar!”

Pertemuan Indonesia dengan Malaysia di Piala Merdeka tahun 1957 merupakan awal dimana perseteruan dan persaingan dalam dunia sepakbola dimulai. Saat itu Indonesia menang dengan skor 4-2.

Perseteruan antar negara tersebut bagi saya bukan hanya sekedar sepakbola saja. Ada pengaruh politik disana, dan yang terpenting adalah sebuah gengsi. Saya yakin mayoritas masyarakat Indonesia sangat sepakat bahwa hal tersebut semata-mata karena gengsi. Kita boleh kalah dari negara mana pun. Asal tidak dari Malaysia

Pengandaian Perubahan bagi Sepakbola Indonesia

Peribahasa tuntutlah negeri sampai ke negeri cina mungkin tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Peribahasa yang memiliki perumpamaan bahwa kalian harus mencari ilmu sejauh dan setinggi-tingginya tersebut mungkin sangat cocok jika disematkan untuk induk sepakbola di Indonesia yaitu PSSI. Jika merujuk pada ucapan yang sering dilontarkan oleh pelatih Indra Sjafri, bahwa Indonesia akan masuk ke piala dunia. Saya sepakat bahwa hal tersebut sama dengan apa yang diimpikan oleh Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping.

Xi Jinping telah mempunyai ambisi untuk membawa perubahan pada ranah sepakbola Tiongkok sejak ia masih menjadi wakil presiden negara dengan penduduk terpadat di dunia tersebut. Ia mengutarakan mempunyai tiga ambisi yaitu, Tiongkok dapat lolos ke piala dunia, Tiongkok dapat menjadi tuan rumah piala dunia, dan yang terakhir adalah Tiongkok dapat menjuarai turnamen tersebut.

Dikutip dari Fox Sport Australia, sudah ada sekitar 50 poin program reformasi dan pembangunan sepakbola Tiongkok. Hal tersebut meliputi pemberantasan suap dan pengaturan skor, restrukturalisasi CFA, dan meningkatkan partisipasi pemain sepakbola di usia muda.

Terkait:  Mengontrol Tempo: Memakai Momentum Memanen Gol

Sport Powerhouse adalah bentuk perluasan dari wacana Chinese Dream era Xi Jinping. Keseriusan tersebut nampaknya bukan hanya sekedar wacana, Xi Jinping memasukan sepakbola dalam kurikulum pendidikan, dimana setiap siswa harus mendapatkan akses fasilitas dan dapat bermain sepakbola dengan nyaman. Dalam 15 tahun ke depan Tiongkok akan memiliki sekolah sepakbola sebanyak 50.000. Xi Jinping nampaknya paham peranan penting sepakbola dalam kehidupan manusia. Tujuan jangka pendek dari wacana tersebut adalah peningkatan mutu lingkungan dan operasional sistem manajemen sepakbola.

Dampaknya sudah dapat kita lihat, dimana banyak pemain beken eropa yang memberanikan dirinya untuk hijrah ke Liga Super Tiongkok. Belum lagi hal yang sempat viral ketika Sekolah Sepakbola Evergrande mendirikan sekolah sepakbola terbesar di dunia dengan luas 167 hektar.

Kembali lagi ke negara tetangga, Malaysia. Presiden Asosiasi Sepakbola Malaysia terdahulu Tunku Ismail Sultan Ibrahim menyatakan mundur karena merasa bertanggung jawab karena Timnas senior Malaysia yang tidak pernah menang sejak 2016. Ia menuliskan surat permintaan maaf resmi kepada masyarakat Malaysia. Tentu hal yang sangat baik dan perlu diapresiasi ketika ada seseorang yang dengan lapang dada mengakui kesalahannya.

Nyatanya di Indonesia tidak seperti itu. Liga carut marut, pembinaan tidak jelas, fasilitas terbengkalai, gaji klub nunggak, dan lain sebagainya. Kita sebagai penikmat hanya dipaksakan menunggu dan pasrah dengan keadaan seperti ini. Kita dipaksa menelan kenyataan semu ketika para elit dari PSSI menargetkan target tinggi. Bagaimana bisa target tersebut tercapai ketika masih banyak kekurangan di dalamnya. Maka akui saja Indonesia memang belum layak untuk unjuk gigi di pentas internasional jika situasinya masih seperti ini.

Gambar: ANTARA

Apa Pendapatmu?